- KPAI menyoroti pembubaran paksa kegiatan perkemahan 70 anak Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Karanganyar oleh massa dan aparat.
- Tindakan intimidasi tersebut menyebabkan trauma psikologis mendalam bagi anak-anak akibat ancaman kekerasan serta kehadiran massa bersenjata tajam.
- KPAI mendesak aparat menjamin hak perlindungan anak serta melaporkan insiden diskriminatif ini kepada Presiden demi memutus rantai kebencian.
SuaraJabar.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti tajam insiden pembubaran paksa kegiatan perkemahan pemuda dan anak-anak Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) atau Kemping Humanity First di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah.
KPAI mendesak penghentian segala bentuk intimidasi yang menyasar anak-anak demi menjamin tumbuh kembang mereka yang sehat.
Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, menegaskan bahwa peristiwa tersebut harus dilihat murni dari perspektif pemenuhan hak anak, di mana keselamatan dan kondisi psikologis anak harus menjadi prioritas utama negara.
Berdasarkan laporan pendamping anak dari Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), terdapat sedikitnya 70 anak asal Manislor, Kuningan, Jawa Barat, yang mengikuti kegiatan tersebut di Solo.
Dialog dengan para korban mengungkap fakta adanya suasana mencekam selama pembubaran berlangsung.
“Anak-anak menceritakan segelintir orang datang dengan mengeluarkan kata-kata kasar, ada aksi pelemparan, hingga massa yang membawa senjata tajam. Bahkan, kehadiran aparat dengan senjata lengkap membuat mereka sangat ketakutan dan terpaksa bersembunyi di dalam tenda,” ungkap Jasra Putra dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
5 Poin Tanggapan dan Rekomendasi Strategis KPAI
Sebagai lembaga otoritas perlindungan anak (Authoritativeness), KPAI menyampaikan poin-poin krusial terkait insiden ini:
1. Tidak Ada Kewajiban Laporan Administrasi ke KPAI
Baca Juga: Jubir JAI Bongkar Detik-detik Pembubaran Perkemahan Pemuda Ahmadiyah
KPAI meluruskan bahwa kelompok masyarakat tidak wajib melaporkan kegiatan internal seperti kemping kepada KPAI secara administratif. Merujuk pada Perpres No. 61 Tahun 2016, tugas KPAI adalah melakukan pengawasan dan memberikan laporan langsung kepada Presiden jika terjadi pelanggaran hak anak di lapangan.
2. Hak Hidup Tanpa Stigma dan Diskriminasi
Negara menjamin setiap anak Indonesia untuk hidup bebas dari diskriminasi. Jasra menilai upaya menciptakan ketakutan di lokasi kemping adalah tindakan yang tidak layak. “Secara faktual, tidak ada situasi yang mengancam keamanan negara saat anak-anak ini berkemah. Penegak hukum seharusnya melindungi mereka, bukan justru membubarkan,” tegasnya.
3. Evaluasi Kebijakan yang Berdampak "Toxic" bagi Anak
KPAI menyoroti bahwa kebijakan seperti SKB 3 Menteri sering kali menjadi "toxic" saat implementasi liarnya di lapangan justru membenarkan perundungan terhadap anak. KPAI berkomitmen melaporkan praktik penegakan hukum yang serampangan ini langsung kepada Presiden agar tidak terulang kembali.
4. Memutus Rantai Pewarisan Kebencian
Berita Terkait
-
Jubir JAI Bongkar Detik-detik Pembubaran Perkemahan Pemuda Ahmadiyah
-
Kegiatan Perkemahan Pemuda Ahmadiyah Dibubarkan Polisi
-
Bukan Sekadar Ilustrasi Keluarga, Pakar Sebut Foto Bayi Aqua Adalah Bentuk Eksploitasi Komersial
-
Kemanusiaan di Atas Segalanya: Ahmadiyah dan Gusdurian Bersatu Demi Stok Darah Tasikmalaya
-
Surati Bupati Tasikmalaya, Koalisi Masyarakat Sipil Tuntut Perlindungan Jemaat Ahmadiyah
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer
-
Detik-Detik Menegangkan! Ibu Hamil Melahirkan di Kereta, Dokter Spesialis Kandungan Turun Tangan
-
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Kepuasan Publik 57,4 Persen, Lingkungan Jadi Sorotan
-
KPK Periksa Bupati Bogor soal Dugaan Korupsi di Lingkungan Pemkab
-
BRI Perkuat Inklusi Keuangan UMKM Lewat Empat Penghargaan Pada 2026