- Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie mengapresiasi rencana pemerintah meluncurkan motor listrik dan insentif kendaraan pada Jumat, 14 Agustus 2026.
- Kebijakan elektrifikasi sepeda motor bertujuan mempercepat transisi energi nasional serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM yang tinggi.
- Grace mengingatkan agar insentif dirancang untuk substitusi kendaraan demi menekan konsumsi BBM alih-alih sekadar menambah jumlah unit kendaraan.
SuaraJabar.id - Sekretaris Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, mengapresiasi langkah pemerintah yang tengah mematangkan kebijakan insentif kendaraan listrik serta meluncurkan motor listrik nasional.
Menurut Grace, kebijakan tersebut dapat menjadi instrumen penting untuk mempercepat transisi energi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.
Dengan lebih dari 140 juta sepeda motor beroperasi di Indonesia, Grace menilai pemberian insentif yang lebih difokuskan pada motor listrik berpotensi memberikan dampak yang besar.
"Motor listrik bisa menjadi kunci percepatan transisi energi Indonesia. Jumlah pengguna motor kita sangat besar. Kalau kita berhasil mendorong jutaan pengguna motor BBM beralih ke listrik, dampaknya terhadap konsumsi BBM, impor energi, dan beban subsidi negara akan sangat signifikan," kata Grace, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga:Praktik Curang Masih Bayangi Pilkada Langsung, PSI Dorong Pelonggaran Syarat Pencalonan
Saat ini kebutuhan bensin Indonesia mencapai lebih 42 juta kiloliter per tahun untuk sepeda motor dan sekitar separuhnya masih dipenuhi melalui impor.
Karena itu, elektrifikasi kendaraan roda dua dalam skala besar dapat menjadi salah satu cara efektif untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Namun, Grace mengingatkan bahwa desain insentif harus memastikan terjadinya peralihan dari motor BBM ke motor listrik, bukan sekadar mendorong masyarakat membeli kendaraan tambahan.
"Jangan sampai orang membeli motor listrik karena ada insentif, tetapi motor BBM-nya tetap digunakan. Kalau begitu, jumlah kendaraan justru bertambah dan konsumsi BBM belum tentu turun. Insentif harus mendorong substitusi: dari motor BBM menjadi motor listrik," kata Grace.
Karena itu, pemerintah dapat mempertimbangkan insentif yang lebih kuat untuk program konversi maupun trade-in motor BBM ke motor listrik.
Baca Juga:Kader PSI Jabar Optimis Tembus ke Senayan Pasca Kaesang Ditunjuk Jadi Ketum Gantikan Giring
Dengan demikian, manfaat setiap rupiah yang dikeluarkan pemerintah dapat diukur dari berapa konsumsi dan impor BBM yang berhasil dikurangi.
"Target kita bukan sekadar semakin banyak motor listrik di jalan, tetapi semakin sedikit BBM yang kita konsumsi dan impor. Kalau itu tercapai, transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi dan menghemat uang negara," tutup Grace.