- Pantai Karanghawu dipenuhi tumpukan sampah yang mencemari keindahan alam usai libur Lebaran.
- Kondisi ini langsung direspons cepat aparat kepolisian bersama unsur terkait dan masyarakat dengan menggelar aksi bersih-bersih, pada Jumat (27/3/2026).
- Petugas gabungan turun langsung menyisir garis pantai.
SuaraJabar.id - Gelombang tawa dan keceriaan wisatawan di Pantai Karanghawu selama libur Lebaran 2026 telah surut. Namun, seiring perginya ribuan pengunjung, pesisir ikonik di Kecamatan Cisolok ini justru ditinggalkan dalam kondisi "babak belur". Bukan karena hantaman ombak, melainkan karena serbuan limbah manusia yang menodai pasir putihnya.
Karanghawu, yang selama ini menjadi primadona dan magnet keluarga untuk menghabiskan waktu bersama, kini tampak seperti "TPA raksasa".
Plastik sekali pakai, sisa makanan, hingga puntung rokok berserakan, menjadi saksi bisu betapa rendahnya kesadaran menjaga alam di tengah euforia liburan.
Pemandangan memilukan ini tak dibiarkan berlarut. Jumat (27/3/2026), sebuah pemandangan berbeda terlihat di sepanjang bibir pantai. Bukan wisatawan dengan baju renang, melainkan puluhan petugas berseragam menyisir setiap jengkal pasir.
Aparat gabungan dari Satpolairud Polres Sukabumi, BKO Satpolairud Polda Jabar, Balawista, hingga unsur Forkopimcam Cisolok bahu-membahu dalam aksi bersih-bersih massal. Dengan kantong plastik besar di tangan, mereka memunguti satu per satu jejak kotor yang ditinggalkan pengunjung.
“Kami fokus menyisir sisa sampah yang ditinggalkan pengunjung selama libur panjang. Aksi ini melibatkan berbagai unsur sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem pesisir,” ujar Kasat Polairud Polres Sukabumi, AKP Dadi, saat ditemui di sela-sela kegiatan di Pantai RTH Citepus, Sabtu (28/3/2026).
Angka yang dihasilkan dari aksi bersih-bersih ini cukup mengejutkan. Dari satu kawasan saja, petugas berhasil mengumpulkan sedikitnya 50 kantong besar berisi sampah organik maupun anorganik. Ironisnya, tumpukan sampah ini mulai menggunung hanya dalam hitungan hari, tepatnya sejak H+1 Lebaran.
AKP Dadi menyayangkan perilaku sebagian wisatawan yang seolah menganggap pantai sebagai tempat sampah raksasa. Baginya, pemandangan ini adalah cerminan masih rendahnya etika berwisata di masyarakat.
"Sampah ini mayoritas ditinggalkan sejak H+1. Dari Karanghawu dan sekitarnya saja, terkumpul sekitar 50 kantong besar. Ini sangat kita sayangkan," ungkapnya dengan nada prihatin.
Baca Juga: Misteri di Balik Tembok BMI 5: Menelusuri Tempat Eksekusi WNA Singapura yang Jasadnya Dicor
Bagi para petugas, aksi ini bukan sekadar urusan estetika atau agar pantai terlihat cantik kembali di kamera. Lebih dari itu, ini adalah upaya penyelamatan darurat bagi ekosistem laut yang kian terancam oleh mikroplastik.
Sembari memungut sampah, petugas juga tak henti-hentinya memberikan edukasi kepada wisatawan yang masih berada di lokasi. Mereka diingatkan bahwa keindahan Karanghawu bukan milik pribadi, melainkan warisan yang harus dijaga untuk masa depan.
"Kami mengimbau masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap limbah yang mereka hasilkan sendiri. Jangan biarkan keindahan pesisir Sukabumi kembali ternoda," pungkas Dadi.
Artikel ini telah tayang di website sukabumiupdate.com media jaringan Suara.com dengan judul "Usai Libur Lebaran, Pantai Karanghawu Dikepung Sampah"
Berita Terkait
-
Misteri di Balik Tembok BMI 5: Menelusuri Tempat Eksekusi WNA Singapura yang Jasadnya Dicor
-
Menantang Maut di Aliran Cikaso: Ketika Jalan Rusak Memaksa Warga Cilampahan Nyebrang dengan Perahu
-
Bandung "Dikepung" 1.800 Ton Sampah Pasca-Lebaran: Pagi Diangkut, Sore Muncul Lagi
-
Drama Subuh di Tanjakan Habibi: Jalur Wisata Sawarna Lumpuh Total Akibat Pohon Tumbang
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
6 Fakta Wacana Pajak Kendaraan Dihapus di Jabar: Ganti Sistem Jalan Berbayar ala Dedi Mulyadi
-
Kisah Nenek Ikah di Sukabumi, Selamat dari Dentuman Mencekam Saat Hendak Salat Magrib
-
Tunduk ke Pemprov Jabar, Pemkab Bogor Pastikan Hanya Tambang Legal yang Boleh Beroperasi
-
Pajak Kendaraan Akan Dihapus? Dedi Mulyadi Wacanakan Skema Jalan Berbayar di Jabar
-
Merinding Lihat Karya APFI 2026, Bupati Bogor: Ini Lorong Sejarah Perjalanan Bangsa