- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Cirebon menciptakan lapangan kerja bagi warga lokal dengan pendapatan di atas UMR.
- Juru masak SPPG Banjarwangunan, Adha Sidik Hidayat, menerima gaji lebih dari Upah Minimum Kabupaten Cirebon.
- Manfaat MBG meluas, mendukung siswa kurang mampu sekaligus menggerakkan pertumbuhan UMKM di sekitar lokasi SPPG.
SuaraJabar.id - Hadirnya Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya bermanfaat bagi siswa sekolah, tetapi juga memberikan pekerjaan yang layak bagi masyarakat.
Adha Sidik Hidayat, juru masak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banjarwangunan 1 Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon mengakui program ini mampu menyerap tenaga kerja dengan pendapatan layak.
"Jadi dilihat dari relawan sendiri yang asalnya menganggur sudah pasti mendapat pekerjaan yang layak. Ada beberapa relawan kami sebagai orang tua tunggal (single parent) dengan keberadaan MBG ini sangat membantu untuk menafkahi anaknya," ungkap Adha dalam keterangannya yang diterima oleh media pada Minggu (29/3/2026).
Sebagai relawan SPPG, ia sendiri mengaku menerima pendapatan diatas UMR Kabupaten Cirebon setiap bulannya.
"Patokan dari BGN untuk relawan itu Rp 100-200 ribu/hari. Untuk chef rata-rata Rp 200 ribu per hari. Tinggal dikalikan jumlah hari kerja. Ini cukup layak karena UMK di Cirebon hampir Rp 3 juta, jadi sudah melebihi UMK Cirebon," jelas Chef yang sudah bekerja sejak Juni 2025 ini.
Sebagaimana diketahui, setiap SPPG memiliki 47 relawan, terdiri dari divisi persiapan, divisi masak, divisi pemorsian, cuci ompreng, driver, OB dan security. Lalu ditambah 3 orang dari SPPG, yaitu Kepala SPPG, Ahli Gizi dan Akuntan.
Menurut Adha, keseluruhan pekerja itu berasal dari warga lokal. Hal itu karena BGN mewajibkan rekrutmen pekerja harus dari warga sekitar.
"Memang diwajibkan oleh BGN bahwa yang bekerja di SPPG tersebut wajib warlok (warga lokal)," jelasnya.
Menurutnya, program MBG ini manfaatnya luas sekali, mulai dari penerima manfaat khususnya siswa yang kurang mampu. Kemudian juga menghidupkan UMKM di sekitar SPPG.
Baca Juga: Ikan Nila Mentah Berdarah di Meja Siswa: Skandal MBG di Sukabumi Berujung Sanksi Tegas
"UMKM di sekitar juga tumbuh berkembang. Jangankan supplier yang berhubungan langsung dengan pengadaan bahan baku di dapur, warung sekitar pun juga berkembang karena relawan itu setiap hari membeli kopi, makanan atau sebagainya di sekitarnya," paparnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
Terkini
-
Persib vs PSM Makassar: 6 Poin Penting Pesan Pak Haji Umuh untuk Jaga Tahta Klasemen
-
'Satu Foto Sejuta Cerita' Dedie A. Rachim Terpukau oleh Karya Jurnalistik di APFI 2026
-
Tanpa Bojan Hodak dan Dua Pilar Asing, Bos Umuh Tuntut Persib Tetap Bermental Juara
-
Terungkap! Pembunuhan Pelajar di Bantaran Citarum: Pisau Dapur Sudah Disiapkan Pelaku
-
Demi Motor, Kakak Kelas di Karawang Tega Habisi Nyawa Pelajar 15 Tahun Secara Berencana