-
DPRD Jabar menyoroti APBD 2026 yang timpang. Proyek gapura Gedung Sate Rp3,9 miliar kontras dengan anggaran pelestarian 50 situs budaya Sunda yang hanya Rp156 juta.
-
Anggota dewan mengkritik keras proyek gapura karena desain Candi Bentar dianggap ahistoris dan tidak mewakili identitas budaya Sunda yang autentik.
-
Proyek estetika gapura dikebut, padahal banyak jalan provinsi rusak dan minim penerangan, seperti ruas Cisarua-Padalarang, yang lebih mendesak diperbaiki.
SuaraJabar.id - Isu pengelolaan uang rakyat kembali memanas di Tanah Pasundan. Kali ini, diskusi sengit muncul dari gedung parlemen terkait prioritas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang dinilai jomplang alias sangat timpang.
Bagi kamu yang peduli dengan nasib sejarah dan infrastruktur Jawa Barat, temuan ini mungkin akan membuat geleng-geleng kepala.
Anggota DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyah, baru-baru ini membongkar ironi kebijakan yang dinilai lebih mementingkan estetika luaran daripada substansi sejarah dan kebutuhan mendesak warga.
Berikut adalah 5 fakta menohok terkait polemik anggaran "Wajah Baru" Jabar yang sedang ramai dibahas:
1. Gapura Sultan vs Anggaran Budaya 'Recehan'
Fakta paling mencolok adalah besaran angka yang digelontorkan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan dana fantastis sebesar Rp3,9 miliar hanya untuk proyek perbaikan lapangan parkir dan pembangunan gapura gerbang di kawasan Gedung Sate.
Angka ini terasa sangat ironis ketika disandingkan dengan nasib pelestarian sejarah. Tercatat untuk tahun 2026, pemerintah hanya menganggarkan Rp156 juta untuk melestarikan 50 situs budaya Sunda asli.
Jika dibagi rata, satu situs bersejarah hanya mendapat jatah sekitar 3 jutaan rupiah. Sebuah angka yang sangat minim untuk perawatan cagar budaya yang terancam punah.
2. Salah Kaprah Desain: Candi Bentar Bukan Sunda?
Baca Juga: Bukan Kasundaan? Candi Bentar di Gedung Sate Dituding Ahistoris dan Simbol Dangkal Identitas Jabar
Kritik Maulana Yusuf tidak hanya soal nominal, tapi juga soal identitas. Desain gapura yang dipilih bergaya Candi Bentar, yang menurut legislator muda ini, justru ahistoris atau tidak sesuai dengan sejarah.
Bagi anak muda yang concern pada autentisitas budaya, langkah ini dianggap sebagai bentuk riset yang dangkal. Membangun ikon baru yang tidak merepresentasikan jati diri Kasundaan dinilai sebagai pemborosan yang salah kaprah.
"Saya pikir mengurus situs cagar budaya peninggalan orang Sunda zaman dahulu lebih wajib, ketimbang membuat bangunan-bangunan baru, sekalipun niatnya memperlihatkan simbol-simbol Sunda," kata Maulana Yusuf.
3. Infrastruktur Jalan Gelap dan Rusak Dicuekin
Di saat miliaran rupiah mengalir untuk mempercantik gerbang kantor pemerintahan, kondisi infrastruktur publik yang menyangkut nyawa warga justru terabaikan. Maulana Yusuf menyoroti realitas di lapangan, seperti ruas jalan provinsi Cisarua-Padalarang menuju kawasan wisata Lembang.
Jalan tersebut kini dalam kondisi rusak dan minim penerangan, yang sangat membahayakan keselamatan warga maupun wisatawan. Sangat disayangkan, perbaikan jalan yang krusial ini luput dari prioritas eksekutif, sementara proyek estetika gapura justru dikebut di tengah pemangkasan belanja pegawai.
Berita Terkait
-
Bukan Kasundaan? Candi Bentar di Gedung Sate Dituding Ahistoris dan Simbol Dangkal Identitas Jabar
-
Gedung Sate Ganti Wajah ala Candi Rp3,9 Miliar
-
Cianjur Dikepung Tujuh Sesar Aktif, Ancaman Gempa Besar Bayangi Warga!
-
Terhempas di Sawah Karawang, Kesaksian Warga Lihat Pesawat PK-WMP Berputar-putar Sebelum Jatuh
-
Drama Anak Mantan Kiper Persib di Kamboja: Bukan Korban TPPO, Tapi Scammer yang Cari Kerja Sendiri
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Empat Sekolah di Bandung Dapat Dukungan Program Literasi, Siswa Dikenalkan Mitigasi Bencana
-
Sukabumi Rawan Keracunan Pangan, Dinkes Minta Dapur MBG Perketat Pengawasan
-
Agus Suparmanto: Pemecatan oleh Mardiono Langgar AD/ART, Tak Disahkan Menkum
-
Ciamis Terima 15.600 Ayam Petelur, Produksi Telur Ditargetkan 780 Kg per Hari
-
Diteken di Bandung, Indonesia dan Malaysia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Sosial di Perbatasan