- Profesor Erlina Burhan mengimbau warga terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memakai masker luar ruangan.
- Warga disarankan menyiram pekarangan dan mengelap rumah menggunakan air untuk mencegah abu beterbangan kembali.
- Kelompok rentan harus mengurangi aktivitas luar ruangan guna menghindari risiko infeksi saluran pernapasan parah.
SuaraJabar.id - Warga yang berada di kawasan terdampak erupsi gunung berapi dianjurkan untuk segera menjalankan langkah-langkah perlindungan diri guna menekan dampak buruk paparan abu vulkanik terhadap kesehatan.
"Abu ini membuat saluran napas menjadi teriritasi. Butirannya sangat halus, jadi bisa terhirup sampai ke dalam paru dan memicu batuk serta sesak," ujar Dokter Spesialis Paru FKUI, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, dilansir dari Antara.
Guru Besar Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI ini juga mengingatkan bahwa paparan abu halus tersebut tak hanya memicu iritasi, tetapi juga meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan pada sebagian orang.
Dia menganjurkan warga untuk memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan di daerah yang terdampak persebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
"Kenakan masker ya bila beraktivitas di luar rumah. Sebaran abu Anak Krakatau kini mencakup sebagian Jakarta, Banten dan Jawa Barat," katanya.
Apabila masker yang dipakai sudah kotor, maka sebaiknya segera diganti dengan yang baru.
Dokter Erlina menyampaikan, masker yang sudah kotor sebaiknya dibasahi sebelum dibuang guna mencegah abu yang menempel berterbangan lagi di udara.
Selain itu, dia mengemukakan langkah-langkah yang dapat dijalankan untuk mengurangi paparan abu vulkanik di rumah dan lingkungan sekitar.
Pekarangan dan lingkungan rumah sebaiknya disiram air sebelum disapu guna mencegah debu dan abu vulkanik bertebaran di udara.
Baca Juga: 6 Fakta Warga Bogor 'Panic Buying' Masker Imbas Erupsi Krakatau: Stok Apotek Ludes
"Hal yang sama juga berlaku untuk bagian dalam rumah. Kaca jendela, kusen, daun pintu, sebaiknya dibasahi lebih dulu baru dilap," kata dr. Erlina.
"Hindari (penggunaan) kemoceng dan sapu kering, karena keduanya hanya memindahkan abu dari permukaan ke udara yang kita hirup," ia menambahkan.
Dokter Erlina mengatakan bahwa sebagian besar masalah kesehatan yang terjadi akibat paparan abu vulkanik bisa membaik dengan sendirinya setelah persebaran abu vulkanik berhenti, jadi tidak perlu terlalu panik dalam menghadapinya.
Gangguan yang lebih berat seperti luka pada mata atau masalah paru-paru, menurut dia, biasanya terjadi pada individu yang terus-menerus menghirup udara berdebu tanpa pelindung dalam jangka panjang, bukan orang terpapar hujan abu selama beberapa hari.
Kendati demikian, ia menyampaikan pentingnya penerapan upaya pelindungan bagi individu rentan seperti anak-anak, warga lansia, ibu hamil, dan orang dengan asma atau penyakit pernapasan menahun.
Orang-orang yang lebih rentan mengalami masalah kesehatan akibat paparan abu vulkanik seperti mereka, menurut dia, lebih baik mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memakai pelindung saat keluar rumah.
Berita Terkait
-
6 Fakta Warga Bogor 'Panic Buying' Masker Imbas Erupsi Krakatau: Stok Apotek Ludes
-
8 Bandara Tutup Dampak Abu Anak Krakatau, Bandara Kertajati Disiagakan Jadi Alternatif
-
Dampak Erupsi Anak Krakatau, Pemprov Jabar Memberlakukan PJJ dan Siagakan Layanan Kesehatan
-
Saat Abu Vulkanik Menyebar, Boni Hargens Soroti Respons Cepat Polri
-
Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Bandung, Bandara Husein Sastranegara Ditutup Sementara
Terpopuler
- Cara Menghilangkan Iklan yang Tiba-Tiba Muncul di Layar HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- 4 Moisturizer Skintific untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Wajah Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Stok Beras Bulog Jabar Capai 623,9 Ribu Ton, Aman hingga Panen Raya 2027
-
Titik Api Tak Terdeteksi, Petugas Fokus Dinginkan Tiga Blok Gunung Ciremai
-
Dedi Mulyadi Kunci Gerbang SMA-SMK Negeri di Jabar saat KBM, Ini Alasannya
-
Kader PSI Kabupaten Bogor Desak Jokowi Masuk Jajaran Pengurus DPP
-
Viral Video Pria Diduga Pamer Alat Kelamin di Warung Nasi Gunung Putri Bogor