Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Ketika dalam mendirikan Subbanul Wathon, KH Abdul Chalim bersama dengan KH Abdul Wahab Hasbullah lalu membentuk gerakan yang diamai Komite Hijaz.
Tujuan dari komite tersebut adalah mengorganisasikan ulama-ulama di Jawa dan Madura demi mencapai kemerdekaan Indonesia.
Dari sana dengan kepiawainnya berorganisasi, KH Abdul Chalim menuliskan surat undangan pada seluruh ulama pesantren di Jawa dan Madura. Para ulama tersebut diminta hadir pada pertemuan yang diselenggarakan Komite Hijaz pada 31 Januari 1926.
Baca Juga:7 Rekomendasi Film Indonesia Bertema Pahlawan, Ada Kartini hingga Gie
Surat yang berisi semangat kemerdekaan Indonesia mendapatkan respons yang sangat positif dari para ulama, sehingga 65 ulama hadir dalam pertemuan tersebut.
Akhirnya, Komite Hijaz mendorong tercapainya kesepakatan di antara para ulama untuk mendirikan Nahdlatul Ulama, dengan KH. Hasyim Asyari sebagai Rais Aam dan KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai Katib awal.
Pada kepengurusan PBNU periode pertama, KH. Abdul Chalim menjabat sebagai Katib Tsani (Sekretaris kedua). Selain itu, KH. Abdul Chalim juga menjadi pembina rohaniah dalam organisasi semi-militer Hizbullah.
Beliau adalah pendiri Hizbullah di wilayah Majalengka dan Cirebon, serta aktif sebagai pejuang Hizbullah di berbagai medan pertempuran, termasuk di Cirebon, Majalengka, dan Surabaya.
Berkat semangat dan dedikasinya, KH. Abdul Chalim dijuluki sebagai Muharrikul Afkar, yang artinya penggerak dan pembangkit semangat perjuangan.
Baca Juga:Presiden Jokowi Beri Gelar Pahlawan Nasional ke Enam Pejuang, Ini Daftarnya
Pencapaian lainnya meliputi gelar "Mushlikhu Dzatil Bain" yang menggambarkan perannya sebagai pendamai di antara ulama yang berselisih. Beliau juga pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).