Diduga Trauma Rumah Sakit, Wawan Game Belum Bisa Minum Obat-obatan

Chandra Iswinarno | Stephanus Aranditio
Diduga Trauma Rumah Sakit, Wawan Game Belum Bisa Minum Obat-obatan
Iwan Setiawan (mengenakan masker) dititipkan di Yayasan Jamrud Biru. (Suara.com/Tio).

Suhartono menduga Wawan masih trauma dengan perawatan medis.

Suara.com - Pasien gangguan jiwa karena kecanduan bermain game Iwan Setiawan alias Wawan (32) yang dirawat di Yayasan Jamrud Biru, Mustika Jaya, Bekasi, Jawa Barat diduga masih trauma dengan perawatan medis.

Pemilik Yayasan Jamrud Biru, Suhartono mengatakan Wawan susah diberi obat-obatan medis saat kali pertama datang di tempatnya pada April 2019 lalu. Ia menduga Wawan masih trauma dengan perawatan medis.

"Ini saya coba kasih obat paracetamol saja dimuntahin lagi, badannya agak anget. Tadi makan disuapin mau-mau aja buka mulut, artinya dia masih bisa bedain rasa, mungkin trauma dulu di rumah sakit saya juga kurang paham," kata Suhartono saat ditemui Suara.com, Jumat (19/7/2019).

Diketahui berdasarkan keterangan kakak ipar Iwan, Encu saat dihubungi Suara.com, Wawan pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Cisarua Kawasan Lembang, Bandung, Jawa Barat selama 28 hari.

Di tangan Suhartono, Wawan dan pasien lainnya memang tidak mendapatkan perlakuan medis khusus untuk gangguan jiwa. Suhartono lebih menggunakan penyembuhan tradisional seperti pijat dan penyembuhan batin melalui pengajian.

"Pertama Wawan diberikan ramuan berupa kelapa muda, kemudian terapi totok, rukiah, dan pijat yang diberikan untuk wawan. Itu seminggu dua kali agar perubahannya membaik," terangnya.

Terapi itu perlahan membuahkan hasil. Wawan tak lagi buang hajat sembarangan, berat badannya juga naik dari 23 kilogram menjadi 43 kilogram. Namun interaksi sosialnya masih belum menunjukkan perkembangan, ketika berkumpul dua jempolnya tak henti bergerak layaknya orang yang sedang memainkan gawai di depan dadanya.

Kepala selalu menunduk dan sorot matanya fokus tertuju ke kedua jempolnya meski tak ada gawai di tangannya. Wawan diketahui sering bermain game console PlayStation.

Setelah lulus dari SMP, Wawan tidak melanjutkan ke SMA. Dia bersama kakaknya dibawa ke Bandung untuk mengikuti kursus menjahit. Selama tiga tahun di Bandung, Iwan kembali lagi ke Tasikmalaya, saat itulah keluarga menyadari Wawan mengalami gangguan kejiwaan.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS