- Pakar HKTI Jabar, Entang Sastraatmadja, memperingatkan adanya "jebakan swasembada beras" yang mengancam kemandirian pangan Indonesia.
- Jebakan ini muncul karena rasa aman berlebihan, melemahnya insentif produktivitas, dan kurangnya inovasi pasca pengumuman swasembada.
- HKTI mendesak pemerintah merancang lima langkah strategis terpadu, termasuk investasi teknologi, diversifikasi, dan mitigasi perubahan iklim.
SuaraJabar.id - Pengumuman swasembada beras oleh Presiden Prabowo Subianto per 31 Desember 2025 disambut baik, namun sekaligus memicu peringatan serius dari kalangan pakar pertanian.
Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat, menyoroti adanya "jebakan swasembada beras" yang berpotensi menjerumuskan Indonesia kembali ke ketergantungan impor jika tidak diantisipasi dengan langkah strategis terpadu.
Menurut Entang, jebakan swasembada beras merujuk pada situasi di mana keberhasilan awal justru melahirkan rasa aman berlebihan, melemahkan insentif produktivitas, mengabaikan diversifikasi, dan memperlambat inovasi.
"Swasembada yang semestinya menjadi pijakan untuk lompatan berikutnya justru berubah menjadi titik nyaman yang meninabobokan," tegas Entang dikutip dari ANTARA, Sabtu (7/2/2026).
Baca Juga:Pemkab dan Polres Tasikmalaya Manfaatkan Lahan Kering untuk Tanaman Jagung
Ia menambahkan, harga beras yang cenderung rendah, terbatasnya investasi, serta kebijakan yang kurang mendorong pembaruan teknologi dapat memperburuk keadaan.
Faktor eksternal seperti perubahan iklim, dengan cuaca ekstrem, kekeringan, dan banjir, juga turut memberi tekanan serius, sebagaimana pengalaman El Nino beberapa tahun lalu yang menyebabkan produksi menurun tajam dan impor melonjak.
Situasi ini menunjukkan bahwa swasembada bukanlah capaian permanen, melainkan kondisi yang harus terus dijaga melalui kesiapan dan antisipasi yang cermat.
Untuk menghindari jebakan tersebut, HKTI Jabar mendesak pemerintahan Presiden Prabowo untuk segera merancang dan mengimplementasikan lima langkah strategis yang terpadu dan berkelanjutan:
1. Peningkatan Investasi Teknologi Pertanian Modern:
Pemanfaatan varietas unggul tahan iklim, sistem irigasi hemat air, pertanian presisi melalui drone dan sensor, serta analitik data, terbukti mampu mendongkrak produktivitas dan efisiensi. Modernisasi pertanian bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
2. Mendorong Diversifikasi Tanaman Pangan:
Kebergantungan pada beras membuat sistem pangan rentan. Promosi konsumsi pangan lokal seperti jagung, ubi, sagu, dan sayuran perlu diperluas. Pengembangan produk olahan non-beras dan edukasi gizi akan memperkuat ketahanan pangan nasional secara keseluruhan.
3. Memperkuat Ketahanan Terhadap Perubahan Iklim:
Adaptasi adalah kunci. Penggunaan varietas tahan kekeringan/genangan, pembangunan irigasi efisien, praktik pertanian konservasi, serta sistem peringatan dini cuaca ekstrem harus menjadi prioritas untuk menekan risiko gagal panen.
4. Kebijakan Harga Berpihak kepada Petani: