- Pemkot Sukabumi menolak izin Salat Idulfitri Muhammadiyah di Lapang Merdeka pada Jumat (20/3/2026), menguji predikat kota toleransi.
- PC IMM mengkritik keras penolakan tersebut sebagai kegagalan mengelola perbedaan agama dan pengingkaran janji politik kepala daerah.
- Akibatnya, ribuan jemaah Muhammadiyah terpaksa salat di ruang lebih sempit, sementara IMM menuntut Wali Kota memberikan klarifikasi segera.
SuaraJabar.id - Predikat mentereng Sukabumi sebagai "Kota Toleransi" kini tengah diuji hebat, dan bagi sebagian warganya, predikat itu baru saja hancur berkeping-keping.
Keputusan kontroversial Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi yang menolak menerbitkan izin penggunaan Lapang Merdeka untuk pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah oleh warga Muhammadiyah pada Jumat (20/3/2026), memicu badai kritik tajam.
Keputusan birokrasi itu dinilai sebagai pengingkaran nyata terhadap semangat keberagaman yang selama ini digaung-gaungkan.
Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Sukabumi Raya, Diki Agustina, melepaskan rentetan kritik pedasnya.
Ia menilai penolakan akses ke jantung kota tersebut bukanlah sekadar urusan administratif, melainkan bukti telanjang kegagalan pemerintah dalam mengelola anatomi perbedaan beragama.
“Penolakan Wali Kota Sukabumi terhadap pelaksanaan Salat Idulfitri Muhammadiyah di Lapangan Merdeka adalah tamparan keras bagi narasi 'Kota Toleransi'. Klaim tersebut kini patut dipertanyakan validitasnya. Bahkan, sangat layak dianggap sebagai slogan kosong belaka yang sama sekali tidak tercermin dalam praktik kebijakan di lapangan,” serang Diki dengan nada kecewa dikutip dari sukabumiupdate.com, Kamis malam (20/3/2026).
Bagi Diki, perbedaan penentuan tanggal 1 Syawal antara metode hisab Muhammadiyah dan sidang isbat pemerintah pusat bukanlah barang baru di republik ini.
Dinamika tersebut sudah hidup berpuluh-puluh tahun dan diakui secara sah oleh negara. Ironisnya, alih-alih merangkul, Pemkot Sukabumi justru meresponsnya dengan pembatasan ruang.
“Bagaimana mungkin sebuah kota yang mati-matian mengusung identitas toleransi justru gagal total memberikan ruang bagi perbedaan? Ini seharusnya menjadi ujian kedewasaan pemerintah daerah. Namun yang terjadi di Sukabumi justru sebaliknya, perbedaan disikapi dengan pembatasan, bukan difasilitasi,” sentilnya.
Baca Juga: Warga Karawang Catat! Ini 5 Lokasi Shalat Idul Fitri Muhammadiyah Besok, Jumat 20 Maret 2026
Lebih jauh, PC IMM membongkar memori publik terkait komitmen sang kepala daerah. Diki menyoroti adanya ketidaksesuaian fatal antara kebijakan pelarangan ini dengan janji politik yang pernah diobral Wali Kota Sukabumi di masa lalu.
“Lebih ironis lagi, sebelumnya Wali Kota pernah secara terbuka menyampaikan komitmen dalam janji politiknya untuk memfasilitasi perbedaan semacam ini. Tetapi ketika momentum itu benar-benar tiba, yang muncul justru penolakan sepihak, tanpa transparansi alasan yang kuat, dan tanpa solusi alternatif yang setara. Ini bukan sekadar inkonsistensi birokrasi, melainkan bentuk pengingkaran terhadap komitmen publik itu sendiri,” beber Diki.
Diki menegaskan, ruang publik raksasa seperti Lapangan Merdeka dibangun dari pajak rakyat dan merupakan milik seluruh warga Sukabumi tanpa sekat golongan.
Ketika akses terhadapnya digembok hanya karena perbedaan waktu ibadah, IMM menilai kebijakan tersebut telah mencederai prinsip keadilan dan kebebasan beragama yang dijamin konstitusi.
Ia memperingatkan bahaya laten di balik keputusan ini. “Dalih 'menunggu keputusan pemerintah pusat' tidak boleh dijadikan senjata untuk membatasi hak konstitusional kelompok tertentu.
"Jika pemerintah daerah tunduk pada potensi tekanan sosial, maka yang terjadi hari ini adalah normalisasi diskriminasi dengan wajah yang dilembagakan oleh negara,” kecamnya.
Berita Terkait
-
Warga Karawang Catat! Ini 5 Lokasi Shalat Idul Fitri Muhammadiyah Besok, Jumat 20 Maret 2026
-
Buntut Bangkai Cicak di MBG Siswa: SPPG Citamiang Resmi Disegel Pusat
-
Daftar Lengkap Titik Pelaksanaan Shalat Id Muhammadiyah di Kota Bandung 1 Syawal 1447 H
-
Awas "Jalur Neraka"! Ini Siasat Jitu Polisi Urai Kemacetan Horor di Pasar Cibadak Sukabumi
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Kapolres Bogor Bantah Pelaku Pembunuhan Bobotoh Suporter Persikabo: Bukan Suporter Klub Mana Pun
-
Tanpa Waktu Istirahat, Maung Bandung Langsung Alihkan Fokus ke Markas Melbourne Victory
-
Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya
-
Kepung Lokasi Balap Liar KM 77 Cipali, Polsek Campaka Amankan 35 Remaja dan 24 Motor
-
Persib Bandung Bantai Kalteng FC dan Tempel Ketat Puncak Klasemen