Gunung di Bandung Ini Mirip Natural Bridge di Amerika Serikat

"Ini salah satu potensi wisata di Padalarang. Ini masuk Kawasan Cagar Alam Geologi," ujar Ketua Pokdarwis Karst Hawu, Hasan Husaeri.

Ari Syahril Ramadhan
Jum'at, 20 Agustus 2021 | 12:54 WIB
Gunung di Bandung Ini Mirip Natural Bridge di Amerika Serikat
Gunung Hawu di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat yang disebut mirip dengan Natural Bridge di Virginia, Amerika Serikat. [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

SuaraJabar.id - Gunung Hawu di Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memiliki bentuk yang cukup unik.

Bentuknya disebut menyerupai hawu dalam Bahasa Sunda yang artinya tungku.

Pada bagian atas atau puncak gunung dan depan nampak lubang yang menganga yang membuat gunung itu disebut menyerupai hawu.

Lubang besar di tengah tebing itu pun disebut mirip Natural Bridge di Virginia, Amerika Serikat.

Baca Juga:Daftar Negara yang Menerima Pengungsi Afghanistan, Bagaimana Indonesia?

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, T. Bachtiar memaparkan, Gunung Hawu terbentuk bermula ketika tahun 27 juta-5 juta tahun yang lalu, kawasan Kars Citatah, KBB masih digenang laut dangkal yang jernih.

"Di sana binatang koral hidup dan mati. Selama 20 juta tahun terus begitu, sehingga tumpukan binatang koral itu menjadi sangat tebal," ungkap Bachtiar saat dihubungi Suara.com, Jumat (20/8/2021).

Peserta upacara memberi hormat pada bendera Merah Putih rasasa yang dibentangkang di tebing Gunung Hawu, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (17/8/2021). [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]
Peserta upacara memberi hormat pada bendera Merah Putih rasasa yang dibentangkang di tebing Gunung Hawu, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (17/8/2021). [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

Kemudian mulai 5 juta tahun yang lalu terjadi mulai ada aktivitas gunung api. Seperti munculnya gunung-gunung Lagadar yang merupakan gunung api purba yang terbentuk 4 juta tahun yang lalu.

Akibatnya, terjadilah pengangkatan secara evolutif, maka pantainya terus bergeser ke utara.

"Kawasan yang semula laut dangkal yang jernih itu terangkat. Semua binatang koralnya menjadi mati," ucap Bachtiar.

Baca Juga:Taliban Kuasai Ribuan Mobil Militer dan Senjata, AS Khawatir Disalahgunakan

Sejak terangkat itulah, kawasan batukapur ini mendapatkan pengaruh cuaca, seperti panas, hujan, tekanan, desakan, sehingga bagian yang lunak menjadi kapuk dan tererosi.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini

Tampilkan lebih banyak