![Warga di sekitar PLTU Unit 1 Indramayu. [HO-Bukbisj Candra Ismet Bey]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/12/12/12895-dampak-negatif-pltu-1-indramayu.jpg)
Pendanaannya berasal dari Consortium of China Construction Bank, Konsorsium bank lokal Indonesia dan APLN.
PLTU Unit 1 Indramayu berdiri di atas lahan seluas 83 hektar di Desa Sumur Adem, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.
Jaraknya, hanya sejengkal dari lahan pertanian warga dan juga pemukiman warga, hingga melihat asap hitam sisa pembakaran seolah sudah jadi makan sehari-hari warga Patrol. Terutama Desa Mekarsari, Desa Tegal Taman, dan beberapa desa terdekat lainnya dari PLTU.
Kuat dugaan Mistra bahwa yang menyebabkan dia kehilangan sebagian besar penghasilannya dari laut adalah berkat limbah PLTU yang mengalir ke laut selama 24 jam. Apalagi beberapa tahun lalu, ayah dua anak itu sempat mencari tahu aktivitas di PLTU dan menemukan pembuangan tersebut sebelum akhirnya kepergok dan diusir satpam.
Jumlah nelayan rebon semakin berkurang. Kini, dari ratusan orang hanya tersisa sekitar 70 orang saja. Dan sebagian besar memilih bekerja seperti Mistra. Saat rebon tak juga muncul, mereka akan beralih profesi menjadi buruh tani.
Baca Juga:Tertinggi Se-Nasional, Bupati Cellica Harap Kenaikan UMK Karawang Tak Pengaruhi Serapan Tenaga Kerja
Dimulai dari pohon kelapa
Saat tahun pertama pembangit listrik beroperasi, Rodi melihat kondisi masih terlihat normal. Hanya saja, dia dan warga lainnya heran melihat pohon-pohon kelapa yang terlihat seperti terkena penyakit.
Pelepahanya mulai rontok dan lama-lama gundul. Layaknya virus, semakin lama, semakin banyak pohon kelapa yang mati.
Dalam dua tahun berikutnya, tidak ada lagi pohon kelapa yang tumbuh di daerah Patrol. Padi dan hasil pertanian lainnya pun tak luput dari dampak munculnya PLTU Indramayu 1. Dalam satu musim, para petani bisa mengalami dua hingga tiga kali gagal panen. Ini yang membuat hasil pertanian di Desa Mekarsari terus merosot setiap tahun.
Padahal sebelumnya, warga di Desa Mekarsari selalu hidup serba kecukupan dari hasil laut dan sawah. Bahkan, saat musim panen tiba, para buruh tani pun bisa menyimpan beberapa karung beras untuk stok hingga musim panen berikutnya.
“Kadang stok beras dijual, ada juga yang dikonsumsi sendiri. Intinya, dulu bisa dapat lebih. Beda sama sekarang, tidak ada stok beras lagi yang bisa disimpan,” ungkap Rodi.
Baca Juga:8 Kabupaten dan Kota di Jawa Barat Masuk Level Waspada Banjir dan Longsor, Berikut Informasinya
Sekali lagi, dugaan terkuat dari masalah yang menimpa para petani di Desa Mekarsari ini akibat tanah, air, dan udara yang tercemar limbah PLTU. Namun, sampai sekarang belum ada penelitian resmi yang dapat memvalidasi klaim para warga.
Padahal tahun 2017 lalu, warga seolah mendapat angin segar ketika sekelompok mahasiswa datang untuk melakukan penelitian. Salah satu warga Desa Mekarsari, Tarmudi atau yang akrab dipanggil Tekor, bahkan sempat mengambil beberapa sample tanah, lumpur, hingga air laut untuk diteliti.
“Tapi saya minta hasilnya, sampai sekarang ngga dikasih,” akunya.
Dengan penghasilan yang terus merosot, tak sedikit buruh tani di Desa Mekarsari yang melakukan pekerjaan lain. Ada yang memberangkatkan anggota keluarganya untuk menjadi TKI ke negara Jepang, Korea, Cina, atau negara-negara Timur Tengah.
Namun, Rodi memilih untuk bertahan tinggal di tanah kelahirannya.
Supaya bisa mendapatkan penghasilan tambahan, pria berusia 62 tahun itu memilih untuk bekerja sebagai buruh bangunan di proyek perumahan. Kebetulan, dia mendapatkan pekerjaan itu dari keponakannya.
Dari hasil bekerja sebagai buruh bangunan, Rodi mendapat bayaran sebesar Rp 70 ribu per hari. Upah kerjanya dia terima per dua minggu sekali sebesar Rp980 ribu. Sementara saat menjadi buruh tani, ayah tiga anak ini mendapatkan upah sebesar Rp 100 ribu per hari. Tentu saja, pendapatannya akan semakin besar jika hasil panen padinya sukses.