Wakos Reza Gautama
Jum'at, 27 Maret 2026 | 13:10 WIB
Ilustrasi Pemerintah Kota Bandung mencatat kenaikan volume sampah yang cukup signifikan selama masa libur Lebaran Idulfitri 2026. Kenaikan timbunan sampah baru mencapai 20 persen. [suara.com]
Baca 10 detik
  • Volume sampah Kota Bandung naik 20 persen menjadi 1.800 ton per hari selama libur Lebaran 2026, memicu kelelahan petugas.
  • Wali Kota Farhan sebut ada fenomena tumpukan berulang meskipun jadwal pengangkutan telah dinormalkan pasca-Lebaran.
  • Pemkot Bandung mempercepat penguatan fasilitas pengolahan sampah internal seperti insinerator untuk mengurangi beban TPA Sarimukti.

SuaraJabar.id - Di balik gemerlap lampu kota dan keriuhan wisatawan yang memadati sudut-sudut Kota Kembang selama libur Lebaran 2026, terselip sebuah persoalan klasik yang kian meruncing yakni "gunung" sisa perayaan.

Pemerintah Kota Bandung mencatat lonjakan volume sampah yang cukup mengkhawatirkan. Tak tanggung-tanggung, timbulan sampah baru merangkak naik hingga 20 persen.

Jika pada hari biasa Bandung menghasilkan rata-rata 1.500 ton sampah, kini angka itu membengkak menjadi 1.800 ton setiap harinya sejak H-1 hingga H+4 Idulfitri.

Wali Kota Bandung, M. Farhan, mengungkapkan bahwa kenaikan ini menciptakan ritme kerja yang melelahkan bagi petugas di lapangan.

Ia menyebut ada fenomena "tumpukan berulang" yang membuat wajah kota sulit terlihat bersih secara permanen meski jadwal pengangkutan sudah kembali normal.

"Ada fenomena unik sekaligus menantang di lapangan. Sampah yang sudah numpuk di pagi hari dan diangkut petugas pada sore harinya, besok paginya sudah muncul lagi di lokasi yang sama. Tumpukan baru terus bertambah karena tingginya sisa konsumsi masyarakat selama libur ini," ujar Farhan, Jumat (27/3/2026).

Menyadari bahwa sekadar mengangkut sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti bukanlah solusi jangka panjang, Farhan kini tengah mempercepat penguatan infrastruktur pengolahan sampah di dalam kota.

Bandung kini sedang memperkuat "benteng" pertahanannya di wilayah Ciwastra dan Gedebage. Strateginya tidak main-main.

Yakni menambah jumlah petugas pemilah dan pengolah sampah (Gaslah), meningkatkan kapasitas mesin pembakar sampah ramah lingkungan (insinerator), hingga memperluas area pengolahan sampah organik.

Baca Juga: Angkot dan Andong 'Diliburkan' di Jalur Mudik, Efektifkah? Begini Jawaban Gubernur Dedi Mulyadi

“Antisipasinya, kami sedang menambah kapasitas untuk GasLah dan insinerator. Selain itu, pengolahan sampah organik di area Ciwastra dan Gedebage terus kami genjot kapasitasnya,” jelas Farhan.

Langkah-langkah taktis ini diambil bukan tanpa alasan. Pemkot Bandung berambisi untuk memutus rantai ketergantungan pada TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat yang kapasitasnya kian terbatas.

Dengan mengolah sampah langsung di sumbernya atau di fasilitas internal kota, beban lingkungan diharapkan bisa berkurang signifikan.

Namun, teknologi dan penambahan petugas hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah kesadaran warga dan wisatawan.

Tanpa perubahan pola konsumsi dan disiplin dalam membuang sampah, fenomena "pagi diangkut, besok muncul lagi" akan terus menjadi drama tahunan di Kota Bandung.

Artikel ini telah ditayangkan di website harapanrakyat.com media jaringan Suara.com dengan judul "Volume Sampah di Kota Bandung Naik 20 Persen Selama Libur Lebaran 2026"

Load More