Aktivitas Sesar Lembang Pernah Rusak Ratusan Rumah di Jambudipa KBB

Saat itu terjadi gempa di Sesar Lembang dengan magnitudo 3,3 dengan kedalaman sangat dangkal sehingga mengakibatkan dampak signifikan.

Ari Syahril Ramadhan
Rabu, 27 Januari 2021 | 16:07 WIB
Aktivitas Sesar Lembang Pernah Rusak Ratusan Rumah di Jambudipa KBB
Sesar Lembang. Pernah terjadi gempa dangkal di Sesar Lembang yang menyebabkan ratusan rumah warga di Jambudipa KBB rusak. (Antara)

SuaraJabar.id - Sesar Lembang kini tengah menjadi sorotan warga. Aktivitas Sesar Lembang pernah merusak 384 rumah warga di Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada 28 Agustus 2011 lalu.

Saat itu terjadi gempa dengan magnitudo 3,3 dengan kedalaman sangat dangkal sehingga mengakibatkan dampak signifikan.

Aktivitas Sesar Lembang sendiri sudah dipantau oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak tahun 1963.

Menurut Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Rabu, BMKG mulai memasang dan mengoperasikan seismograf WWSSN (World Wide Standardized Seismograph Network) pertama kali di Lembang pada 1 Januari 1963.

Baca Juga:BMKG: Suara Dentuman Dua Kali di Majene Bukan Berasal dari Gempa

Selain untuk memantau gempa di wilayah Indonesia, seismograf jenis Benioff Short Period 3 Komponen dan Sprengneter Long Period 3 Komponen yang dipasang di daerah itu digunakan untuk memantau aktivitas Sesar Lembang, sesar sepanjang sekitar 25-30 km berarah barat-timur yang menurut para ahli memiliki magnitudo tertarget 6,8.

Para petugas BMKG sejak lama sudah mengamati catatan gempa-gempa lokal pada seismogram analog di sekitar Lembang.

Aktivitas gempa di jalur Sesar Lembang mulai tahun 2008 dapat dipantau lebih baik karena BMKG mengoperasikan jaringan monitoring gempa digital menggunakan sensor gempa dengan kawasan frekuensi lebar.

"Bukan berarti sebelum 2008 di Sesar Lembang tidak terdapat aktivitas gempa. Jarangnya aktivitas gempa saat itu karena sensor gempa belum sebanyak seperti sekarang, sehingga beberapa aktivitas gempa lokal dengan magnitudo kecil tidak terekam dengan baik," kata Daryono.

Pada 2019, BMKG memasang 16 sensor seismik periode pendek lebih rapat untuk melengkapi 19 seismograf frekuensi lebar yang sudah dipasang di Jawa Barat dan Banten.

Baca Juga:Ridwan Kamil 'Bonceng' Bernie Sanders, Tokoh Sosialis Amerika Serikat

Sensor gempa yang sengaja dipasang "mengepung" jalur Sesar Lembang, Cimandiri, dan Baribis itu dipasang untuk keperluan operasional dan kajian sesar aktif.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak