- Pemkot Bogor membangun fasilitas PSEL di Galuga dan Kayumanis untuk mengolah 2.500 ton sampah menjadi energi listrik.
- Proyek ini bertujuan mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan bahan bakar fosil.
- Pembangunan PSEL di Kayumanis menghadapi penolakan warga akibat minimnya sosialisasi mengenai dampak kesehatan serta kenyamanan lingkungan sekitar.
"Jadi kita memiliki satu kebijakan yang holistik melalui PSEL, dimulai dari pemilahan sampah di hulu, kemudian reduce, reuse, dan recycle. Sampah yang benar-benar sudah tidak memiliki nilai ekonomis itulah yang seharusnya masuk ke dalam PSEL," katanya.
Penolakan Warga Kayumanis Akibat Minim Sosialisasi
Meski visi PSEL sangat ambisius, implementasinya di Kayumanis menghadapi tantangan serius. Gelombang penolakan dari masyarakat setempat, terutama emak-emak, semakin panas. Terlihat banner bertuliskan 'WARGA RW11 MENOLAK KERAS PEMBANGUNAN PSEL...!' terbentang di lingkungan permukiman RW 11 Kampung Lamping.
Warga menyuarakan kekhawatiran mendalam akan dampak buruk terhadap kesehatan dan kenyamanan lingkungan, potensi bau tidak sedap, pencemaran, dan menilai lokasi padat penduduk tidak tepat.
Mereka merasa minim mendapatkan sosialisasi yang memadai dan bahkan "dikelabui" karena awalnya mengira akan dibangun Wisma Atlet, baru tahu PSEL dari media.
Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor, Ahmad Aswandi, turut mendesak Pemkot agar sosialisasi dilakukan lebih gencar dan menyeluruh, tidak hanya kepada tokoh, tetapi juga seluruh masyarakat terdampak.
Ia menegaskan bahwa PSEL adalah teknologi modern yang harus disosialisasikan untuk melawan stigma "bau sampah".
Pemkot Bogor sendiri, melalui Wakil Wali Kota Jenal Mutaqin, menawarkan solusi unik dengan mengajak perwakilan warga melihat langsung sistem pengelolaan sampah modern di China untuk membuktikan bahwa PSEL bisa beroperasi tanpa bau dan seperti mal. Namun, waktu dan mekanisme studi banding ini belum rinci.
Situasi ini menekankan pentingnya transparansi informasi, dialog partisipatif, dan pendekatan humanis dari Pemkot Bogor.
Baca Juga: Puncak HJB ke-544: Sentul City Sukses Fasilitasi Turnamen Minisoccer Antar Jurnalis se-Bogor Raya
Keberhasilan proyek PSEL sebagai solusi strategis tidak hanya bergantung pada teknologi dan anggaran, tetapi juga pada kepercayaan dan dukungan penuh dari masyarakat yang terdampak langsung.
Berita Terkait
-
Puncak HJB ke-544: Sentul City Sukses Fasilitasi Turnamen Minisoccer Antar Jurnalis se-Bogor Raya
-
Kios Puncak Cianjur Digusur, Dedi Mulyadi Guyur Modal Usaha Rp10 Juta per Pedagang
-
Istana Bogor Digerebek Mahasiswa Unpak, Suarakan Mosi Tidak Percaya ke Pemerintah
-
Kejagung Segel Gudang Motor Listrik Senilai Rp1 Triliun di Bogor
-
Bawang Putih Jarang Tumbuh di Dataran Rendah, PTPN I Pilih Gunung Mas Puncak untuk Trial
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
PSEL Bogor: Solusi Energi Bersih vs Kekhawatiran Warga Kayumanis
-
BRI Peduli Siapkan PMI Cirebon Jadi Penggerak Ekonomi Lokal Usai Berkiprah di Luar Negeri
-
Dedi Mulyadi: Buron Taufik Hidayat Datangi Gedung Pakuan Jam 4 Pagi Pakai Helm dan Masker
-
Jawab Misterius Soal Mariano Peralta, Bos Persib: Rahasia, Saya No Comment
-
BRI Apresiasi Kebijakan Dana SAL, Fokus Perluas Akses Pembiayaan Sektor Riil