facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Menilik Konsep Ketahanan Pangan Ala Pondok Pesantren Al-Ittifaq

Pebriansyah Ariefana Sabtu, 25 Juli 2020 | 14:28 WIB

Menilik Konsep Ketahanan Pangan Ala Pondok Pesantren Al-Ittifaq
Konsep Ketahanan Pangan Ala Pondok Pesantren Al-Ittifaq. (Suara.com/Aminuddin)

Kampung Ciburial, Alam Endah, Rancabali, Kabupaten Bandung.

SuaraJabar.id - Pondok pesantren menjadi tempat untuk menimba ilmu agama memang terdengar biasa saja, tapi bagaimana dengan pondok pesantren yang memupuk santrinya untuk belajar ilmu pertanian, selain ilmu agama. Hal itulah yang diterapkan oleh pondok pesantren Al-Ittifaq, yang berlokasi di kampung Ciburial, Alam Endah, Rancabali, Kabupaten Bandung.

Terlihat empat santri sibuk memilah sayur-sayuran di ruang pengemasan milik Al-Ittifaq, pada pertengahan Juni 2020. Tepat di tengah ruangan pengemasan terdapat meja berbentuk huruf 'U'. Di atas meja menumpuk aneka sayuran baik yang sudah dikemas ataupun yang berada dalam keranjang sayuran.

Celemek berwarna hitam terpasang menutupi bagian dada hingga lutut para santri. Selain menggunakan sarung tangan berbahan karet dan masker, kopiah pun tampak melekat menutupi bagian atas kepala santri-santri itu.

Di bagian depan meja yang menghadap ke pintu masuk, salah satu santri sibuk memilah buncis yang memenuhi sebuah keranjang sayuran berukuran 60x40 cm. Di bagian kanan meja, santri lainnya, terlihat memilah dan menimbang terong ungu, sekeceng kemudian mengemasnya.

Baca Juga: Ketahanan Pangan Desa Sumurgeneng dan Wadung Tuban, Anti Lapar saat COVID

Ruang pengemasan menjadi salah satu tempat bagi sebagian santri Al-Ittifaq melakukan aktifitas sehari-hari. Biasanya, mereka bergiliran bekerja mengemas sayuran sejak pagi hari sehabis salat subuh hingga malam hari.

Ketua Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq, Agus Setia Irawan mengatakan berkebun dan beternak memang masuk dalam kurikulum pesantren. Bagi santri salaf di ponpes Al-Ittifaq, kegiatan mengaji hanya dilakukan setelah melakukan salat berjamaah lima waktu. Sisanya, mereka melakukan aktivitas pertanian.

"Sampai sekarang istilahnya bertani menjadi bagian kurikulum di pesantren salaf atau tradisional. Jadi ngajinya itu selesai ba'da salat, sisa waktunya kita gunakan untuk kegiatan pertanian, packaging, peternakan juga," kata Irawan saat ditemui Suara.com, di pesantren Al-Ittifaq, Kabupaten Bandung, Kamis (18/6/2020).

Konsep Ketahanan Pangan Ala Pondok Pesantren Al-Ittifaq. (Suara.com/Aminuddin)
Konsep Ketahanan Pangan Ala Pondok Pesantren Al-Ittifaq. (Suara.com/Aminuddin)

Santri yang tinggal disana dibagi menjadi tiga bagian. Pertama ada yang bertugas di wilayah perkebunan untuk menanam, merawat hingga memanen hasil pertanian. Kedua, ada santri yang bertugas mengolah pasca panen yang meliputi pengemasan hingga mengurus rantai distribusi. Terakhir, santri yang bertugas mengurus ternak.

Pesantren Al-Ittifaq kini diasuh oleh Kiai Haji Fuad Affandi yang merupakan generasi ketiga pendiri Ponpes Al-Ittifaq. Pesantren yang berada di kawasan dataran tinggi Alam Endah itu sudah berdiri sejak 1934.

Baca Juga: Ketahanan Pangan Indonesia Tergantung Besar Kecilnya Impor

"Awal berdirinya ponpes Al-Ittifaq adalah pesantren yang hanya fokus pada pendidikan keagamaan. Dulu namanya Ponpes Ciburial, karena masanya saat itu pada masa kemerdekaan jadi fokusnya ke perguruan silat dan keagamaan," imbuhnya.

Setelahnya, pada 1970, sepulangnya Mang Haji—panggilan Fuad, menimba ilmu dari Ponpes Lasem, Jawa Tengah, ia diberi mandat untuk meneruskan sekaligus mengganti peran bapaknya, Abah Haji Rifai sebagai pengasuh Ponpes Al-Ittifaq.

Mang Haji mulai merubah kurikulum pesantren di awal kepemimpinannya. Pemikirannya sederhana, yaitu bagaimana caranya pesantren sebagai tempat mengaji para santri bisa lebih mandiri. Kala itu, ucap Irawan, tentu bukan pekerjaan mudah bisa menghidupi puluhan santri yang belajar di pesantren Al-Ittifaq.

"Saat itu santri semakin banyak, sedangkan yang namanya pesantren apalagi salafiyah memang kita tidak mengenakan biaya, jadi orang tua mengirimkan anaknya ke pesantren, maka jadi tanggungan pesantren," bebernya.

Mang Haji memberikan contoh kepada santrinya agar bisa memaksimalkan potensi lahan yang dimiliki pesantren, untuk dijadikan tempat bercocok tanam. Kebetulan Alam Endah merupakan kawasan pertanian dataran tinggi, maka jenis sayuran dataran tinggi dipilih oleh Mang Haji kala itu.

"Konsep awalnya mah Mang Haji selalu bilang kalau bisa membuat, bisa menghasilkan sendiri kenapa harus membeli. Dari prinsip awal itu pertanian terus berkembang, luas lahan makin bertambah, keilmuan pertanian juga makin modern," katanya.

Al-Ittifaq kini memiliki luas lahan pertanian sekitar 11 hektar. Sebagian besar berada di sekitaran pondok pesantren. Al-Ittifaq bisa dibilang menjadi role model pesantren yang mandiri di sektor pangan. Untuk menghidupi santri sebanyak kurang lebih 550 orang, mereka mengandalkan hasil pertanian dan peternakan.

"Kita juga dapat hibah dari Perhutani seluas 30 hektar itu statusnya HGU, dan sedang ditanami kopi," ungkapnya.

Bahkan, akibat surplus hasil pertanian, Kopontren Al-Ittifaq bisa menjual sayuran ke pasar tradisional dan swalayan di wilayah Bandung dan Jakarta. Terkini, Al-Ittifaq mampu menjual sebanyak 63 jenis sayuran dan buah-buahan menuju pasar modern.

Per hari, Kopontren Al-Ittifaq mampu menyuplai sebanyak 3,2 ton sayuran menuju pasar dengan persentase sebanyak 60 persen menuju pasar tradisional, dan sisanya menuju swalayan, restoran, dan yang lainnya.

Butuh puluhan tahun bagi Al-Ittifaq bisa mandiri bahkan menjadi bagian kecil dalam menjaga ketahanan pangan di Indonesia. Jangkauan pasar yang mampu diakses Al-Ittifaq pun terbilang sudah semakin luas. Tingginya permintaan sayuran dari pasar, membuat Al-Ittifaq terus berevolusi menjadi semacam pemasok sayuran dengan mengandalkan jaringan Ponpes.

Konsep Ketahanan Pangan Ala Pondok Pesantren Al-Ittifaq. (Suara.com/Aminuddin)
Konsep Ketahanan Pangan Ala Pondok Pesantren Al-Ittifaq. (Suara.com/Aminuddin)

"Panjang prosesnya itu bukan proses satu atau dua tahun tapi puluhan tahun, kami bisa seperti ini," bebernya.

Irawan menjelaskan, sekarang tidak semua sayuran yang dijual ke pasar merupakan hasil cocok tanam santri Al-Ittifaq. Namun, Al-Ittifaq pun menjadi semacam offtaker dari beberapa kelompok tani hasil binaan Al-Ittifaq.

Ada 9 kelompok tani yang total berjumlah 270 petani binaan. Latar belakang petani itu merupakan alumni Al-Ittifaq yang berada di tiga daerah, meliputi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Cianjur. Kesembilan kelompok tani ini rutin mengirim hasil tani dua kali dalam sepekan ke Al-Ittifaq.

"Jadi karena ada ikatan antara kyai dan santrinya, kita tetap ada kegiatan keagamaan. Tiap malam Selasa dan malam Jumat kita ada kegiatan pengajian di pesantren. Selain mereka membawa hasil pertanian ke sini, mereka pun ngaji mingguan di sini," imbuhnya.

Toat (40 tahun), salah satu petani binaan Al-Ittifaq, mengatakan kehadiran koperasi Al-Ittifaq sangat membantu petani seperti Toat. Sebelum bergabung menjadi anggota koperasi,Toat biasanya menyalurkan hasil pertaniannya ke tengkulak dan dihargai murah. Namun, kini Toat menyalurkan komoditas hasil bertaninya menuju Al-Ittifaq dan dihargai dengan harga yang lebih layak, lantaran dia melakukan pengemasan sendiri.

Toat kini bertani di lahan miliknya sendiri dengan luas sekitar 14 tumbak. Toat memasok sekitar 6 jenis sayur-sayuran, meliputi, selada kriting, daun salam, daun pisang, wortel baby, daun pohpohan, daun papaya dan buah bit.

“Harga jualnya jauh. Saya kan packing sendiri itu per kg Rp 9.500, untuk selada kriting. Itu kan kalau di pasar tradisional juga selada kriting dijual ke bandar itu Rp. 5 ribu, tapi sekarang saya masih bisa jual lebih mahal naiknya hampir satu kali lipat,”kata Toat.

Dalam skala yang lebih luas, sejak 2019, kemarin, Al-Ittifaq mulai menjajaki kerjasama dengan 16 pesantren untuk bisa memaksimalkan potensi sektor pertanian. Targetnya, pada 2024, Al-Ittifaq dan 16 pesantren itu bisa menjadikan Indonesia sebagai poros ekonomi syariah dunia pada 2024, mendatang.

"2019, kita coba transfer of knowledge, 2020 kita bikin greenhouse di 16 pesantren, nah Al-Ittifaq tidak punya anggaran, rata-rata satu pesantren butuh modal sekitar Rp 350 juta, kita coba ngobrol ke BI departemen ekonomi keuangan syariah, mereka support," kata Irawan.

Satu di antara 16 pesantren yang melakukan kerjasama dengan Al-Ittifaq, yakni Ponpes Bahrul Ulum, Jatinagara, Ciamis. Pimpinan Ponpes Bahrul Ulum, Heri Heriyanto (45 tahun) mengatakan program itu sangat membantu memaksimalkan potensi lahan yang dimilki pesantrennya. Bahrul Ulum memiliki lahan untuk bercocok tanam seluas 3 hektar. Kini sebagian lahan itu ditanami labu madu dan aneka sayuran tipikal dataran rendah.

“Sangat menguntungkan sekali program dari BI ini. Kami benar-benar terbantu dengan adanya bantuan kerjasama dengan Al-Ittifaq, sekarang kami bisa memaksimalkan potensi lahan yang kami miliki,” kata Heri.

Rencananya, pada 2022, di 16 pesantren itu sudah memiliki gudang hasil pertanian dan selang setahun berikutnya mereka akan membangun pusat distribusi hasil pertanian di Majalengka. Maka pada 2024, mereka menargetkan sudah bisa melakukan ekspor lantaran hasil produksi pertanian sudah dalam keadaan surplus.

Konsep Ketahanan Pangan Ala Ponpes Al-Ittifaq

Tiga langkah dari pinggir kantor Koperasi Pesantren Al-Ittifaq, terdapat dua petak kolam ikan berukuran sekitar 30x40 meter. Ikan dari kolam itu biasa ditangkap oleh santri untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Berjarak sekitar 50 meter dari Kopontren, berdiri megah beberapa greenhouse milik Al-Ittifaq. Udara terasa dingin saat Suara.com berkesempatan untuk berkunjung ke salah satu greenhouse milik pesantren. Diantar oleh Muhammad Ruslan (28 tahun), salah satu santri yang bertugas di bagian perkebunan, kami melewati pemukiman warga sebelum akhirnya tiba di greenhouse milik pesantren. Tidak ada batas seperti benteng ataupun pagar antara pemukiman warga dengan bangunan pesantren.

Di bagian dalam greenhouse, berjejer memanjang bedeng yang ditanami sayuran jenis bayam Jepang dan pakcoy. Di bagian tengah terdapat enam tong berwarna biru berukuran jumbo berisi campuran air dan berbagai pupuk cair. Di pojok lainnya, ada mesin berbentuk persegi yang mampu mengendalikan penyiraman tanaman secara otomatis. Di atas mesin itu tergantung router wifi.

"Sistem irigasi dan pemberian pupuk bisa otomatis. Ini bisa dikendalikan dari jarak jauh, ada aplikasinya di handphone," jelas Ruslan.

Ruslan tampak merogoh telepon genggam dari sakunya, dan membuka aplikasi khusus dari layar telepon genggam miliknya. Rupanya, santri yang sudah mondok selama 12 tahun di Al-Ittifaq itu akan melakukan penyiraman yang bisa diakses dari telepon genggam. Sejurus kemudian, suara mesin pompa air pun terdengar, dan selang yang terpasang tepat di bagian tengah bedeng, mengeluarkan tetesan air.

Konsep Ketahanan Pangan Ala Pondok Pesantren Al-Ittifaq. (Suara.com/Aminuddin)
Konsep Ketahanan Pangan Ala Pondok Pesantren Al-Ittifaq. (Suara.com/Aminuddin)

Irawan mengatakan, Al-Ittifaq memang sudah jauh-jauh hari menggunakan teknologi pertanian modern. Tak tanggung-tanggung mentor yang melatih para santri untuk bercocok tanam pun berasal dari Belanda, tepatmya pakar senior pertanian dari organisasi nirlaba bernama PUM Netherland Senior Expert.. Selain itu Al-Ittifaq pun didampingi oleh pakar pertanian dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

"Disini sangat modern, berbasis android greenhouse kita mah. Kita kerjasama dengan Belanda itu sejak tahun 2016, jadi ahli-ahli pertanian dari Belanda, stay disini ngajar di kita, bahkan kita berkesempatan belajar di sana, menyerap ilmu pengetahuan dari mereka," ucapnya.

Menurutnya, ketahanan pangan bisa terwujud kalau ada kesinambungan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya, antara pertanian yang saling membutuhkan dengan peternakan.

Hal itu terjadi di Al-Ittifaq, dimana sayuran sisa panen yang sudah tidak layak konsumsi dijadikan sebagai pakan ternak. Sebaliknya, kotoran ternak pun diolah sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan biogas, dan sisanya menjadi pupuk untuk tanaman.

Sistem cocok tanam pun dilakukan secara permakultur dimana penanaman bermacam sayuran didesain sedemikian rupa agar terjadi kesinambungan dan stok pangan bisa tetap terjaga sepanjang tahun. Konsep ramah lingkungan pun termasuk dalam sistem permakultur.

"Pertambahan penduduk yang terjadi menjadi masalah disini, maka solusinya permakultur," ujar Irawan..

Sektor perternakan pun dilakukan dengan konsep integrated farming system. Konsep buhun itu terus dijaga oleh Al-Ittifaq dalam mengembangkan sistem pertanian yang terintegrasi dengan peternakan.

"Siklus ini tetap berjalan dari zaman dulu sampai sekarang. Konsep ini kan yang dijaga dari dulu oleh Al-Ittifaq. Makanya ngomong kemandirian ketahanan pangan ya apa ya, (bikin) bala-bala, wortel, kol, semuanya ada disini," jelasnya.

Praktisi Ketahanan Pangan dari Yayasan Odesa, Basuki Suhardiman mengatakan sistem pertanian yang digagas Al-Ittifaq tentu bisa menjadi contoh bagaimana pengentasan masalah ketahanan pangan dilakukan dari sebuah institusi keagamaan. Menurutnya, nilai ajaran Islam yang diterapkan Kang Haji, diterapkan ke dalam konsep pertanian.

"Apa yang dilakukan Al-Ittifaq itu contoh. Menurut saya pesantren yang seperti itu baru Al-Ittifaq, di Jabar. Dia punya lahan terbatas, ya udah pakai, bekas sisa makanan dijadikan pupuk untuk tanah. Itu dilakukan oleh Al-Ittifaq," tukasnya.

"Ini kan dari value Islam, jangan ada yang mubazir itu teman setan, Kyai Fuad selalu bilang seperti itu," tambahnya.

Konsep yang diusung Al-Ittifaq memang sangat umum sekali dimana munculnya ide untuk bertani saat kondisi pesantren terhimpit masalah stok pangan.

"Ini sebetulnya sangat lumrah sekali, dimanapun terjadi seperti itu. Kita berbicara sebuah peradaban dimulai dari pertanian dulu, kemudian ada masalah baru, maka teknologi pertanian berkembang, dan terbentuklah tatanan sosial," kata Basuki.

Makanya, kata dia, sebetulnya untuk skala Indonesia, rawan pangan sangat kecil kemungkinannya bisa terjadi, mengingat potensi alam di Indonesia sangat melimpah.

Di saat pandemi virus Corona seperti saat ini, ketahanan pangan bisa saja terganggu, lantaran terputusnya pasokan karena ruang gerak dibatasi. Namun, Basuki menilai salah satu solusi yang bisa diterapkan yaitu dengan sistem tani pekarangan. Konsep pertanian terpadu seperti yang diterapkan Al-Ittifaq, bisa pula dipraktekkan dengan skala yang lebih kecil, yakni di halaman rumah.

"Memang harus dirubah maindset kita dimana yang namanya bertani harus tanahnya yang luas, padahal tidak begitu kalau pakai sistem tani pekarangan. Diurus dengan konsisten waktu 3 jam sekali, itu bisa menghasilkan penghasilan tambahan, bahkan bisa lebih," imbuhnya.

Kepala Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Bandung, Tisna Umbara mengatakan Al-Ittifaq menjadi pesantren percontohan bagi pesantren lain dalam mengembangkan pertanian modern.

“Jadi kalau Al-Ittifaq mah sudah menjadi contoh pesantren. Kan itu unik ya ada kegiatan selain mengaji ada juga kegiatan pertanian yang luar biasa,” kata Tisna.

Pertanian Al-Ittifaq Tidak Banyak Terdampak Pandemi Covid-19.

Hampir seluruh sektor bisa dibilang lesu akibat Pandemi virus Corona. Namun, tidak dengan kegiatan pertanian di Al-Ittifaq. Irawan mengatakan wabah itu tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian yang dijalankan pesantren, di sektor pertanian.

"Kalau aktivitas secara di lapangan tidak berubah, sosial distancing di kebun pasti jauh-jauh. Proses pasca panen disini kita dinilai oleh Albert Heijn (perusahaan retail Belanda). Malahan kan saat pilah, nggak boleh duduk, pakai masker, sarung tangan, dari dulu prosedur udah seperti itu," kata Irawan.

Meskipun suplai Al-Ittifaq memang ada yang terputus saat terjadi pandemi, dimana mereka tidak bisa mengirim barang untuk restoran dan hotel. Namun, hal itu tidak begitu terasa karena akibat wabah, Al-Ittifaq kini membuka layanan belanja sayuran secara daring.

"Kalau kitanya bersyukur, semuanya ada hikmahnya, contohnya sekarang Al-Ittifaq punya pasar online di alifmart.id," ungkapnya.

Pasokan hasil sayuran menuju pasar tradisional pun tidak banyak berubah di saat pandemi virus Corona. Cuma, Irawan mengaku agak khawatir saat pasar tradisional tiba-tiba ditutup lantaran menjadi klaster baru penyebaran virus corona.

Harusnya, kata dia, saat pasar ditutup, maka Pemerintah harus lebih matang dalam menyiapkan solusi agar rantai distribusi pangan tidak terputus.

Salah satu petani asal Kabupaten Bandung, Hudan Mustakim (30 tahun) mengatakan wabah virus Corona memang tidak terlalu berdampak pada sektor cocok tanam. Justru, Hudan mengaku cukup diuntungkan saat adanya pandemi lantaran ia bisa menjual hasil panennya dengan harga yang tidak terlalu murah.

"Kemarin tanam tomat, alhamdulillah harga cukup bagus, per kg bisa terjual Rp 6.500 ke bandar. terus kan ditutup juga distribusi dari daerah lain jadi distribusi sayuran disini untuk pasar di wilayah Bandung cukup aman," tukasnya. (Aminuddin)

Liputan ini didukung oleh Society of Indonesian Environmental Journalists dan juga telah diterbitkan di Ekuatorial pada tanggal 24 Juli 2020.

Kontributor : Aminuddin

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait