Andi Ahmad S
Selasa, 18 November 2025 | 14:25 WIB
Ilustrasi 7 Fakta Mencengangkan Kasus Pengantin Pesanan WNI Asal Sukabumi [Freepik/EyeEm]
Baca 10 detik
  • Reni Rahmawati, korban "pengantin pesanan" di China, segera dipulangkan ke Indonesia oleh KJRI Guangzhou setelah resmi bercerai dan diserahkan kepada Kepolisian RI. 

  • Kasus Reni merupakan TPPO dengan modus pernikahan paksa. Suami Tiongkoknya bayar Rp476 juta ke agen, namun Reni hanya terima Rp11 juta. 

  • KJRI Guangzhou berhasil mengakhiri pernikahan Reni setelah memverifikasi kondisinya dan berkoordinasi dengan otoritas setempat. Polda Jabar menahan tersangka di Indonesia. 

SuaraJabar.id - Kasus Reni Rahmawati (24), Warga Negara Indonesia (WNI) asal Sukabumi, Jawa Barat yang menjadi korban praktik pengantin pesanan di China, sempat menjadi sorotan publik.

Kasus pengantin pesanan ini juga telah menarik perhatian serius dan mengungkap modus operandi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang meresahkan.

Konjen RI di Guangzhou, Ben Perkasa Drajat, membeberkan kronologi dan fakta-fakta mengejutkan.

Berikut adalah 7 fakta penting dan menarik dari kasus Reni Rahmawati:

1. Tergiur Tawaran Gaji Fantastis Rp15-20 Juta/Bulan Lewat Medsos

Reni tiba di China pada 18 Mei 2025. Ia berangkat setelah menerima tawaran pekerjaan dengan gaji yang sangat menggiurkan, mencapai Rp15-20 juta per bulan.

Tawaran ini didapatnya melalui seseorang yang dikenalnya di media sosial, menunjukkan bagaimana platform digital bisa disalahgunakan untuk menjerat korban TPPO.

2. Dijebak dan Dinikahkan Resmi Dua Hari Setelah Tiba di China

Alih-alih mendapatkan pekerjaan, hanya dua hari setelah tiba di China, pada 20 Mei 2025, Reni justru dinikahkan secara resmi dengan Tu Chao Cai, seorang wiraswasta asal Yongchun, Quanzhou, Fujian. Reni menjadi korban praktik mail order bride atau pengantin pesanan.

Baca Juga: Dramatis! Kronologi WNI Asal Sukabumi Jadi Korban Pengantin Pesanan di China

3. Suami China Bayar Mahar Rp476 Juta ke Agen, Reni dan Keluarga Tak Terima Sepeser Pun

Tu Chao Cai, suami Reni, mengaku telah membayar 205.000 RMB (sekitar Rp476,4 juta) kepada agen untuk menikahi Reni. Namun, fakta mencengangkan adalah Reni dan keluarganya di Indonesia tidak pernah menerima uang tersebut. Reni hanya menerima Rp11 juta dari seseorang bernama Abdullah, yang diduga agen di Indonesia.

4. Reni Dipaksa Mengaku dan Menandatangani Dokumen Pernikahan Resmi

Tu Chao Cai mengaku merasa ditipu karena Reni tidak menunjukkan keberatan saat dinikahkan dan mengakui dua orang yang hadir saat akad nikah di Indonesia sebagai orang tuanya—padahal bukan.

Ini menunjukkan bahwa Reni dipaksa agen untuk mengaku dan menandatangani dokumen pernikahan resmi, tanpa persetujuan sejati atau pemahaman penuh.

5. KJRI Guangzhou Turun Tangan, Verifikasi Kondisi Reni Hingga Mediasi Perceraian

Setelah kasusnya mencuat dan keluarga Reni melapor ke Polda Jabar, KJRI Guangzhou bergerak cepat. Mereka meminta bantuan kepolisian Provinsi Fujian untuk melacak keberadaan Reni.

Konjen Ben Perkasa Drajat bahkan memimpin pertemuan langsung dengan Tu Chao Cai dan keluarganya serta otoritas setempat pada 10 Oktober 2025. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri pernikahan Reni sesuai hukum setempat.

6. Resmi Bercerai pada 13 November 2025 dan Dipulangkan ke Indonesia

Otoritas setempat secara resmi menerbitkan surat cerai Reni dan Tu Chao Cai pada 13 November 2025. Pada Senin (17/11/2025), Reni diserahkan kepada Kepolisian Republik Indonesia di KJRI Guangzhou, diwakili Kompol Nirwan Fakaubun (Divisi Hubungan Internasional) dan AKP Ade Saepudin (Polda Jawa Barat), untuk proses lanjutan di Indonesia. Reni menyampaikan terima kasih atas upaya pemulangannya.

7. Lebih dari 10 Kasus "Pengantin Pesanan" Ditangani KJRI Guangzhou dalam Kurun Waktu Kurang dari 10 Bulan

Kasus Reni bukan satu-satunya. Dalam kurun waktu kurang dari 10 bulan pada tahun 2025, KJRI Guangzhou telah menangani lebih dari 10 kasus dengan modus pengantin pesanan, menunjukkan bahwa praktik TPPO ini cukup marak dan menjadi ancaman serius bagi WNI yang mencari pekerjaan di luar negeri.

Load More