Budi Arista Romadhoni
Senin, 16 Februari 2026 | 14:12 WIB
Kapolres Cimahi AKBP Niko N. Adi Putra saat melakukan konferensi pers di Cimahi, Jawa Barat, Minggu (15/2/2026). [ANTARA/Ilham Nugraha]
Baca 10 detik
  • Siswa SMP ZAAQ (14) ditemukan tewas di lahan bekas Kampung Gajah, Bandung Barat, dipicu sakit hati.
  • Pelaku utama YA (16) mengaku dendam karena korban memutuskan hubungan pertemanan mereka yang telah terjalin lama.
  • Polres Cimahi mengamankan YA dan AP (17) dan menyatakan proses hukum tetap berjalan meski melibatkan remaja.

SuaraJabar.id - Sebuah kasus pembunuhan tragis mengguncang warga Cimahi dan Bandung Barat, melibatkan dua remaja yang sebelumnya memiliki hubungan pertemanan dekat.

ZAAQ (14), seorang siswa SMPN 26 Bandung, ditemukan tewas di lahan bekas objek wisata Kampung Gajah, Kabupaten Bandung Barat.

Motif di balik pembunuhan keji ini akhirnya terungkap: sakit hati dan dendam akibat pemutusan hubungan pertemanan.

Kepala Polres Cimahi Ajun Komisaris Besar Polisi Niko N. Adi Putra menjelaskan bahwa tersangka utama, YA (16), mengaku dendam terhadap korban.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, tersangka mengaku sakit hati karena korban memutus hubungan pertemanan mereka," kata Niko di Cimahi, Minggu (15/2/2026).

Hubungan pertemanan antara YA dan ZAAQ sendiri telah terjalin selama kurang lebih tiga tahun, sebuah durasi yang cukup lama untuk membangun ikatan emosional yang kuat.

Niko menambahkan bahwa YA tidak datang ke Bandung tanpa persiapan. Ia bahkan diantar oleh AP (17), yang kini juga telah diamankan oleh pihak kepolisian.

"Pelaku berangkat ke Bandung untuk menemui korban. Dari pengakuannya, memang sudah ada niat melakukan pembunuhan," ungkap Kapolres dikutip dari ANTARA

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tindakan YA bukanlah impulsif semata, melainkan sebuah rencana yang telah disusun matang, dipicu oleh rasa sakit hati yang mendalam.

Baca Juga: Pesta Sabu, Ketua Bawaslu Bandung Barat Diringkus Polres Cimahi

Kedekatan hubungan antara korban dan pelaku sebelumnya cukup dikenal oleh keluarga korban. Keduanya bahkan sempat bersekolah bersama di Garut sebelum ZAAQ pindah ke Bandung.

"Hubungan mereka seperti kakak dan adik. Walaupun korban sudah pindah ke Bandung, komunikasi masih berjalan," jelas Niko.

Ikatan yang menyerupai persaudaraan ini membuat keputusan ZAAQ untuk mengakhiri pertemanan menjadi pukulan berat bagi YA, memicu emosi negatif yang berujung pada tragedi.

Keputusan ZAAQ untuk memutus hubungan pertemanan diduga menjadi pemicu utama tindakan kekerasan ini. Rasa sakit hati yang dirasakan YA tampaknya telah mengalahkan akal sehat dan nuraninya, mendorongnya untuk melakukan perbuatan keji yang merenggut nyawa temannya sendiri.

Ini menjadi pengingat betapa rentannya emosi remaja, terutama ketika dihadapkan pada penolakan atau perpisahan dalam hubungan yang dianggap penting.

Saat ini, Polres Cimahi masih terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap kedua tersangka, YA dan AP, serta sejumlah saksi lainnya.

Proses ini bertujuan untuk melengkapi berkas perkara dan mengungkap secara detail rangkaian peristiwa yang terjadi.

"Secara lengkap motif dan rangkaian peristiwa masih kami dalami. Kami juga menghargai kondisi keluarga korban yang sedang berduka," ujar Niko.

Meskipun kasus ini melibatkan anak di bawah umur, Kapolres menegaskan bahwa proses hukum akan tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Pihak kepolisian akan memastikan bahwa keadilan ditegakkan, sambil tetap mempertimbangkan aspek perlindungan anak dalam penanganan kasus ini. Tragedi ini menjadi pelajaran pahit tentang pentingnya mengelola emosi dan dampak serius dari konflik interpersonal, terutama di kalangan remaja.

Load More