Wakos Reza Gautama
Kamis, 02 April 2026 | 13:37 WIB
Ilustrasi Dedi Kusnandar. Dedi Kusnandar, gelandang senior yang kini memperkuat Persib Bandung, kembali mengenang masa-masa indahnya saat dipercaya menjadi kapten Timnas Indonesia U-23. Kenangan itu sangat berharga, karena ia pernah menghadapi klub-klub besar Eropa, termasuk AS Roma dan Lazio. [Foto: Persib]
Baca 10 detik
  • Dedi Kusnandar mengenang pengalaman berharga saat memimpin Timnas Indonesia U-23 melawan AS Roma dan Lazio di Eropa.
  • Dedi berhasil mendapatkan jersey milik legenda sepak bola Francesco Totti setelah pertandingan persahabatan di Italia berakhir.
  • Pengalaman menghadapi klub elite Serie A tersebut menjadi pelajaran penting bagi Dedi dalam meningkatkan kualitas permainan sepak bolanya.

SuaraJabar.id - Di salah satu sudut kediaman Dedi Kusnandar, tersimpan selembar kain yang bukan sekadar pakaian olahraga biasa. Jersey itu berwarna merah marun khas klub ibu kota Italia, dengan nama punggung yang sanggup membuat bulu kuduk pecinta sepak bola merinding. Totti.

Bagi gelandang senior Persib Bandung yang akrab disapa Dado ini, jersey tersebut adalah saksi bisu dari malam paling magis dalam karier sepak bolanya. Sebuah kenangan yang kembali ia ceritakan dengan binar mata penuh kebanggaan, Rabu (1/4/2026).

Jauh sebelum ia menjadi pilar tak tergantikan di lini tengah Maung Bandung, Dedi adalah pemimpin muda yang dipercaya mengemban ban kapten Timnas Indonesia U-23.

Kala itu, skuad Garuda Muda terbang ke Eropa dalam sebuah tur ambisius yang mempertemukan mereka dengan raksasa-raksasa Serie A Italia.

Stadion legendaris dan atmosfer sepak bola Eropa yang dingin namun membara menjadi ruang kelas bagi Dedi dan kawan-kawan. Mereka tidak hanya bertanding, tapi "bersekolah" mental di hadapan klub-klub elite seperti Lazio dan AS Roma.

“Saya masih ingat betul bagaimana rasanya berdiri di lapangan menghadapi tim sebesar AS Roma dan Lazio. Itu bukan sekadar pertandingan, tapi pelajaran tentang mental dan kualitas sepak bola dunia yang sebenarnya,” kenang Dedi.

Pertandingan melawan AS Roma menjadi puncak dari segala emosi. Di atas rumput hijau, Dedi harus berhadapan langsung dengan Francesco Totti, sang "Pangeran Roma" sekaligus ikon abadi sepak bola Italia.

Usai peluit panjang dibunyikan, saat pemain lain mungkin masih terpukau dengan suasana stadion, Dedi mengumpulkan keberaniannya.

Ia melangkah mendekati Totti. Ada rasa ragu yang sempat menyelinap, apakah sang legenda sudi melirik pemain muda dari Asia Tenggara?

Baca Juga: Hanya Jadi Objek Foto Tapi Tak Pernah Dibantu: Rumah Nyaris Roboh Dihuni Belasan Orang di Bandung

“Setelah pertandingan selesai, saya dekati Totti. Saya bilang ingin tukar jersey. Jujur, awalnya agak ragu, tapi ternyata dia merespons dengan sangat baik. Dia berikan jersey-nya dengan ramah. Itu jadi salah satu kenangan paling berharga dalam hidup saya,” tutur Dedi sambil tersenyum lebar.

Bagi Dedi, jersey Totti bukan sekadar koleksi untuk dipamerkan. Setiap kali ia melihat kain tersebut, ia teringat bagaimana perjuangan anak-anak muda Indonesia yang berani menantang dunia.

Pengalaman berduel dengan Lazio pun memberinya perspektif baru tentang cara menjaga tempo permainan dan disiplin taktik yang luar biasa rapat.

“Jersey itu saya simpan baik-baik. Itu jadi pengingat bahwa mimpi besar bisa dicapai dengan kerja keras. Kami belajar banyak dari cara mereka mengatur serangan dan bertahan,” jelasnya.

Kini, sebagai pemain senior di Persib, Dedi berharap tongkat estafet pengalaman itu bisa diteruskan. Ia bermimpi melihat lebih banyak pemain muda Indonesia yang mendapatkan kesempatan serupa, berdiri sejajar di lapangan hijau dengan bintang dunia, tanpa rasa takut.

“Sepak bola Indonesia punya potensi besar. Semoga ke depan, semakin banyak pemain muda kita yang bisa merasakan pengalaman berharga seperti yang kami alami dulu,” pungkasnya.

Load More