- BPS mencatat penurunan angka kemiskinan di Jawa Barat pada 2025, termasuk wilayah Kabupaten dan Kota Bogor.
- Pekerja informal di Bogor tetap menghadapi kerentanan ekonomi tinggi, terbelit cicilan, serta bekerja hingga belasan jam sehari.
- Sosiolog menilai warga yang keluar dari garis kemiskinan kini masuk kategori hampir miskin akibat ketimpangan sosial.
SuaraJabar.id - Laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) merekam catatan positif angka kemiskinan di Jawa Barat mengalami penurunan, tak terkecuali di wilayah Kabupaten dan Kota Bogor.
Namun, bagi para pekerja kasar, buruh harian, hingga pekerja informal di lapangan, deretan angka statistik itu terasa begitu jauh dari kenyataan hidup sehari-hari.
Di balik grafik pengetasan kemiskinan yang membaik di atas kertas, realitas menunjukkan banyak warga masih harus membanting tulang 12 hingga 14 jam sehari sekadar untuk bertahan hidup, terbelit cicilan, dan terus berada di ambang kerentanan ekonomi.
Kerja Keras Tanpa Jaminan Kesejahteraan
Baca Juga:KPK Peringatkan Menteri ATR Nusron Wahid Tak Ulur Waktu di Kasus Korupsi Summarecon
Kisah Saiful Ilham (43), seorang pengemudi ojek online di Kota Bogor, menjadi cermin nyata ketimpangan tersebut.
Saiful harus menyusuri jalanan sejak pukul 07.00 hingga 22.00 WIB.
Kendati menghabiskan mayoritas waktunya di jalan, pendapatan bersih yang dibawanya pulang paling banyak hanya sekitar Rp150 ribu per hari.
Saat sepi pesanan, ia bahkan tidak membawa uang sama sekali, sementara kebutuhan dapur minimum Rp100 ribu per hari tetap harus dipenuhi. Pilihan terakhirnya jatuh pada utang.
"Saya enggak boleh sakit, harus kerja terus. Meriang juga dijalanin," ungkap Saiful, yang cicilan sepeda motornya kini tertunggak satu bulan.
Baca Juga:Dugaan Korupsi ATR/BPN, KPK Masih Nanti Kedatangan Nusron Wahid
Kondisi serupa dialami oleh pekerja informal lainnya, Wisnu (39) warga Klapanunggal.
Dia Menggabungkan dua pekerjaan sekaligus menjaga warung kelontong dari pagi hingga sore dan menjadi tukang cukur panggilan di malam hari.
Pendapatannya bertahan di kisaran Rp2 juta per bulan, habis dieksekusi cicilan motor, tagihan telepon, dan sekolah dua anaknya.
Kemudian Elis (37), warga Parung Bogor, adalah seorang asisten rumah tangga dengan gaji Rp1,3 juta per bulan.
Untuk menutupi kekurangan harian, ia terpaksa mengambil pekerjaan tambahan mencuci dan menyetrika pakaian tetangga.
Lalu ada juga Hamdani (29) yang merupakan warga Kota Bogor. Dia mengantongi gaji Rp4,3 juta sebagai staf administrasi gudang.
Meskipun kerap dianggap mampu oleh lingkungan sekitar, gaji tersebut bersih terserap untuk biaya hidup keluarga dan cicilan, hingga menyisakan uang saku pribadi sebesar Rp150 ribu.