- Polisi membubarkan kegiatan perkemahan pemuda Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Karanganyar pada Jumat, 5 Juni 2026 akibat tekanan massa.
- Aparat membubarkan acara tanpa menunjukkan surat perintah tertulis yang sah saat melakukan negosiasi dengan pihak penyelenggara kegiatan.
- Peristiwa ini menghentikan kegiatan ratusan anak serta memicu kekhawatiran terkait perlindungan hak warga negara dalam berkumpul dan berserikat.
SuaraJabar.id - Sebuah insiden yang mencederai kebebasan berkumpul dan berserikat kembali terjadi di Karanganyar, Jawa Tengah.
Kegiatan perkemahan pemuda yang diselenggarakan oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dibubarkan oleh pihak kepolisian setelah mendapat tekanan dari massa aksi, Jumat (5/6/2026).
Langkah aparat keamanan ini memicu pertanyaan besar bagi publik, mengapa negara justru memilih membubarkan kegiatan warga yang sah secara hukum dibandingkan melindungi mereka dari intimidasi kelompok tertentu?
Juru Bicara dan Sekretaris Pers PB JAI, Yendra Budiana, mengungkapkan kejanggalan dalam proses pembubaran tersebut.
Menurutnya, saat proses negosiasi berlangsung, pihak kepolisian tidak mampu menunjukkan surat perintah tertulis sebagai landasan administratif untuk menghentikan kegiatan.
“Iya betul (dibubarkan), tapi kita belum tahu pihak yang membubarkannya ini siapa. Dalam negosiasi, kami minta suratnya dari kepolisian, tapi tidak ada surat tertulisnya,” ujar Yendra dihubungi SuaraJabar.
Data di lapangan menunjukkan bahwa polisi melakukan pembubaran setelah menghitung jumlah massa penolak yang mengatasnamakan Forum Ukhuwah Islamiah, yang jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 50 hingga 150 orang.
Yendra menjelaskan bahwa peserta perkemahan tersebut murni terdiri dari anak-anak dan remaja dengan jumlah di bawah 1.000 orang.
Mirisnya, hak ratusan anak untuk menikmati kegiatan luar ruang (camping) harus terhenti karena intervensi kelompok kecil.
Baca Juga: Kegiatan Perkemahan Pemuda Ahmadiyah Dibubarkan Polisi
“Kegiatannya tidak ada dakwah, itu murni kegiatan camping saja untuk anak-anak dan remaja. Harapan kita, seharusnya mereka mendapat perlindungan dan pengayoman dari kepolisian karena jumlah kelompok penekan itu tidak terlalu banyak,” tegas Yendra.
Pembubaran ini dipandang sebagai preseden buruk bagi iklim demokrasi di Indonesia. Yendra mempertanyakan konsistensi negara dalam melindungi warga negaranya.
Jika setiap kegiatan masyarakat yang normal harus dibubarkan hanya karena ada segelintir pihak yang tidak suka, maka keamanan hukum bagi rakyat menjadi terancam.
“Kenapa sebuah kegiatan warga negara yang diperbolehkan oleh negara, kalau ada pihak yang melakukan tekanan, justru kelompok yang mengganggu itu tidak dicegah? Kenapa kegiatannya yang harus bubar?,” tanya Yendra retoris.
Ia menyamakan analogi ini dengan sebuah sekolah, "Jika ada kelompok kecil yang tidak suka pada sekolah tersebut dan mendemo, apakah lantas sekolah tersebut harus dibubarkan," tanya dia kembali.
Saat ini JAI melakukan prioritas utama, yakni memastikan seluruh anak-anak dan remaja yang menjadi peserta perkemahan dapat kembali ke rumah masing-masing dengan selamat. Namun secara jangka panjang, kasus ini akan dikawal untuk memastikan integritas hukum di Indonesia.
Tag
Berita Terkait
-
Kegiatan Perkemahan Pemuda Ahmadiyah Dibubarkan Polisi
-
Sapi Kurban Asal Depok Mengamuk di Sukabumi, Kabur ke Hutan hingga Dikepung Warga
-
DPRD Minta Pemkot Bogor Gencarkan Sosialisasi PSEL Kayumanis Usai Ditolak Emak-emak
-
Diiringi Kereta Kencana, Mahkota Binokasih Akan Diarak Keliling 8 Kota di Jawa Barat
-
Usut Suap Lahan Tapos, KPK Cecar Pejabat MA Soal 'Jual Beli' Mutasi Hakim PN Depok
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Bandung Darurat Begal! Polisi Bolehkan Warga Melawan Pelaku di Jalanan, Ini Syaratnya
-
Berkas Perkara Rampung, Polda Jabar Segera Serahkan Taufik Hidayat ke Kejaksaan
-
Anak Kecanduan Gawai Picu Gagal Ginjal dan Diabetes, Dedi Mulyadi Beri Peringatan Keras
-
Sopir Truk Wing Box Jadi Tersangka Kecelakaan Maut Pantura yang Tewaskan 12 Pengantar Pengantin