Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Cerita Jurnalis Jawa Barat, Diintimidasi, Dipukul hingga Ditangkap

Ari Syahril Ramadhan Sabtu, 10 Oktober 2020 | 12:09 WIB

Cerita Jurnalis Jawa Barat, Diintimidasi, Dipukul hingga Ditangkap
Jurnalis Merahputih.com Ponco Sulaksono resmi bebas setelah sempat diamankan di Polda Metro Jaya saat meliput aksi tolak UU Cipta Kerja, Jumat (9/10/2020). [Suara.com/Welly Hidayat]

Di sana ia diintrograsi dan dipaksa untuk membuka kunci gawainya. Satu pukulan mendarat di ulu hati Angga ketika ia menolak.

SuaraJabar.id - Sejumlah jurnalis di Jawa Barat menjadi korban kekerasan polisi saat meliput aksi penolakan UU Cipta Kerja, Kamis (8/10/2020) kemarin. Mereka diintimidasi, dipaksa menghapus video kekerasan polisi pada massa aksi, dipukul, hingga ditangkap tanpa alasan.

Aksi penolakan UU Cipta Kerja di sejumlah tempat di Jawa Barat berakhir dengan peristiwa bentrok antara aparat keamanan dengan massa pengunjuk rasa.

Di Kota Bandung, massa aksi bentrok dengan polisi di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro. Bentrok bermula dari baku lempar antara massa aksi dan pengunjuk rasa.

Suasana memanas selepas 16.25 WIB. Massa dan polisi terlibat bentrok. Di tengah bentrokan, polisi menangkapi sejumlah pengunjuk rasa dan membawa mereka ke halaman Gedung Sate.

Jurnalis Tempo, Iqbal Tawakal ikut mengabadikan momen penangkapan pengunjuk rasa di sayap barat Gedung Sate hari itu. Dua orang berpakaian preman dan dua polisi kemudian menghampiri Iqbal, memintanya untuk menghapus hasil rekaman video.

Iqbal kemudian menyampaikan pada aparat yang menghampirinya bahwa ia adalah jurnalis. Ia pun menunjukan kartu pers Tempo sebagai bukti. Namun polisi tak menggubris dan memaksa Iqbal untuk menghapus 3 video yang menggambarkan aksi kekerasan aparat pada massa aksi.

Demi keselamatan, Iqbal pun terpaksa menghapus tiga video itu.

Di area dan waktu yang sama, nasib sial dialami Angga, jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa Jumpa Unpas Bandung. Ia didatangi tiga hingga lima orang berpakaian preman ketika tengah melakukan live report menggunakan gawainya.

Orang tersebut mengaku sebagai polisi, mereka meminta Angga unutk menyerahkan gawainya. Angga sempat menolak dan mengatakan bahwa ia adalah jurnalis yang sedang melakukan tugas jurnalistik.

Saat itu, Angga mengenakan seragam LPM Jumpa dan kartu pers. Namun polisi berpakaian sipil itu tidak menggubris dan merampas gawai Angga.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait