Wakos Reza Gautama
Kamis, 26 Maret 2026 | 16:31 WIB
Ilustrasi Dapur MBG. Sejumlah warga di wilayah Kecamatan Banjaranyar dan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengaku menjadi korban dugaan jual beli titik lokasi dapur MBG atau Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG). [Instagram]
Baca 10 detik
  • Sindikat terstruktur di Ciamis Selatan menawarkan jalur cepat pembelian titik lokasi dapur Program Makan Bergizi Gratis dengan biaya hingga Rp135 juta.
  • Korban bernama Hendra Juhara menyetor Rp135 juta kepada makelar berinisial YRM, namun titik dapurnya tidak muncul di sistem resmi BGN.
  • Aliran dana diduga mengalir ke "Bendahara" berinisial AL, sementara otak pelaku berinisial OK dilaporkan menghilang membawa uang korban.

SuaraJabar.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicetuskan pemerintah sejatinya hadir sebagai angin surga bagi perbaikan gizi generasi penerus bangsa.

Namun nahas, di tangan sekumpulan oknum tak bertanggung jawab, program mulia berlapis miliaran rupiah ini justru disulap menjadi lahan basah aksi penipuan dan ladang pemerasan (scam).

Belakangan ini, jagat wilayah Ciamis Selatan (Kecamatan Banjaranyar dan Banjarsari) digegerkan oleh kemunculan sebuah sindikat terstruktur yang menawarkan "jalur VIP" dugaan praktik jual beli titik lokasi dapur umum MBG, atau yang secara birokrasi dikenal sebagai Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG).

Salah satu korban yang akhirnya berani bersuara membongkar praktik kotor ini adalah Hendra Juhara, seorang warga Dusun Karangsari, Desa Cikaso, Kecamatan Banjaranyar.

Dikutip dari Harapanrakyat.com, Kamis (26/03/2026), Hendra mengisahkan awal mula dirinya bersama puluhan calon mitra lainnya masuk ke dalam perangkap manis sindikat tersebut.

Semuanya bermula dari tawaran menggiurkan yang dilontarkan oleh seorang terduga makelar berinisial YRM.

“Awalnya saudara YRM ini datang menawarkan proyek titik dapur MBG dengan iming-iming proses jalur cepat (fast track). Ia dengan sangat meyakinkan berani menjamin dan sanggup mengeluarkan ID (Identitas) resmi (dari Badan Gizi Nasional/BGN) untuk memegang proyek dapur SPPG di wilayah Banjaranyar,” buka Hendra mengisahkan tipu muslihat tersebut.

Namun, tiket VIP itu tentu tidak gratis. Hendra menjelaskan bahwa sindikat ini mematok tarif "Uang Muka" (DP) yang sangat mencekik.

Untuk setiap satu titik lokasi dapur yang dijanjikan, terduga pelaku meminta setoran tunai bervariasi, mulai dari Rp 100 juta hingga menembus angka Rp 135 juta.

Baca Juga: Niat Bayar Pertamina Malah Kena "Rampok" Rp 128 Juta! SPBU Ciamis Hubungi Call Center Palsu

Dalihnya sangat teknis. Uang pelicin tersebut diklaim wajib disetor agar titik koordinat dapur milik korban bisa ditembuskan dan muncul secara sah (live) di layar dashboard sistem BGN pusat.

Tergiur dengan kalkulasi keuntungan proyek jangka panjang, Hendra akhirnya masuk perangkap. Ia mengaku telah menguras tabungannya dan menyetorkan uang tunai full sebesar Rp 135 juta.

Uang ratusan juta rupiah tersebut mengalir secara bertahap sepanjang bulan Desember 2025 melalui seorang perantara (pengepul) berinisial AS.

“Saya bahkan sempat diberi tangkapan layar (screenshot) ID yang diklaim mereka sudah sukses terverifikasi melalui pesan WhatsApp. Saya percaya. Namun nahas, saat hari-H pengumuman resmi yang dijanjikan jatuh pada 28 Desember 2025, ternyata data titik dapur saya tidak pernah muncul sama sekali di sistem negara!” ratapnya penuh sesal.

Aliran Dana ke "Sang Bendahara" dan Hilangnya Tuan OK

Seiring berjalannya waktu, Hendra mulai menyadari bahwa YRM hanyalah pion kecil. Ia diduga kuat tidak bermain solo (sendirian).

Load More