- Jembatan penghubung di Kampung Kamandoran, Sukabumi, mengalami kerusakan parah hingga melintir dan mengancam keselamatan warga yang melintas setiap hari.
- Warga terpaksa melakukan perbaikan swadaya menggunakan bambu karena lambatnya penanganan birokrasi pemerintah atas laporan kerusakan sejak Januari 2026.
- Dinas Perkim menjanjikan survei dan perbaikan segera, dengan rencana pengalihan jalur warga sementara ke rute alternatif yang lebih aman.
SuaraJabar.id - Suara derit kayu dan besi berkarat menjadi musik latar yang mengerikan setiap kali warga melintasi jembatan penghubung Kampung Kamandoran, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak.
Hingga Rabu (1/4/2026), jembatan yang melintasi Sungai Cimahi ini berdiri dalam kondisi yang sulit dinalar yakni melintir, lapuk, dan hanya disangga oleh batang-batang bambu dari dasar sungai.
Bagi warga RT 03 RW 09 Kampung Kamandoran, jembatan ini adalah urat nadi menuju Kampung Karangtengah Hilir. Meski tampak seperti jebakan maut, warga tak punya pilihan selain bertaruh nyawa.
Jika enggan melintas, mereka harus memutar jauh melintasi Legok Picung atau arah Bocimi yang memakan waktu dan tenaga.
Baca Juga:Gizi untuk Anak, Limbah Jangan Merusak: Ultimatum DLH Sukabumi untuk Pengelola SPPG
Kerusakan jembatan ini bukan sekadar soal estetika, tapi soal keselamatan jiwa. Belum lama ini, sebuah insiden mencekam terjadi saat sekelompok siswa SMP PGRI melintas.
Bunyi retakan tajam tiba-tiba terdengar, membuat seorang pelajar nyaris terperosok ke aliran sungai di bawahnya.
"Pernah ada anak sekolah mau melintas, hampir jatuh, terdengar bunyi retak. Padahal setiap hari ada sekitar enam pelajar yang rutin lewat sini," ungkap Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cibadak, Mawaldi.
Insiden itu seharusnya menjadi alarm keras, namun perbaikan permanen yang diharapkan warga seolah masih tertahan di atas meja birokrasi, terjepit dalam wacana penghematan anggaran pemerintah.
Kecewa dengan lambannya penanganan, warga tidak tinggal diam. Sejumlah ketua RT dan RW sempat mendatangi kantor desa untuk mendesak solusi. Namun, sembari menunggu "ketukan palu" anggaran, warga terpaksa melakukan 'tambal sulam' secara swadaya.
Baca Juga:Badai PHK Setelah Lebaran: Saat Mesin Pabrik Berhenti dan Amarah Buruh Sukabumi Memuncak
Tiang-tiang bambu dipasang seadanya untuk menopang bagian jembatan yang miring. Garis pembatas yang dipasang Satpol PP sejak Januari lalu pun terpaksa dibuka kembali.
Tingginya aktivitas warga, terutama saat momen ziarah Lebaran kemarin, membuat akses ini tidak mungkin ditutup total tanpa solusi alternatif yang cepat.
"Bagian tengahnya yang paling rawan ambruk karena besinya sudah berkarat dan lapuk. Kalau hujan deras lagi, kondisi ini bisa makin parah, bahkan amblas," jelas Mawaldi dengan nada khawatir.
Laporan kerusakan sebenarnya sudah masuk ke meja pemerintah sejak 19 Januari 2026. Mediasi demi mediasi telah dilakukan.
Angin segar sempat berhembus ketika Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) dikabarkan akan segera melakukan survei dalam waktu dekat.
"Katanya akan diperbaiki dua hari ke depan, tapi akan dicek dulu melalui survei," ujar Mawaldi mengutip janji dari instansi terkait.