facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Gus Muwafiq Sebut Ziarah Kubur Punya Kemaslahatan Ini

Ari Syahril Ramadhan Jum'at, 08 April 2022 | 12:26 WIB

Gus Muwafiq Sebut Ziarah Kubur Punya Kemaslahatan Ini
Gus Muwafiq. [gusmuwafiqchannel / Instagram]

"Nabi Muhammad juga, sampai di Indonesia mendapat sapaan nama tambahan, Kanjeng Nabi," kata Gus Muwafiq.

SuaraJabar.id - KH Ahmad Muwafiq atau akrab Gus Muwafiq buka suara terkait fenomena ziarah kubur. Menurutnya, ziarah ke makam-makam sanak saudara, para guru, para kyai, Wali Songo, habib, dan sayyid yang tersebar di seluruh pelosok negeri justru membawa kemaslahatan tersendiri.

Hal tersebut disampaikan kiai Nahdlatul Ulama (NU) itu saat menjadi pembicara dalam program Inspirasi Ramadhan Edisi Buka Puasa di akun YouTube BKN (Badan Kebudayaan Nasional) PDI Perjuangan.

"Kalau ziarah kubur, iya kalau ziarahnya satu, kalau guru-gurunya diziarahi semua kan akhirnya orang-orang Jakarta ziarah ke Jombang. Itu bus pariwisata laku, odong-odong laku, bakul nasi laku. Orang Jakarta cinta sama Jombang karena di situ gurunya bersemayam. Lalu ziarah ke Demak karena di sana ada makam Sunan Kalijaga, orang cinta sama Demak. Terhadap tanah-tanah dimana guru-gurunya bersemayam, akan terbangun rasa cinta terhadap tanah itu. Kalau itu menyeluruh, itulah bangunan cinta tanah air. Kalau disuruh ngebom ya nggak berani, wong ada makam gurunya," ujar Gus Muwafiq dikutip dari Antara, Jumat (8/4/2022).

Lebih jauh Gus Muwafiq mengatakan, konsep agama dan budaya adalah dua hal yang tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, apalagi saling ditiadakan.

Baca Juga: Rumah Pendiri NU KH Hasyim Asy'ari di Kediri

"Kedua konsep tersebut memang sudah ditakdirkan untuk bersatu padu dan mengisi satu sama lain. Jika puasa adalah salah satu perintah agama, maka manisnya kolak pisang saat berbuka adalah budayanya," kata Gus Muwafiq.

Menurut dia, transformasi Islam untuk memenuhi takdir sebagai agama yang membawa kesejukan bagi seluruh umat manusia memerlukan waktu tidak sebentar. Islam telah bergerak selama 800 tahun sebelum sampai di daratan Nusantara, tambah ulama kelahiran Lamongan, Jawa Timur, itu.

Oleh karena itu, pertemuan antara konsep agama dan kebudayaan terjadi dimana pun, dengan karakter dan corak Islam di Indonesia sangat beragam, karena Indonesia dihuni oleh ratusan ribu budaya, suku, dan tradisi.

"Di Arab sana, haji adalah hal yang biasa. Di sini merupakan hal yang istimewa dan gelarnya melekat. Kalau di Jawa berubah menjadi Wak Kaji. Nabi Muhammad juga, sampai di Indonesia mendapat sapaan nama tambahan, Kanjeng Nabi. Shalat sebutannya berubah menjadi sembahyang. Ini kan kebudayaan, tapi agamanya dan substansinya tetap," jelas Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.

Pembawa acara Sadarestuwati lantas menanyakan isu yang sering menjadi perdebatan di masyarakat, yakni tahlilan dan ziarah kubur. Gus Muwafiq pun menanggapi dengan ringan sambil diselingi candaan.

Baca Juga: Bertemu Menag Yaqut dan Ketum PBNU Gus Yahya, Megawati Cerita Pengalamannya Bersama Gus Dur

Menurutnya, urusan tersebut hanyalah permasalahan produk doa, sehingga tidak semestinya dirisaukan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait