Sebagai masyarakat awam yang tidak paham teknologi dan tidak memiliki fasilitas teknologi yang memadai untuk mendaftar PPDB, Tati mempercayakan pendaftaran PPDB secara online kepada Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Jawa Barat. Dengan harapan besar agar sang cucu dapat melanjutkan pendidikan di tingkat SMA sederajat.
“Ibu tinggal di rumah ini, dikasih makannya sama anak yang paling gede, kerja jadi OB, sekarang anak yang gede tidak kerja, di berhentiin karena corona. Ibu sehari-hari dari anak, ada sedikit dipakai untuk buka jualan (snack), dan untuk beli beras. Kesulitan banyak, makanya saya minta tolong ke bu Tini bagaimana supaya Nayla bisa sampai SMA,” ungkap Tati.
“Pengennya ke SMK 2, karena sejalur naik angkot, karena tidak punya kendaraan dan cukup dekat dari rumah. Kalau milih SMK 1 jauh, harus naik dua kali angkot,” lanjut Tati menceritakan.
Tati mendapat informasi dari salah seorang teman, untuk meminta bantuan kepada salah satu perwakilan dari FMPP, Tini.
Tati mengungkapkan, Nayla juga sempat terkendala ketika akan mengambil rapot karena ada tunggakan uang SPP, uang buku dan uang bangunan dari sekolah asalnya sebanyak Rp 2 juta. Beruntung, guru-guru Nayla bisa memahami keterbatasan keluarga Nayla, sehingga rapot untuk keperluan pendaftaran PPDB bisa diberikan.
“Ibu juga di SMP Nasional (sekolah asal Nayla) masih memiliki tunggakan, SPP, uang buku dan uang bangunan betul terbayar. Ada tunggakan sekitar Rp 2 juta,” kata Tati.
“Makanya minta bantu ke Bu Tini, bagaimana supaya ijazah keluar, masih ketahan karena belum bayar. Kemarin ke sana harus dibayar ambil rapot, cuman yang gurunya sudah tahu keadaan kami, akhirnya punya Nayla (rapot) dikasih. Terus kata suami nanti kalau sudah kerja lagi akan dicicil, karena itu bekas anak sekolah. InsyaAllah,” lanjut Tati.
Dalam kondisi serba keterbatasan, dan suaminya yang sudah tidak lagi bekerja karena corona, Tati terus berharap agar sang cucu Nayla dapat diterima di sekolah negeri. Sekolah yang dituju di SMK Negeri 2 Bandung, yang memiliki jarak yang tidak jauh dari rumah.
“Mudah-mudahan ibu minta sampai cucu diterima di SMK 2, supaya tidak berat untuk bayarannya karena gratis kalau di sekolah negeri. Kalau di swasta berat untuk bayarannya,” kata Tati.
Baca Juga: Hampir Gagal Ikut PPDB Jabar, Koordinat Alamat Rumah di Laut China Selatan
Tati berharap pemerintah dapat membatu cucunya Nayla untuk dimudahkan melanjutkan pendidikan di jenjang SMA. Ia meminta kepada Gubernur Ridwan Kamil untuk membantu.
“Saya berharap karena keadaan segini, tolong supaya Nayla bisa masuk ke SMK 2, sampai masuk, minta tolong ke pemerintah dan gubernur. Karena keadaan segini saja, untuk makan kurang-kurang. KIP pingin punya, tapi nggak tahu caranya.”
Sebelumnya, sejumlah orang tua yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) mendatangi Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jabar, menuntut agar Disdik memprioritaskan masyarakat kurang mampu agar dapat diterima di sekolah negeri pada Selasa (23/6/2020) lalu.
Ketua FMPP Illa Setiawati mengungkapkan tuntutan orang tua siswa, agar Disdik bisa memprioritaskan siswa kurang mampu untuk diterima di sekolah negeri di wilayah terdekat. Bukan mengusulkan ke sekolah swasta di wilayah terdekat. Hal ini dinilai tidak adil bagi siswa tidak mampu, untuk mendapatkan pendidikan gratis di sekolah negeri.
“Ada banyak siswa miskin yang di wilayahnya tidak memiliki sekolah, seharusnya bisa diprioritaskan untuk diterima di sekolah negeri terdekat dengan wilayahnya. Tapi pihak Disdik malah mengusulkan untuk ke sekolah swasta, ini memberatkan orang tua,” ungkap Illa.
Pihaknya juga meminta Keluarga Ekonomi Tidak Mampu (KETM) juga diprioritaskan untuk masuk ke sekolah negeri, dan dalam PPDB seharusnya tidak didaftarkan memalui perangkingan melalui nilai rapor. FMPP juga menyangkan tidak efektifnya sosialisasi yang dilakukan oleh Disdik kepada pihak sekolah mengenai jalur afirmasi kepada KETM.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Sentuh Hati Masyarakat, Lapas Cibinong Hadirkan Bantuan Sosial di Momen Hari Bakti Pemasyarakatan
-
Bayar Pajak Kendaraan di Jabar Kini Tak Perlu KTP Pemilik Pertama, Cukup STNK!
-
Hanya 18 Jemaah Asal Kota Sukabumi yang Berangkat ke Tanah Suci Tahun Ini, Ada Apa?
-
Pesta Nikah Berujung Duka: Ayah di Purwakarta Tewas Dikeroyok Preman, Bupati Perketat Izin Hajatan
-
Buntut Suap Ade Kunang, Giliran Istri Ono Surono Digali Keterangannya oleh KPK