- Konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel menyebabkan kenaikan biaya produksi plastik di Kawasan Industri Cibuntu hingga dua kali lipat.
- Harga biji plastik impor melonjak tajam dari kisaran normal Rp30.000–Rp40.000 menjadi lebih dari Rp50.000 per kilogram.
- Kenaikan biaya bahan baku memaksa pabrik menaikkan harga jual, yang berujung pada penurunan volume pembelian oleh konsumen.
SuaraJabar.id - Kawasan industri Cibuntu, Kota Bandung, biasanya riuh dengan deru mesin yang stabil. Namun belakangan ini, suara mesin-mesin penghasil plastik itu seolah membawa nada kecemasan.
Ribuan kilometer dari Jawa Barat, dentuman konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel ternyata mengirimkan gelombang kejut yang mendarat tepat di dapur produksi para pengusaha lokal.
Efeknya instan dan menyakitkan. Biaya produksi manufaktur plastik di kawasan ini melonjak drastis hingga dua kali lipat.
Perang yang berkecamuk di Timur Tengah telah memutus urat nadi pasokan bahan baku utama mereka, yakni biji plastik impor.
Riska Surihartati, salah satu punggawa di sebuah pabrik plastik di Cibuntu, mengungkapkan betapa liarnya pergerakan harga bahan baku dalam waktu singkat.
"Harga biji plastik saat ini naik drastis. Sekarang sudah lebih dari Rp50.000, bahkan ada yang menyentuh angka Rp60.000 lebih per kilogramnya," ujar Riska dengan nada getir, Selasa (31/3/2026).
Padahal, dalam kondisi normal, harga biji plastik kualitas wahid tersebut hanya bertengger di kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000.
Lonjakan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan usaha. Kalkulasi operasional pabrik pun kini berubah menjadi horor bagi tim keuangan.
Biasanya, perusahaan hanya perlu merogoh kocek Rp40 juta untuk mendatangkan dua ton biji plastik impor sebagai modal produksi selama satu pekan. Kini, dengan volume yang sama, mereka harus menyetor dana hingga Rp80 juta.
Baca Juga: Berkah di Balik Hiruk Pikuk Idul Fitri: Ribuan Langkah Wisatawan Mempertebal Kantong PAD Ciamis
“Kenaikannya tepat dua kali lipat. Stok bahan baku juga mulai susah didapat karena kami bergantung pada biji plastik impor. Ini murni imbas perang Iran dan Amerika,” tambah Riska.
Di tengah himpitan harga, opsi menggunakan bahan daur ulang dari pemasok lokal sempat terlintas. Namun, solusi tersebut rupanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada harga yang harus dibayar untuk kualitas.
Biji plastik hasil gilingan plastik bekas (daur ulang) dinilai memiliki kualitas yang jauh di bawah standar orisinal.
Bagi pabrik yang menjaga reputasi produk, menggunakan bahan recycle yang berasal dari barang reject adalah sebuah perjudian besar.
“Kurang bagus kalau pakai yang recycle. Hasilnya tidak bisa bohong, kualitasnya lebih rendah. Kami lebih memilih mencari pemasok lain yang mungkin punya harga sedikit lebih miring, meski itu sulit,” jelasnya.
Ujung dari drama kenaikan bahan baku ini bermuara pada satu titik: konsumen. Tak ada pilihan lain bagi pabrik selain mengerek harga jual produk jadi ke pasar. Namun, langkah ini disambut dengan keluhan, bahkan penolakan.
Berita Terkait
-
Berkah di Balik Hiruk Pikuk Idul Fitri: Ribuan Langkah Wisatawan Mempertebal Kantong PAD Ciamis
-
Oase di Balik Pagar Bandung Zoo: Saat Masalah Kesejahteraan Satwa dan Pegawai Ada Titik Terang
-
Gagal Kendali di Kecepatan Tinggi: Drama Kecelakaan Truk Air Mineral di Jalur Cimaragas
-
Menuju Wisata Pangandaran Kelas Dunia: Saat Hello dan Welcome Menjadi Kunci Masa Depan
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
Mobilitas Makin Fleksibel, BRI Infinite Prioritas Tawarkan Ekstra 27.000 GarudaMiles
-
Buntut Skandal Kamar Mewah, Bangunan Fasilitas Khusus di Lapas Cibinong Akhirnya Diratakan
-
Temuan Anyar Sidak DPR di Lapas Cibinong: Ada Bangunan Tanpa Izin dan Krisis Tenaga Kesehatan
-
13 Rumah Terdata Cuma 3 Milik Negara, DPR Soroti Ketimpangan Aset - Isu Jual Beli di Lapas Cibinong
-
Konflik Keluarga Berujung Kebakaran, Dua Rumah di Cianjur Ludes