alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sejarah Kabupaten Cirebon, Dipimpin Sunan Gunung Jati, Kini Jadi Salah Satu Pusat Islam

Pebriansyah Ariefana Rabu, 24 November 2021 | 10:55 WIB

Sejarah Kabupaten Cirebon, Dipimpin Sunan Gunung Jati, Kini Jadi Salah Satu Pusat Islam
Kabupaten Cirebon

Kabupaten Cirebon merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Jawa Barat, yang letaknya di bagian timur sebagai batas provinsi dan sekaligus sebagai pintu gerbang Jawa

SuaraJabar.id - Sejarah Kabupaten Cirebon. Menurut Sulendraningrat berdasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Aja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, asal mula Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang berkembang menjadi sebuah desa ramai dan diberi nama Cirebon. Kabupaten Cirebon merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Jawa Barat, yang letaknya di bagian timur sebagai batas provinsi dan sekaligus sebagai pintu gerbang Jawa Tengah.

Kabupaten Cirebon berada di daerah pesisir Laut Jawa. Berdasarkan geografis, letak Kabupaten Cirebon berada di 6°30' - 7°00' Lintang Selatan dan 108°40' - 108°48' Bujur Timur. Di Kabupaten Cirebon dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian barat merupakan dataran rendah dan bagaian barat daya merupakan dataran tinggi.

Asal-usul Cirebon tersebut merupakan Bahasa Sunda yang berarti Campuran, karena di Kabupaten ini penduduknya bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda.

Perkembangan awal Kabupaten Cirebon

Baca Juga: Polres Jakpus Masih Buru Satu Bandar Narkoba Penabrak Polisi di Cirebon

Ki Gedeng Tapa

Ki Gedeng Tapa atau juga dikenal Ki Gedeng Jumajan Jati, merupakan seorang saudagar kaya di Pelabuhan Murjati, Cirebon. Pada 1 Syura 1358 yang bertepatan dengan tahun 1445 Masehi, Ki Gedeng Tapa mulai membuka hutan ilalang untuk dibangun sebuah gubug dan sebuah tajug (Jalagrahan). Sejak saat itulah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban.

Ki Gedeng Alang-Alang

Ki Gedeng Alang-alang merupakan Kuwu atau kepala desa Caruban pertama yang diangkat oleh masyarakat baru tersebut dan Raden Walangsungsang putra dari Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang yang menjadi wakilnya. Nyi Mas Subanglarang merupakan puteri daru Ki Gendeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, kemudian Raden Walangsungsang yang bergelar sebagai Ki Cakrabumi diangkat sebagai penggantinya menjadi kuwu kedua dengan gelar Pangeran Cakrabuana.

Masa Kesultanan Cirebon

Baca Juga: Ditumbangkan Babel United, Manajer Semen Padang FC Mundur

Pangeran Cakrabuana menjadi Kuwu sampai 1479. Pangeran Cakrabuana merupakan anak dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istri kedua yaitu Nyi Mas Subanglarang. Nama kecil Pangeran Cakrabuana adalah Raden Walangsungsang, pada saat remaja dikenal dengan Kian Santang. Ia memiliki dua saudara seibu yaitu Nyai Lara Santang ( Syarifah Mudaim ) dan Raden Sangara.

Walaupun ia anak sulung laki-laki ia tidak mendapatkan hak sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran karena ia memeluk agama Islam yang diturunkan oleh ibunya. Saat abad 16 ajaran agama di Pajajaran mayoritas Sunda Wiwit. Sunda Wiwit merupakan agama leluhur orang Sunda yang memeluk agama Hindu dan Budha. Posisinya itu digantikan oleh adiknya yaitu Prabu Surawisesa putra dari Prabu Siliwangi dan istri ketiga yaitu Nyai Cantring Manikmayang.

Setelah Ki Bedeng Tapa yang menguasai pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya melainkan mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon.

Oleh karena itu, Walangsungasang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon. Setelah menunaikan ibadah haji kemudian Pangeran Cakrabuana disebut dengan Haji Abdullah Iman, tampil sebagai raha Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwatu dan aktif menyebarkan agama islam kepada penduduk Cirebon.

Sunan Gunung Jati

Pada tahun 1479 M, kedudukan Pangeran Cakrabuana digantikan oleh keponkannya yaitu Syarif Hidayatullah (1448-1568) putra dari Nyai Rarasantang dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Setelah wafat Syarif Hidayatullah dikenal dengan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan juga bergelar sebagai Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.

Kesultanan Cirebon dimulai oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati perkembangan dan pertumbuhan pesat. Kemudian Sunan Gunung Jati diyakini sebagai pendiri dinasiti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten.

Fatahillah (1568-1570)

Selama Suanan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemegang kekuasaan kosong yang kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton, dan pemerintahan tersebut dijabat oleh Fatahil atau Fafillah Khan.

Sejak tahun 1568 Fatahillah naik takhata dan memerintah Cirebon secara resmi. Fatahillah menduduki takhta tersebut hanya berjalan dua tahun kerana pada tahun 1570 ia meninggal. Selang dua tahun dengan Suanan Gunung Jati dan dinamakan berdampingan di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.

Pada tahun 1570-1649 Penambahan Ratu I

Setelah wafatnya Fatahillah tidam ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Cirebon cucu Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon kurang lebih 79 tahun.

Panembahan Ratu II (1649-1677)

Pada tahun 1649 Panembahan Ratu I meninggal dunia, setelah itu pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yaitu Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayahnya yaitu Pangeran Sedaging Gayam atau Panembahan Adinungkusumah meninggal lebih dulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan gelar almarhum ayahnya, kemudian dikenal dengan Panembahan Gorila ya atau Panembahan Ratu II.

Pada masa pemerintahan Panembahan Girilaya terjepit antara dua kekuasan yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga karena Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram ( Amangkurat I merupakan mertua Panembahan Girilaya). Mataram juga merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Agemg Tirtayasa dari Banten adalah keturunan Pajajaran. Hal ini memuncak saat panembahan Girilaya meninggal di Kartasura dan Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya ditahan di Mataram.

Masa Kolonial dan kemerdekaan

Sesudah kejadian tersebut, semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah kekuasaannya karena pemerintah Kolonial Belanda semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon.

Puncaknya pada tahun 1905 dan 1926, dimana kekuasaan pemerintah disanakan Sebagai Gemeentr Cheirebon.

Pada masa kemerdekaan, wilayah kesultanan Cirebon menjadi bagian yang tidak terpisahkan Dari NKRI. Secara umum wilayah kesultanan Cirebon tercakul dalam Kota Cirebon san Kabupaten Cirebon yang secara adminitraf dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia yaitu walikota dan bupati.

Setelah masa kesultanan Cirebon dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia. Kini kita akan membahas tentang daftar kepala daerah Kabupaten Cirebon.

  1. R. Sinuk (Muchamad) 1800-1808
  2. R. Ngabei Suradiningrat 1808 -1828
  3. Kanjeng Kyai R. Adipati Baudenda Suradiningrat 1828-1843
  4. R. Tumenggung Baudenda Suradiningrat 1843 -1847
  5. R. Adipati Surya Dirja 1847-1877
  6. R. Adipati Suraadiningrat 1877-1902
  7. R. Adipati Salmon Salam Suryadiningrat 1902 -1918
  8. R.M. Panji Aryiodinoto 1920-1927
  9. R.Tg. Suriadi (Aria, Adipati, Pangeran) 1928-1942
  10. M. Sewaka 1942-1943
  11. M. Oemar Said 1943-1945
  12. Mr. R. Ma'mun Sumadipraja 1945 -1947
  13. R. Sidik Baratadirdja 1947-1950
  14. R. Mochamad Michrad 1950 -1951
  15. M. Radi Martadinata 1951-1954
  16. R. Moestofa Soerjadi 1954-1956
  17. R. Djoko Sa'id Prawiro Widjojo 1956 -1957 sebagai PJ Bupati
  18. R. Sulaeman Tanudiradja dan Machbub Badjurie 1957-1958 sebagai Kepala Daerah
  19. R. Kamar Suriawidjaya 1958 -1960 sebagai Pj. Bupati Cirebon
  20. R. Harum Zainal Abidin 1960 -1965
  21. R. Soemitro 1965 -1966 sebagau Pj. Bupati Kepala Daerah Cirebon
  22. Kol. Inf. H. R. Anwar Soetisna 1966 -1973
  23. Kol. Inf. Hasan Soegandhi 1973 -1978
  24. Drs. H. Mr. Gunawan Bratasasmita 1978-1983
  25. Kol. Caj. H. Memed Tohir 1983-1988
  26. Kol. Art. H. Suwendho 1988-1993
  27. Kol. Kav. H. Rachmat Djoehana 1993-1998
  28. H. Sutisna, S.H 1998 -2003
  29. Drs. H. Dedi Supardi, M.M. 2003- 10 Desember 2008 Periode Pertama
  30. Drs. H. Dedi Supardi, M.M. 10 Desember 2008- 10 Desember 2013 Periode Kedua
  31. Drs. H. Dudung Mulyana, M.Si 10 Desember 2013-8 Januari 2014 ,Sekda Kabupaten Cirebon yang ditunjuk jadi Plt. Bupati Cirebon[1]
  32. Drs. H. Daud Achmad 8 Januari 2014-19 Maret 2014
  33. Drs. H. Sunjaya Purwadi Sastra, M.M., M.Si. 19 Maret 2014-Sekarang

Ciri khas Ceribon adalah Cirebon dijuluki sebagai kota udang dan kota wali. Cirebon ini memiliki banyak makanan dan minuman khas selain itu Cirebon juga memiliki banyak tempat peninggalan sejarah seperti keraton kesepuhan, keraton Kanoman, keraton kacirebonan, dan tari topeng Cirebon dan Goa Sunyaragi.

Selain itu Cirebon juga memiliki tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi Bukit Gronggong, Pantai Kejawanan, Batu Lawang, Situ Sedong, Wanawisata Ciwaringin, Telaga Niren, Telaga Remis, Desa Wisata Cikalahang, Taman Sari Gua Sunyaragi, Ade Irma Suryani Waterland

Setelah kita bahas mengenai daftar kepala daerah Kabupaten Cirebon, kini kita beralih ke sejarah perjuangan di Kabupaten Cirebon.

Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda menghianati perjanjian Linggar Jati, wilayah-wilayah yang dulu sudah dinyatakan merdeka tiba-tiba diserang lagi olehnya Belanda termasuk Cirebon. Tepat pada pukul 09.00 wib disaat umat Islam di Cirebon sedang melaksanakan puasa, tiba-tiba diserang melalui udara. Setelah puas melakukan serangan udara kemudian Belanda menerjunkan pasukan daratnya menggunakan tank.

Pada tanggal 22 Juli 1947, Belanda memasuki Kota Cirebon, mereka berfikir akan dapat mudah menguasai kota Cirebon, akan tetapi perkiraan itu ternyata meleset, karena pada Tahun 1948 Pasukan Kancil Merah yang dibantu rakyat tiba-tiba menyergap pasukan Belanda yang telah bercokol di Cirebon, perang darat pun tak terelakan, banyak pasukan Belanda yang mati dalam peristiwa ini.

Pasukan Kancil Merah ini kemudian menuju Desa Mandala yang terletak di Kaki Gunung Ciremai yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Sumber. Mereka bergabung dengan Tentara Nasional lainnya untuk menghimpun kekuatan kembali. Perjungan Pasukan Kancil merah dari divisi Siliwangi dalam mempertahankan Kota Cirebon agar tidak mudah di ambil alih Belanda.

Setelah penjelasan mengenai sejarah perjuangan, kini kita membahas tentang senjata khas Kabupaten Cirebon yang dugunakan di jaman dahulu.
Berikut senjata khas Kabupaten Cirebon, seperti siwah, keris kujang.

Demikian penjelasan mengenai sejarah Kabupaten Cirebon.

Kontributor : Annisa Nur Rachmawati

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait