Wakos Reza Gautama
Selasa, 31 Maret 2026 | 14:23 WIB
Para perajin tahu di sentra industri Cibuntu, Kota Bandung, menaikkan harga jual tahu mulai Selasa 31 Maret 2026. [harapanrakyat.com]
Baca 10 detik
  • Harga tahu di sentra Cibuntu, Bandung, naik menjadi Rp62.000 per papan akibat lonjakan harga kedelai impor.
  • Kenaikan bahan baku utama ini dipicu oleh dampak konflik global perang antara Amerika Serikat dan Iran.
  • Perajin menolak mengurangi ukuran produk, namun ancaman mogok produksi muncul jika harga BBM ikut naik.

SuaraJabar.id - Aroma kedelai rebus biasanya menjadi pertanda denyut ekonomi yang stabil di sentra industri tahu Cibuntu, Kota Bandung.

Namun, sejak Selasa pagi (31/3/2026), uap dari kawah-kawah pengolahan tahu itu membawa kabar masygul. Harga tahu resmi naik.

Pemicunya bukan sekadar dinamika pasar lokal, melainkan dentuman konflik di belahan bumi lain. Perang antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu efek domino yang sampai ke gang-gang sempit perajin tahu di Bandung.

Kedelai impor, napas utama industri ini, harganya melonjak tak terkendali. M. Zamaludin, Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, tampak gusar saat menjelaskan situasi ini.

Menurutnya, para perajin kini terpaksa mematok harga Rp62.000 per papan, naik Rp2.000 dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp60.000.

“Kami terpaksa. Bahan baku semuanya naik, terutama kedelai dan plastik untuk pembungkus tahu. Ini pengaruh besar dari perang di sana (Iran-Amerika), karena kedelai dan bahan baku plastik kita masih bergantung pada impor,” ujar Zamaludin dengan nada getir.

Sebelum hiruk-pikuk Ramadan tiba, harga kedelai impor masih bersahabat di angka Rp8.000 per kilogram. Kini, angka itu tinggal kenangan.

Kedelai merek Bola sudah menyentuh Rp10.700 per kilogram, sementara kedelai asal Kanada membuntuti di angka Rp10.300. Kenaikan ini terjadi hampir setiap hari, membuat kalkulasi keuntungan perajin rontok seketika.

Menariknya, para perajin di Cibuntu mengambil sikap berani. Mereka menolak "menyunat" ukuran tahu. Mereka lebih memilih menaikkan harga jual daripada mengecilkan fisik tahu yang bisa mengecewakan pelanggan.

Baca Juga: Antara Hidup dan Mati di Kedalaman 10 Meter: Cerita Penyelamatan Nana dari Dasar Sumur Tua

“Lebih mudah menjelaskan kenaikan harga kepada pembeli daripada memperkecil ukuran. Yang penting kualitas tetap terjaga,” tambah Zamaludin. Sejauh ini, daya beli warga Bandung memang masih bertahan, namun sampai kapan?

Keadaan ini kian genting dengan adanya isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Jika harga BBM benar-benar meroket, para perajin sudah menyiapkan ancang-ancang untuk menaikkan harga hingga Rp65.000 per papan. Namun, ada batas kesabaran yang sedang diuji.

Sejarah mencatat, tiga tahun lalu sentra tahu Cibuntu pernah "mati suri" akibat aksi mogok produksi massal saat kedelai menyentuh angka Rp12.000 hingga Rp14.000 per kilogram. Kini, hantu mogok kerja itu kembali membayangi.

“Sekarang saja perajin sudah banyak yang merugi karena keuntungan berkurang drastis. Kalau nanti ditambah gas ikut naik dan kedelai makin mahal, potensi mogok kerja itu nyata ada,” tegas Zamaludin.

Artikel ini telah ditayangkan di website harapanrakyat.com media jaringan Suara.com dengan judul "Dampak Konflik Global, Harga Tahu di Cibuntu Kota Bandung Naik: Perajin Keluhkan Harga Kedelai dan Plastik"

Load More