Wakos Reza Gautama
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:32 WIB
Ilustrasi Seorang WNA (warga negara asing) asal Singapura yang jasadnya ditemukan dicor dan dibuang di aliran Sungai Citanduy, Bendung Menganti, Cilacap, Jawa Tengah, belakangan dikaitkan dengan dugaan lokasi kejadian pembunuhan tersebut di wilayah Kabupaten Sukabumi. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Jasad WNA asal Singapura ditemukan tewas dicor semen di Bendung Menganti, Cilacap, menjadi sorotan nasional.
  • Rumah kontrakan di Perumahan BMI 5, Cicurug, Sukabumi, diduga kuat menjadi lokasi eksekusi keji korban.
  • Penyewa rumah di Sukabumi tersebut mulai menempati properti sekitar Februari 2026, namun identitasnya tertutup bagi warga.

SuaraJabar.id - Aliran Sungai Citanduy di Bendung Menganti, Cilacap, mendadak jadi pusat perhatian nasional setelah sesosok jasad warga negara asing (WNA) asal Singapura ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tewas dan dicor semen.

Namun, siapa sangka, tabir gelap kematian pria tersebut justru diduga bermula dari sebuah rumah kontrakan sunyi di kaki Gunung Salak, Sukabumi.

Kawasan Perumahan Bumi Mutiara Indah (BMI) 5, Desa Kutajaya, Kecamatan Cicurug, sekilas tampak seperti kompleks hunian pada umumnya.

Jumat (27/3/2026) malam, suasana di sana masih nampak tenang. Anak-anak mungkin baru saja terlelap, dan lampu-lampu teras mulai berpijar di bawah langit malam yang lembap. Tidak ada garis polisi yang melintang, tidak ada penjagaan ketat.

Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan bisik-bisik mencekam tentang apa yang terjadi di Blok C40. Rumah di Blok C40 itu sempat lama tak berpenghuni.

Barulah pada Februari 2026, bertepatan dengan suasana bulan Ramadan, seorang penyewa baru datang. Rian (35), istri dari ketua lingkungan setempat, masih ingat betul saat rumah itu mulai kembali berdenyut.

"Iya, awalnya kosong. Baru ada yang ngontrak sekitar Februari kemarin, pas bulan puasa," kenang Rian dikutip dari Sukabumiupdate.com.

Sosok penghuni baru itu bak hantu. Ia ada, tapi tak benar-benar terlihat. Rian menyebutkan bahwa penyewa awal dikabarkan adalah seorang perempuan.

Namun, identitasnya buram. Tak ada ramah-tamah, tak ada perkenalan hangat sebagaimana lazimnya warga baru di lingkungan komunal.

Baca Juga: Menantang Maut di Aliran Cikaso: Ketika Jalan Rusak Memaksa Warga Cilampahan Nyebrang dengan Perahu

"Biasanya kalau orang baru dimintai KTP, tapi ini saya nggak tahu sudah kasih atau belum, soalnya memang baru banget. Ada yang bilang sudah menikah, ada yang bilang belum. Nggak jelas," tambahnya dengan nada sangsi.

Interaksi yang minim membuat warga sekitar tak menaruh curiga. Di perumahan yang dihuni oleh masyarakat dengan kesibukan masing-masing, keluar masuknya orang asing seringkali luput dari perhatian.

Hingga akhirnya, ketenangan itu pecah saat seragam cokelat kepolisian mendatangi lokasi tersebut pada Februari lalu.

Kedatangan aparat bukan tanpa alasan. Mereka sedang memburu jejak seseorang. Barulah kemudian, kepingan puzzle mulai tersambung.

Rumah di Cicurug ini diduga kuat menjadi lokasi eksekusi keji sebelum sang korban dibawa jauh ke Jawa Tengah untuk dihilangkan jejaknya di dalam semen.

"Pas itu tiba-tiba polisi datang, katanya nyari orang. Warga baru tahu dari situ kalau ada masalah," ujar Rian.

Load More