Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 07 Maret 2026 | 16:04 WIB
Ilustrasi Mobil-mobil para pemudik melintas jalan tol di musim libur Lebaran 2025. [Antara]
Baca 10 detik
  • Polresta Cirebon mengidentifikasi titik krusial kemacetan jelang Operasi Ketupat Lodaya 2026 pada 12–25 Maret.
  • Rest area KM 228A dan KM 229B diprediksi menjadi fokus penumpukan kendaraan pemudik karena wilayah Cirebon titik lelah.
  • Pengamanan Lebaran 2026 mencakup kelancaran lalu lintas dan keamanan permukiman warga yang ditinggal mudik.

SuaraJabar.id - Para pemudik yang akan melintasi Cirebon pada periode Lebaran 2026 diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Kepolisian Resor Kota (Polresta) Cirebon telah mengidentifikasi sejumlah titik krusial yang berpotensi menjadi biang kerok kemacetan parah, baik di jalur arteri maupun di sepanjang ruas tol.

Langkah antisipatif ini merupakan bagian dari persiapan matang jelang pelaksanaan Operasi Ketupat Lodaya 2026 yang akan berlangsung selama 13 hari, dari 12 hingga 25 Maret 2026.

Kapolresta Cirebon, Kombes Pol Imara Utama, menegaskan bahwa pemetaan ini dilakukan untuk memastikan pelayanan maksimal bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik.

“Fokus utama pengamanan dan pelayanan selama kegiatan Lebaran ini, adalah sebagai bentuk operasi kemanusiaan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata Kombes Pol Imara Utama dalam keterangannya di Cirebon, Sabtu (7/3/2026).

Sebagai salah satu wilayah perlintasan utama menuju Jawa Tengah dan daerah timur lainnya, Kabupaten Cirebon memegang peranan vital dalam kelancaran arus mudik nasional. Polisi tidak hanya fokus pada jalur utama non-tol, tetapi juga memberikan perhatian ekstra pada akses keluar masuk jalan tol yang kerap menjadi simpul kemacetan.

Imara menyebutkan, setidaknya ada lima gerbang tol di wilayah Kabupaten Cirebon yang diprediksi akan mengalami lonjakan volume kendaraan secara signifikan selama periode puncak mudik dan balik.

Namun, yang menjadi sorotan utama adalah rest area . Polresta Cirebon memperkirakan rest area  KM 228A dan KM 229B akan menjadi titik tumpah ruah kendaraan. Hal ini bukan tanpa alasan. Cirebon dianggap sebagai "titik lelah" bagi pemudik yang telah menempuh perjalanan panjang dari arah Jakarta dan sekitarnya.

“Wilayah Cirebon merupakan salah satu titik lelah bagi para pemudik sehingga perlu diantisipasi kemungkinan terjadinya penumpukan kendaraan, di rest area maupun titik rawan kemacetan lainnya,” ujarnya.

Penumpukan di rest area  inilah yang dikhawatirkan akan memicu antrean panjang hingga ke badan jalan tol utama, sehingga menyebabkan kemacetan yang mengular.

Baca Juga: Disekap dan Diintimidasi di THM Maumere, 12 Korban TPPO Asal Jabar Akhirnya Pulang

Tidak hanya fokus pada kelancaran lalu lintas, operasi ini juga menyasar keamanan lingkungan. Imara menekankan bahwa pengamanan juga akan diarahkan pada permukiman warga, terutama rumah-rumah kosong yang ditinggal pemiliknya mudik ke kampung halaman.

Dukungan penuh juga datang dari pemerintah daerah. Bupati Cirebon, Imron, menyatakan bahwa sinergi antarinstansi menjadi kunci sukses menghadapi lonjakan kendaraan. Sebagai bukti keseriusan, Pemkab Cirebon turut serta dalam Tactical Floor Game  (TFG), sebuah simulasi detail untuk merencanakan strategi pengamanan Operasi Ketupat Lodaya 2026.

“Pemerintah daerah mendukung penuh pelaksanaan Operasi Ketupat Lodaya 2026, agar masyarakat dapat merasakan perjalanan mudik yang aman, nyaman, dan lancar,” kata Imron.

Load More