SuaraJabar.id - Sisa-sisa peninggalan sebuah kawasan orang China masih berdiri tegak di Jalan Djulaeha Karmita, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.
Peninggalan warga China zaman pemerintahan Hindia-Belanda berupa bangunan digunakan sebagai tempat niaga, dan tetap dipertahanakan hingga kini.
Ciri khas bangunan berarsiketur Tionghoa yang dipadukan dengan gaya kebarat-baratan hingga kini masih dipertahankan, sehingga terlihat lapuk seperti tak terurus. Meski salah satu bagian ornamennya roboh tertiup angin kencang
Bangunan bersejarah itu masih dipakai sebagai tempat niaga. Dari mulai jasa foto kopi, warung, hingga aneka makanan dan bergbagai usaha lainnya. Ada yang menyewa, ada pula yang yang memang sudah milik pribadi sejak zaman dulu.
Baca Juga:Makin Bugar, Intip 7 Potret Sabrina Chairunnisa Pamer Tubuh Berotot
Tomi Limmas (57) adalah salah satunya. Ia memang anggota baru di bangunan bersejarah yang dijadikan rumah dan tempat usaha itu. Namun istri dan keluarganya sudah lama mendiami tempat tersebut.
"Kalau keluarga istri saya sejak dulu memang tinggal di sini. Ada perkiraan tahun 1930-an," katanya kepada Suara.com, Minggu (5/9/2021).
Ia mengaku, bangunan hingga arsitekturnya tidak boleh diubah. Dirinya hanya akan memperbaiki lantai duanya yang memang sudah mengalami kerusakan.
Berdasarkan literatur pegiat sejarah, Machmud Mubarok, asal muasal rakyat Tionghoa di Kota Cimahi diperkirakan sudah ada sebelum Belanda membangun Garnizun tahun 1898.
Bahkan dulunya ada Kampung China atau Chinesse Wijk dalam Bahasa Belanda, yakni di kawasan Pasar Luhur, yang kini disebut Pasar Atas.
Baca Juga:Jadi Game Gratis, Pra-Registrasi Battlefield Mobile Sudah Dibuka di Android
Ia mengatakan, kemungkinan umat Tionghoa di Cimahi lebih dulu ketimbang Garnizun yang dibangun Belanda.