-
Pemprov Jabar merenovasi gerbang Gedung Sate menjadi berbentuk candi dengan anggaran Rp3,9 miliar, memicu sorotan di tengah efisiensi anggaran ketat.
-
Diskominfo Jabar membela renovasi enam gerbang tersebut sebagai upaya memperkokoh area dan mempertegas identitas budaya Jawa Barat, meniru Candi Bentar.
-
Renovasi menuai kritik publik karena dianggap tidak sinkron dengan arsitektur kolonial Gedung Sate, namun Gubernur Dedi Mulyadi meminta patokan pada arsitek, bukan netizen.
SuaraJabar.id - Wajah pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate, kini tengah bersolek. Namun, perubahan ini memantik diskusi hangat di kalangan warga Bandung dan netizen.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat memutuskan merenovasi gerbang ikonik tersebut menjadi model Candi Bentar dengan anggaran yang cukup fantastis, yakni Rp3,9 miliar.
Proyek ini menjadi sorotan tajam publik, mengingat saat ini Pemprov Jabar sedang mendengungkan narasi "puasa anggaran" atau efisiensi ketat untuk APBD tahun 2025 dan 2026.
Di saat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diminta mengencangkan ikat pinggang dengan memangkas kegiatan seremonial, proyek fisik pembenahan gerbang ini justru melenggang mulus dalam APBD Perubahan 2025.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat lalu, gerbang-gerbang tersebut kini terdiri dari dua pilar gagah yang mengadopsi gaya gerbang kerajaan, lengkap dengan desain berundak khas Cirebonan atau arsitektur klasik Pulau Jawa.
Kritik pedas pun bermunculan di media sosial. Warganet menyayangkan hilangnya nuansa asli demi sebuah pembaruan yang dianggap kurang sinkron.
"Atuhlah, itukan peninggalan Belanda bukan peninggalan Padjadjaran. Jadi asa gak nyambung," tulis salah satu warganet di Instagram yang ramai dikutip publik.
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat, Mas Adi Komar, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa dana Rp3,9 miliar tersebut bukan hanya untuk satu gerbang, melainkan renovasi enam gerbang, perbaikan pilar, hingga penataan area parkir barat dan timur yang sudah tidak layak.
Adi membantah proyek ini merusak nilai sejarah. Menurutnya, pilar dan area parkir tidak termasuk dalam inti cagar budaya yang dilindungi. Justru, desain baru ini ingin menonjolkan kearifan lokal.
Baca Juga: Drama Anak Mantan Kiper Persib di Kamboja: Bukan Korban TPPO, Tapi Scammer yang Cari Kerja Sendiri
"Pilar ini memunculkan ikon budaya Jawa Barat, terinspirasi Candi Bentar yang banyak digunakan di keraton-keraton yang ada di Jawa Barat," ujar Adi.
Ia juga menambahkan bahwa renovasi ini telah melalui konsultasi dengan Balai Cagar Budaya. Tujuannya juga untuk meningkatkan kenyamanan publik, mengingat area ini sering menjadi titik kumpul masyarakat, mulai dari wisata hingga unjuk rasa.
"Sudah lama tidak ditinjau ulang dan sudah lama tidak direnovasi. Ini sekalian kita renovasi karena kemarin-kemarin kan juga ada aktivitas-aktivitas masyarakat, ada unjuk rasa dan lain-lain," tambahnya.
Di tengah riuh rendah komentar warga maya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi angkat bicara dengan nada tegas. Sosok yang dikenal concern terhadap isu budaya ini meminta agar polemik desain tidak diperpanjang hanya berdasarkan opini media sosial.
Dedi menekankan bahwa urusan tata ruang dan estetika bangunan bersejarah adalah ranah para ahli, bukan ranah perdebatan publik yang didasarkan pada selera subjektif.
"Jangan ikutin netizen, tapi ikutin arsitek. Kalau ikutin netizen gak akan selesai," ujar Dedi Mulyadi usai Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jabar, Bandung, Kamis (20/11).
Berita Terkait
-
Drama Anak Mantan Kiper Persib di Kamboja: Bukan Korban TPPO, Tapi Scammer yang Cari Kerja Sendiri
-
Ego 3 Kades di Karawang Nyaris Gagalkan Proyek Banjir Vital! Dedi Mulyadi Turun Tangan, Ini Hasilnya
-
7 Fakta Mencengangkan Kasus Pengantin Pesanan WNI Asal Sukabumi
-
Dramatis! Kronologi WNI Asal Sukabumi Jadi Korban Pengantin Pesanan di China
-
Waduh! WNI Asal Sukabumi Jadi Korban Pengantin Pesanan di China
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Dihadang Barikade Polisi, Massa Mahasiswa Tertahan di Senayan Park Saat Menuju Gedung DPR
-
Bukan di DPR, Front Mahasiswa Nasional Pilih Demo di Istana untuk Sampaikan 10 Tuntutan
-
Botok: Jika RUU Perampasan Aset Tak Sah Desember, Dasco, Saan, dan Cucun Siap Mundur
-
Hakim Tolak Perlawanan Yaqut Cholil Qoumas, Sidang Korupsi Kuota Haji Berlanjut!
-
Meski Diterima Pimpinan DPR, Botok Pati Pastikan Aksi 27 Agustus Tetap Lanjut
Terkini
-
Miris! Tak Tercover Bantuan, Ibu dan Anak Terbaring Sakit di Rumah Kontrakan Banjar
-
Hampir Tiap Pekan Ada Laporan, ODGJ Mulai Kepung Ruang Publik Cimahi?
-
Komitmen Nyata BRI untuk Ekonomi Kerakyatan, Dirut BRI Raih Bakti Koperasi Pradana Nayaka
-
Lima Kios Pasar Andir Garut Hangus Terbakar, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah
-
Peta Politik 2026 Bergejolak, Ini 6 Temuan Krusial Survei Tempo Data Science