Wakos Reza Gautama
Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:38 WIB
Ilustrasi Selama libur lebaran dari tanggal 21 sampai dengan 28 Maret 2026, ada 250 wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran, Jawa Barat, terpisah dari keluarganya. [istimewa]
Baca 10 detik
  • 250 wisatawan dilaporkan terpisah dari rombongan selama delapan hari (21-28 Maret 2026) di enam objek wisata Jawa Barat.
  • Pantai Pangandaran menjadi lokasi utama kasus orang terpisah, dengan total 271.444 jiwa memadati area Pantai Barat dan Timur.
  • Selain kehilangan orang, Balawista mencatat laporan kehilangan barang berharga yang diduga terjadi saat wisatawan lengah meninggalkan kendaraan.

SuaraJabar.id - Pekan libur Lebaran 2026 mengubah garis pantai Pangandaran menjadi saksi bisu betapa masifnya pergerakan manusia.

Di balik tawa dan deburan ombak, terselip kisah-kisah kepanikan saat genggaman tangan terlepas di tengah kerumunan.

Tercatat, sebanyak 250 wisatawan sempat dilaporkan terpisah dari rombongan keluarga mereka hanya dalam kurun waktu delapan hari.

Sejak 21 hingga 28 Maret 2026, enam objek wisata andalan Jawa Barat, mulai dari Pantai Pangandaran, Karapyak, Batuhiu, Batukaras, hingga Madasari, diserbu oleh hampir setengah juta pelancong.

Namun, Pantai Barat dan Pantai Timur Pangandaran tetap menjadi "titik panas" di mana kasus orang terpisah paling banyak ditemukan.

Bagi para petugas penjaga pantai (Balawista), pengeras suara tak henti-hentinya memanggil nama-nama anak yang kebingungan mencari orang tua mereka.

Luasnya area pantai yang dipadati 271.444 jiwa di Pantai Pangandaran saja, membuat risiko terpisah menjadi sangat tinggi.

Koordinator Lapangan Balawista Pangandaran, Liyano, menyebut fenomena ini sebagai konsekuensi logis dari membeludaknya pengunjung.

"Luasnya area pantai ditambah banyaknya pengunjung berbanding lurus dengan kasus yang terjadi," ungkap Liyano, Sabtu (28/3/2026).

Baca Juga: Detik-detik Dramatis Evakuasi Toha Rosid, Buruh Ciamis yang Tersengat Listrik di Tumpukan Baja

Mayoritas kasus melibatkan anak-anak yang saking asyiknya bermain air dan pasir, tidak menyadari bahwa orang tua mereka sudah bergeser atau tertutup oleh lautan manusia lainnya.

Meski mencekam bagi yang mengalami, Liyano memastikan seluruh drama keluarga ini berakhir bahagia.

"Semua anak yang terpisah telah bertemu kembali dengan orang tuanya. Semuanya tertangani dengan aman," tegasnya.

Namun, bukan hanya anggota keluarga yang hilang. Di balik euforia liburan, para "pemancing di air keruh" diduga ikut beraksi.

Balawista mencatat adanya gelombang laporan kehilangan barang berharga mulai dari ponsel, tas, dompet, hingga uang tunai.

Ironisnya, banyak dari kehilangan ini terjadi justru saat wisatawan merasa barang mereka sudah aman tersimpan.

Load More