Wakos Reza Gautama
Senin, 30 Maret 2026 | 10:25 WIB
Ilustrasi Goalpara Tea Park. Pembangunan kawasan wisata Goalpara Tea Park dituding jadi penyebab banjir di wilayah Goalpara, Desa Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Minggu petang (29/3/2026). [traveloka]
Baca 10 detik
  • Pada Minggu (29/3/2026) petang, luapan air deras menutupi aspal di Goalpara, Sukabumi, melumpuhkan aktivitas dan merendam sebuah bengkel motor.
  • Petugas P2BK menduga banjir ini akibat Goalpara Tea Park menghilangkan resapan air karena pengaspalan masif di area tersebut.
  • Kepala Desa Cisarua membantah, menyatakan banjir disebabkan alih fungsi lahan perkebunan dan sampah yang menyumbat drainase masyarakat.

SuaraJabar.id - Laman media sosial Facebook warga Sukabumi mendadak riuh pada Minggu petang (29/3/2026). Sebuah rekaman amatir memperlihatkan pemandangan yang tak biasa sekaligus mengerikan.

aspal hitam di wilayah Goalpara, Desa Cisarua, mendadak hilang tertutup air yang meluap deras, persis menyerupai aliran sungai di tengah pemukiman.

Bukan sekadar genangan, arus air yang kuat itu melumpuhkan aktivitas warga. Bahkan, sebuah bengkel motor di pinggir jalan tak kuasa menahan luapan air yang merangsek masuk, merendam mesin-mesin dan peralatan di dalamnya.

Namun, di balik musibah "banjir musiman" ini, muncul sebuah perdebatan panas mengenai siapa yang harus bertanggung jawab.

Dua sudut pandang berbeda mencuat, menciptakan teka-teki. apakah ini dampak pembangunan wisata modern, ataukah murni kelalaian menjaga alam?

Tudingan ke Arah Goalpara Tea Park

Yuda Ahmad Fahrezza, Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Sukaraja, secara blak-blakan menyebut adanya hukum sebab-akibat. Baginya, wajah Goalpara mulai berubah sejak kehadiran kawasan wisata Goalpara Tea Park.

“Benar, itu banjir musiman. Ada sebab, ada akibat. Sejak ada Goalpara Tea Park, banjir ini mulai terjadi. Saya di P2BK sejak 2018, jadi hafal betul polanya,” ujar Yuda dengan nada tegas.

Yuda menyoroti hilangnya area resapan air akibat pembangunan yang masif. Lahan yang dulunya mampu menyerap air hujan kini tertutup rapat oleh lapisan beton dan aspal.

Baca Juga: Mencekam! Detik-detik Pikap Hantam Fortuner dan Datsun di Lingkar Selatan Sukabumi

"Dulu jalannya batu, sekarang diaspal dan dibeton. Otomatis aliran air tidak ada yang menahan, tidak ada resapan di sana," tambahnya.

Ia bahkan menekankan bahwa sebelum wisata tersebut berdiri, laporan yang masuk ke mejanya hanyalah soal longsor, bukan banjir.

Bantahan Sang Kades: "Jangan Salahkan Wisata"

Namun, tudingan itu ditepis mentah-mentah oleh Kepala Desa Cisarua, Arie Yanwar Ismunadi. Menurutnya, fenomena tersebut hanyalah "banjir selewat" atau limpasan air yang dipicu oleh intensitas hujan yang ekstrem.

Arie membela keberadaan Goalpara Tea Park dengan menyebut bahwa sistem drainase di kawasan wisata tersebut justru sudah digarap dengan sangat maksimal. Baginya, akar masalah ada di tempat lain.

“Sumber utamanya bukan dari sana (Goalpara Tea Park). Lihat saja ke atas, banyak perkebunan teh yang dibabat dan beralih fungsi menjadi lahan hortikultura. Itulah yang membuat air turun tanpa penghalang,” sanggah Arie.

Load More