Wakos Reza Gautama
Selasa, 31 Maret 2026 | 19:55 WIB
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kini mulai memberikan dampak ke sektor manufaktur plastik di kawasan Cibuntu, Kota Bandung, Jawa Barat. Saat ini, biaya produksi plastik naik hingga dua kali lipat. [harapanrakyat.com]
Baca 10 detik
  • Konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel menyebabkan kenaikan biaya produksi plastik di Kawasan Industri Cibuntu hingga dua kali lipat.
  • Harga biji plastik impor melonjak tajam dari kisaran normal Rp30.000–Rp40.000 menjadi lebih dari Rp50.000 per kilogram.
  • Kenaikan biaya bahan baku memaksa pabrik menaikkan harga jual, yang berujung pada penurunan volume pembelian oleh konsumen.

SuaraJabar.id - Kawasan industri Cibuntu, Kota Bandung, biasanya riuh dengan deru mesin yang stabil. Namun belakangan ini, suara mesin-mesin penghasil plastik itu seolah membawa nada kecemasan.

Ribuan kilometer dari Jawa Barat, dentuman konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel ternyata mengirimkan gelombang kejut yang mendarat tepat di dapur produksi para pengusaha lokal.

Efeknya instan dan menyakitkan. Biaya produksi manufaktur plastik di kawasan ini melonjak drastis hingga dua kali lipat.

Perang yang berkecamuk di Timur Tengah telah memutus urat nadi pasokan bahan baku utama mereka, yakni biji plastik impor.

Riska Surihartati, salah satu punggawa di sebuah pabrik plastik di Cibuntu, mengungkapkan betapa liarnya pergerakan harga bahan baku dalam waktu singkat.

"Harga biji plastik saat ini naik drastis. Sekarang sudah lebih dari Rp50.000, bahkan ada yang menyentuh angka Rp60.000 lebih per kilogramnya," ujar Riska dengan nada getir, Selasa (31/3/2026).

Padahal, dalam kondisi normal, harga biji plastik kualitas wahid tersebut hanya bertengger di kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000.

Lonjakan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan usaha. Kalkulasi operasional pabrik pun kini berubah menjadi horor bagi tim keuangan.

Biasanya, perusahaan hanya perlu merogoh kocek Rp40 juta untuk mendatangkan dua ton biji plastik impor sebagai modal produksi selama satu pekan. Kini, dengan volume yang sama, mereka harus menyetor dana hingga Rp80 juta.

Baca Juga: Berkah di Balik Hiruk Pikuk Idul Fitri: Ribuan Langkah Wisatawan Mempertebal Kantong PAD Ciamis

“Kenaikannya tepat dua kali lipat. Stok bahan baku juga mulai susah didapat karena kami bergantung pada biji plastik impor. Ini murni imbas perang Iran dan Amerika,” tambah Riska.

Di tengah himpitan harga, opsi menggunakan bahan daur ulang dari pemasok lokal sempat terlintas. Namun, solusi tersebut rupanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada harga yang harus dibayar untuk kualitas.

Biji plastik hasil gilingan plastik bekas (daur ulang) dinilai memiliki kualitas yang jauh di bawah standar orisinal.

Bagi pabrik yang menjaga reputasi produk, menggunakan bahan recycle yang berasal dari barang reject adalah sebuah perjudian besar.

“Kurang bagus kalau pakai yang recycle. Hasilnya tidak bisa bohong, kualitasnya lebih rendah. Kami lebih memilih mencari pemasok lain yang mungkin punya harga sedikit lebih miring, meski itu sulit,” jelasnya.

Ujung dari drama kenaikan bahan baku ini bermuara pada satu titik: konsumen. Tak ada pilihan lain bagi pabrik selain mengerek harga jual produk jadi ke pasar. Namun, langkah ini disambut dengan keluhan, bahkan penolakan.

Load More