facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Uang Tabungan Siswa SD Sebesar Rp 430 Juta Raib, Peneliti Fitra Jabar Dorong Orang Tua Tempuh Jalur Hukum

Ari Syahril Ramadhan Kamis, 16 Juni 2022 | 13:57 WIB

Uang Tabungan Siswa SD Sebesar Rp 430 Juta Raib, Peneliti Fitra Jabar Dorong Orang Tua Tempuh Jalur Hukum
ILUSTRASI uang tabungan. [Freepik]

"Kalau penyelewengan itu sudah pasti menurut saya. Pengelolaannya yang tertutup, dipake itu udah penyelewengan," sebut Nandang.

SuaraJabar.id - Peneliti Senior Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Jawa Barat Nandang Suherman mendorong kasus orang tua siswa sebuah SD di Sumedang untuk membawa kasus raibnya tabungan anak mereka ke jalur hukum.

Sebab menurutnya, kasus tabungan macet yang terjadi di SDN Darmaraja 2 Kabupaten Sumedang merupakan penyelewengan yang dilakukan oknum tertentu. Apalagi pengelolaannya dilakukan secara tertutup.

"Ini kan sudah lama, (orang tua) hilang kesabaran akhirnya diadukan. Saya dorong juga ke (ranah hukum) supaya bertanggung jawab dan jadi pembelajaran," kata Nandang saat dihubungi Suara.com pada Kamis (16/6/2022).

Sebelumnya, sejumlah orang tua siswa SDN Darmaraja 2 Kabupaten Sumedang mempertanyakan uang tabungan anak mereka yang tidak bisa diambil dengan alasan tak jelas.

Baca Juga: Jawa Barat Kembali Jadi Provinsi Penyumbang Kasus COVID-19 Tertinggi Kedua Nasional

Dari informasi, uang tabungan iswa di SDN Darmaraja 2 itu berjumlah Rp 430 juta. Salah satu orang tua siswa yang bernama Aan mengatakan uang tabungan selama 6 tahun anaknya sekolah itu belum bisa diterima.

Nandang yang juga pengajar di Sekolah Politik Anggaran atau Sepola Perkumpulan Inisiatif itu menduga kasus tabungan siswa di Sumedang yang mencuat lantaran dikelola guru secara tertutup.

sehingga kata dia, tidak ada akuntabilitas, yang kemudian uangnya diselewengkan dan digunakan untuk kehidupan pribadi.

"Kalau penyelewengan itu sudah pasti menurut saya. Pengelolaannya yang tertutup, dipake itu udah penyelewengan," sebut Nandang.

Kondisi tersebut menurut Nandang terjadi lantaran adanya perubahan gaya hidup kekinian yang ingin serba mahal dan tidak merasa cukup dengan penghasilan dari profesi sebagai guru. Sebab menurutnya, kondisi guru zaman dulu sangatlah berbeda dengan guru kekinian.

Baca Juga: Atap Ruangan Kelas SD di Cianjur Runtuh Akibat Angin Kencang, Kepala Sekolah: Proses Belajar Mengajar Bergilir

"Yang membedakan kalau guru dulu kan masih sederhana, integritasnya masih cukup baik. Nah kalau hari ini saya melihat cukup miris juga. Dari sisi penampilan, gaya bicara dari bertingkah laku," kata dia.

"Itukan menurut saya agak disayangkan. Sudah terjadi perubahan dan gaya hidup," lanjut Nandang.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait