Andi Ahmad S
Jum'at, 05 Juni 2026 | 00:05 WIB
Pemulung memilah sampah plastik di zona perluasan atau zona 5 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (16/7/2025). [ANTARA FOTO/Abdan Syakura/foc]
Baca 10 detik
  • Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat memprediksi TPA Sarimukti akan penuh dan tidak mampu menampung sampah pada Oktober 2026.
  • TPA Sarimukti mengalami penumpukan sampah yang sangat cepat akibat kegagalan pemadatan teknis dan volume harian mencapai 3.000 ton.
  • Pemerintah Jawa Barat mendesak pemerintah daerah Bandung Raya segera melakukan pengurangan sampah secara masif dari sumbernya masing-masing.

SuaraJabar.id - Wilayah Bandung Raya kini berada di bawah bayang-bayang krisis lingkungan yang serius. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat secara resmi mengeluarkan peringatan bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti terancam tidak lagi mampu menampung sampah dalam waktu dekat.

Kondisi ini menjadi "alarm" keras bagi pemerintah daerah di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Berikut adalah 6 fakta krusial yang merangkum kondisi darurat di TPA Sarimukti:

1. Prediksi Penuh pada Oktober 2026

Berdasarkan evaluasi terbaru dari DLH Jawa Barat, usia layanan TPA Sarimukti diperkirakan akan berakhir pada Oktober 2026.

Batas waktu ini jauh lebih cepat dari yang dibayangkan sebelumnya, mengingat volume kiriman sampah dari wilayah aglomerasi Bandung Raya yang terus membengkak tanpa henti.

2. Meloset dari Proyeksi Desain Awal (DED)

Kepala UPTD Pengelolaan Sampah TPA Regional DLH Jabar, Arief Perdana, mengungkapkan adanya ketimpangan antara teori dan realitas.

Awalnya, Detail Engineering Design (DED) perluasan kawasan dirancang untuk menampung 2 juta ton sampah dengan asumsi kiriman 3.000 ton per hari. Namun, dinamika di lapangan memaksa tim ahli melakukan hitung ulang yang hasilnya sangat mengkhawatirkan.

3. Masalah Fatal pada Proses Pemadatan "Landfill"

Baca Juga: Bandung Raya Siaga Satu! TPA Sarimukti Diprediksi Penuh Total Oktober 2026

Salah satu penyebab utama TPA cepat penuh adalah proses operasional yang tidak optimal. Secara teknis, meski kapasitas volume sampah mungkin baru menyentuh angka 30 hingga 40 persen, kondisi fisik di lapangan terlihat sudah sangat penuh.

Hal ini dikarenakan proses pemadatan sampah (landfill) tidak berjalan sesuai standar teknis, sehingga gundukan sampah memakan ruang lebih banyak.

4. Gagalnya Rencana Pembatasan 1.500 Ton Per Hari

Pemerintah Provinsi Jabar sebelumnya telah berupaya melakukan mitigasi dengan merencanakan pembatasan kiriman sampah maksimal 1.500 ton per hari agar TPA bisa bertahan hingga dua tahun ke depan.

Sayangnya, rencana ini sulit direalisasikan karena tingginya timbulan sampah di tingkat kota dan kabupaten yang tidak dibarengi dengan fasilitas pengolahan mandiri yang mumpuni.

5. Beban Berat Kiriman Sampah Harian

Load More