- Dai kondang berinisial MSL, pimpinan pesantren di Cicantayan, diburu Polres Sukabumi sebagai tersangka pelecehan enam santriwati.
- Pelecehan terjadi sejak 2021 hingga 2026 menggunakan modus pengobatan dan janji ilmu spiritual terhadap korban 14-15 tahun.
- Korban bungkam karena tekanan psikologis terkait nama baik pesantren, kini polisi terus melakukan pengejaran terhadap pelaku.
SuaraJabar.id - Di depan khalayak, sosok MSL dikenal sebagai dai kondang yang suaranya berwibawa saat menyampaikan pesan-pesan suci.
Sebagai pimpinan sebuah pondok pesantren di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, ia memegang kunci kepercayaan ratusan orang tua yang menitipkan masa depan anak-anak mereka.
Namun kini, wibawa itu rontok. Alih-alih berada di atas mimbar, MSL kini tengah berlari dari kejaran hukum.
Namanya telah masuk dalam daftar pencarian aparat kepolisian setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pelecehan terhadap enam santriwatinya yang masih di bawah umur.
Satreskrim Polres Sukabumi kini tengah melakukan "maraton" pengejaran. MSL diduga melarikan diri sesaat setelah praktik bejatnya tercium publik.
“Lagi upaya pengejaran, kita maraton. Sudah lama kita tetapkan tersangka, tinggal kita amankan,” tegas Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, Senin (30/3/2026).
Kasus ini menyisakan luka mendalam. Berdasarkan penelusuran, tindakan asusila ini bukanlah kekhilafan sesaat, melainkan sebuah pola yang tertata rapi sejak tahun 2021 hingga awal 2026.
Korbannya adalah remaja-remaja putri berusia 14 hingga 15 tahun, usia di mana mereka seharusnya mendapat perlindungan penuh di lingkungan pendidikan agama.
Modus yang digunakan MSL tergolong sangat licin. Ia memanfaatkan otoritas spiritualnya untuk menjerat korban. Kuasa hukum korban, Rangga Suria Danuningrat, membeberkan bahwa pelaku kerap menggunakan dalih pengobatan hingga janji pemberian 'ijazah' ilmu spiritual.
Baca Juga: Misteri Mr X di Sangrawayang Terpecahkan! Ternyata Wisatawan Depok yang Hanyut dari Banten
“Awalnya bujuk rayu, ada juga yang modusnya pengobatan, lalu ada ijazah supaya dapat ilmu,” ungkap Rangga.
Ironisnya, predator ini tidak hanya beraksi di lingkungan pesantren di Cicantayan, namun juga diduga membawa korbannya ke lokasi lain di kawasan Kadudampit.
Mengapa aksi ini terkunci rapat selama lima tahun? Jawabannya adalah tekanan psikologis. MSL diduga piawai memainkan rasa bersalah dan ketakutan para korbannya. Ia membungkus kejahatannya dengan label "menjaga nama baik lembaga".
“Pelaku bilang jangan bilang ini aib, khawatir pesantrennya buruk. Tidak ada ancaman kekerasan fisik, tapi tekanan agar korban tutup mulut demi marwah pesantren,” tambah Rangga.
Kini, dinding-dinding pesantren yang seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi para santriwati itu, justru menjadi saksi bisu trauma yang sulit terobati.
Seiring dengan pengejaran MSL, polisi juga terus mendalami kemungkinan adanya korban-korban lain yang masih takut untuk bersuara.
Tag
Berita Terkait
-
Misteri Mr X di Sangrawayang Terpecahkan! Ternyata Wisatawan Depok yang Hanyut dari Banten
-
Mr X di Tengah Lautan: Nelayan Sangrawayang Temukan Jasad Mengapung 1 Mil dari Bibir Pantai
-
Mencekam! Travel Terjun ke Jurang 10 Meter di Sukabumi: Ibu dan Balita Menangis di Dasar Lembah
-
Misteri Jasad Tertelungkup di Warudoyong Terungkap
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
1.584 Personel Pasukan Gabungan Gelar Apel Kebangsaan di Bogor, Ada Apa?
-
BRI Consumer Expo 2026 Hadir di Summarecon Bogor, Tawarkan Promo KPR dan KKB Menarik
-
Kebakaran Kawah Wadon Gunung Gede Capai 5,8 Hektare, Pemadaman Masih Berlangsung
-
Inklusi Keuangan Makin Kuat, BRImo Raih 49,7 Juta Pengguna