SuaraJabar.id - Mistra melangkah santai menuju rumah salah satu kerabatnya di Desa Mekarsari, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu. Dia lalu duduk di lantai teras beralas tikar, menghela napas panjang, lalu menyeduh segelas kopi.
Tidak ada pekerjaan yang harus dia lakukan hari itu, hingga dia bisa duduk santai. Berteduh dari sengatan sinar matahari daerah Pantura yang terkadang membuat kulit terasa perih.
Biasanya, jika ada yang mengajaknya bekerja, tentu saja Mistra tidak akan duduk santai di teras rumah. Dari pagi hingga menjelang matahari terbenam, ayah dua anak itu akan berada di sawah. Entah mencangkul, memetik hasil perkebunan, atau bahkan memanggul berkarung hasil perkebunan.
Penghasilannya sebagai buruh tani serabutan memang tidak pernah menentu. Misalnya, saat menjadi kuli panggul, dia akan mendapatkan upah Rp 50 ribu per karung. Semakin banyak memanggul karung berisi hasil pertanian, semakin besar juga upah yang akan dia bawa pulang. Sementara upah dari membantu memetik hasil pertanian, Mistra hanya mengantongi Rp 70 ribu per setengah hari.
Baca Juga:Tertinggi Se-Nasional, Bupati Cellica Harap Kenaikan UMK Karawang Tak Pengaruhi Serapan Tenaga Kerja
“Tergantung yang ngasih kerjaan, kalau ada yang ngajak panen, jadi kuli panggul, biasanya ikut,” kata pria kelahiran 37 tahun lalu itu, saat ditemui awal November 2022 kemarin.
Bukan tanpa alasan Mistra menjadi buruh serabutan. Pekerjaan itu terpaksa dia lakukan sejak pekerjaan tetapnya sebagai nelayan rebon kerap memberikan harapan kosong. Menurutnya, dia akan melakukan pekerjaan apa pun, selama bisa pulang membawa uang untuk istri dan anak-anaknya.
Apalagi sekarang, saat rebon menjadi semakin langka. Padahal dulu, Desa Mekarsari menjadi salah satu daerah penghasil terasi di Pantura. Setiap bulan November hingga bulan April, para nelayan rebon akan terjun ke laut untuk mendapatkan puluhan hingga ratusan kilo rebon.
“Dulu, sekali tangkap bisa dapat 50 kilogram rebon, sekarang ngejar 5 kilogram aja susah,” terang Mistra.
Mistra menjelaskan, saat menangkap rebon biasanya para nelayan hanya bermodalkan sudu atau alat penangkap rebon.
Mereka berangkat ke pantai selepas salat subuh, masuk ke laut hingga air setinggi dada dan berendam di sana selama berjam-jam, hingga sudu dirasa penuh.
Untuk memeriksa sudu, mereka harus kembali ke darat. Memindahkan rebon dan berbagai hasil tangkapan lainnya, lalu kembali ke laut.
Baca Juga:8 Kabupaten dan Kota di Jawa Barat Masuk Level Waspada Banjir dan Longsor, Berikut Informasinya
“Dulu, dapat rebon bisa sembari santai. Kalau siang bisa pulang dulu, istirahat di rumah, menjelang sore kembali lagi ke laut, dan hasilnya tetap banyak,” katanya.
Rebon-rebon hasil tangkapan para nelayan itu kemudian dijemur untuk diolah menjadi terasi. Dari situlah mereka mendapatkan uang hasil kerja di laut. Biasanya, harga terasi yang dijual di Mekarsari akan mengikuti harga jual beras. Harga itu sudah ditetapkan secara turun temurun. Misal, jika satu buntel harga beras Rp 10 ribu, maka harga satu buntel terasi pun Rp 10 ribu.
Selain dari menjual terasi olahan sendiri, para nelayan juga bisa dapat penghasilan dari menjual bibit bandeng dan udang. Dulu, satu ekor bibit bandeng bisa dijual dengan harga Rp25 sementara pembeli bisa membeli hingga puluhan ribu ekor.
“Tapi setelah PLTU mulai beroperasi, bibit bandeng dan lainnya langsung hilang,” ungkap Mistra.
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Unit 1 Indramayu diresmikan pada November 2011 lalu. Pembangkit listrik dengan kapasitas 3 X 330 megawatt itu dibangun untuk melengkapi proyek 10.000 megawatt tahap pertama.
Pengerjaan PLTU Unit 1 Indramayu sudah dilakukan sejak 2007 lalu. Nilai kontrak untuk pembangunan pembangkit listrik ini sebesar USD USD 696,734 dan Rp 1.497 milyar.