- Jaksa menuntut hukuman mati terhadap Ririn Rifanto atas pembunuhan berencana satu keluarga di Kelurahan Paoman, Indramayu, Agustus 2025.
- Terdakwa terbukti melakukan pembantaian sadis terhadap lima orang korban, termasuk anak dan bayi, tanpa adanya hal meringankan.
- Jaksa menjerat terdakwa menggunakan pasal pembunuhan berencana serta undang-undang perlindungan anak karena tindakannya menimbulkan keresahan publik yang luas.
SuaraJabar.id - Dunia hukum Indonesia kembali dihebohkan dengan tuntutan pidana maksimal bagi pelaku kejahatan luar biasa.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Indramayu secara resmi menuntut Ririn Rifanto dengan hukuman mati atas kasus pembunuhan satu keluarga yang terjadi di Kelurahan Paoman.
Pembunuhan berencana yang menewaskan lima orang sekaligus ini dinilai sebagai salah satu tindakan paling sadis yang pernah terjadi di wilayah hukum Jawa Barat. Berikut adalah 6 fakta penting di balik tuntutan mati tersebut:
1. Membantai Satu Keluarga Termasuk Bayi 8 Bulan
Kekejaman terdakwa Ririn Rifanto melampaui batas kemanusiaan. Dalam aksi pembantaian yang terjadi pada Agustus 2025 lalu, terdapat lima korban jiwa dalam satu garis keturunan yang dihabiskan nyawanya. Korban tersebut adalah:
- Sahroni (75) – Kakek
- Budi (45) – Ayah
- Euis (40) – Ibu
- RK (7) – Anak
- Seorang bayi laki-laki yang masih berusia 8 bulan.
2. JPU: Perbuatan Dilakukan Secara Sadis dan Terencana
JPU Eko Supramurbada menegaskan bahwa seluruh unsur dalam Pasal 340 KUHP (Pembunuhan Berencana) telah terpenuhi. Terdakwa dinilai memiliki niat matang untuk "membinasakan" satu keluarga tersebut tanpa menyisakan satu pun saksi hidup di lokasi kejadian.
“Perbuatan terdakwa telah membinasakan satu keluarga secara sadis,” tegas Eko dalam persidangan di PN Indramayu, Kamis (18/6/2026).
3. Tidak Ada Hal yang Meringankan bagi Terdakwa
Baca Juga: Habisi Satu Keluarga Termasuk Bayi 8 Bulan di Indramayu, Terdakwa Ririn Dituntut Hukuman Mati
Berdasarkan pertimbangan hukum JPU, tidak ditemukan satupun alasan pemaaf maupun hal yang meringankan hukuman bagi Ririn. Sebaliknya, jaksa menemukan rentetan faktor yang memberatkan, di antaranya:
- Menimbulkan penderitaan trauma mendalam bagi keluarga besar korban.
- Sempat melarikan diri ke luar daerah setelah kejadian.
- Berupaya menghilangkan barang bukti di lokasi.
- Memberikan keterangan yang berbelit-belit selama masa persidangan.
4. Dijerat Pasal Berlapis.
Secara teknis hukum, terdakwa Ririn dijerat dengan konstruksi hukum yang sangat kuat. Selain Pasal 340 KUHP (atau Pasal 459 UU No. 1 Tahun 2023), JPU juga memasukkan Pasal 80 ayat (3) UU Perlindungan Anak. Hal ini berkaitan dengan keberadaan dua korban yang masih di bawah umur, termasuk sang bayi, yang menjadikannya kasus kekerasan terhadap anak dengan dampak kematian.
5. Perbedaan Tuntutan dengan Terdakwa Lain
Dalam perkara yang sama, terdapat terdakwa kedua bernama Priyo Bagus Setiawan. Namun, Priyo mendapatkan tuntutan yang lebih ringan, yakni 20 tahun penjara. Perbedaan mencolok ini didasarkan pada fakta persidangan yang menunjukkan bahwa peran Priyo hanya bersifat membantu atau turut serta, namun bukan sebagai eksekutor utama atau otak perencana tunggal sebagaimana peran Ririn Rifanto.
6. Menimbulkan Keresahan Publik yang Luas
Berita Terkait
-
Habisi Satu Keluarga Termasuk Bayi 8 Bulan di Indramayu, Terdakwa Ririn Dituntut Hukuman Mati
-
23 Kampus Bersatu, BEM SI Guncang DPRD Jabar dengan 7 Tuntutan
-
Pemprov Jabar Beri Subsidi Rp2,7 Juta Bagi Siswa yang Gagal Masuk Negeri
-
6 Fakta Terbaru Pemeriksaan Wabup Syafrudin, Kasus Korupsi Tunjangan DPRD Indramayu
-
Kejati Jabar Segera Layangkan Panggilan Kedua untuk Wabup Indramayu Syafrudin
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
6 Fakta Tuntutan Mati Terdakwa Ririn, Pembunuh Satu Keluarga di Indramayu
-
Habisi Satu Keluarga Termasuk Bayi 8 Bulan di Indramayu, Terdakwa Ririn Dituntut Hukuman Mati
-
Bupati Sukabumi Pecat Kepala Desa Babakanjaya Terkait Dugaan Penyimpangan APBDes
-
Tak Cukup Satu Tersangka, Pengacara Minta Polres Sukabumi Kota Tahan BHW dan Buru Penerima Video
-
Mahasiswa Bandung Demo Kritik MBG dan Ekonomi, Dedi Mulyadi: Enggak Ada Problem, Sudah Biasa