"Kebetulan waktu itu mati lampu, nah tiba-tiba saya dengar suara terompet terus ada langkah kaki seperti pasukan sedang berbaris," kata Septian belum lama ini.
Dirinya juga kerap ditunjukkan penampakan perempuan atau Noni Belanda bergaun putih di seberang rumah jaga. Biasanya noni itu berjalan di antara nisan-nisan yang ada di tengah permakaman.
"Sempat beberapa kali lihat pas kebetulan lagi iseng duduk di teras. Tapi karena sudah terbiasa akhirnya saya cuek saja, kalau awal iya jelas takut," ucapnya.
Pegiat sejarah, Machmud Mubarok mengatakan, Ereveld Leuwigajah itu merupakan tanah hibah dari Pemerintah Indonesia ke Pemerintah Belanda, sehingga saat ini statusnya milik Belanda.
Baca Juga:Gegara Acungkan Jari Tengah ke Kapolsek, Dua Remaja Ini Ditangkap
"Ini merupakan makam kehormatan korban perang (militer Belanda) pada tahun 1942 zaman Jepang sampai tahun 1947 setelah revolusi kemerdekaan," terang Machmud.
Pada zaman perang banyak orang-orang Belanda yang meninggal sehingga dimakamkan ke tempat tersebut dan ada juga korban yang dimakamkan di Sumatera tetapi kerangkanya dipindahkan ke Ereveld Leuwigajah.
Kontributor : Ferrye Bangkit Rizki