Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 06 Maret 2026 | 15:51 WIB
Jemaah Muslim Ahmadiyah dan jaringan Gusdurian tengah mendonorkan darahnya dI Tasikmalaya, Jawa Barat. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Jemaah Muslim Ahmadiyah Tasikmalaya menyiapkan 5.000 relawan sebagai bank darah hidup untuk PMI setempat.
  • Inisiatif solidaritas kemanusiaan ini mendapat apresiasi hangat dari jaringan Gusdurian Tasikmalaya pada Jumat (7/3/2025).
  • Kolaborasi ini bertujuan menjamin ketersediaan darah bagi pasien serta menunjukkan persatuan melampaui sekat kelompok.

SuaraJabar.id - Sebuah pesan kuat tentang kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat kelompok datang dari Tasikmalaya. Di saat isu sektarian masih kerap menjadi pemantik perpecahan, Jemaah Muslim Ahmadiyah dan jaringan Gusdurian justru menunjukkan potret sebaliknya: bersatu dalam sebuah gerakan solidaritas untuk menyelamatkan nyawa sesama.

Aksi nyata ini diwujudkan melalui kesiapan 5.000 relawan dari Jemaah Ahmadiyah yang siaga menjadi 'bank darah hidup' untuk Palang Merah Indonesia (PMI) Tasikmalaya. Inisiatif ini sontak mendapat apresiasi hangat dari berbagai kalangan, termasuk dari para penggiat pluralisme Gusdurian.

Ketua DPD Ahmadiyah Tasikmalaya, Herisdiana, menegaskan bahwa gerakan ini adalah panggilan nurani dan wujud nyata dari pengabdian kepada masyarakat, tanpa memandang latar belakang apapun.

“Relawan kami disiagakan untuk membantu memenuhi kebutuhan darah di Tasikmalaya. Donor darah ini merupakan bagian dari nilai kemanusiaan dan pengabdian kepada sesama,” kata Herisdiana, Jumat (7/3/2025).

Ribuan relawan tersebut, yang tersebar di berbagai cabang Ahmadiyah, akan dikoordinasikan secara sistematis. Mereka tidak hanya akan berpartisipasi dalam acara donor darah rutin, tetapi juga siap dipanggil kapan pun saat PMI menghadapi kondisi darurat atau kekurangan stok darah kritis.

Pihak PMI Tasikmalaya menyambut inisiatif ini dengan tangan terbuka. Perwakilan PMI, dr. Inne, menyatakan bahwa kolaborasi strategis dengan komunitas seperti Ahmadiyah adalah kunci untuk menjaga stabilitas ketersediaan darah di wilayahnya.

“Kolaborasi dengan berbagai komunitas sangat penting. Dengan adanya relawan yang siap mendonorkan darahnya, ketersediaan darah bagi pasien yang membutuhkan bisa lebih terjamin,” ujarnya.

Gusdurian: Bukti Kemanusiaan Menyatukan Semua 

Dukungan dan apresiasi atas gerakan ini juga datang dari Koordinator Gusdurian Tasikmalaya, Zainda Usmana Aulia. Baginya, aksi donor darah yang digagas Jemaah Ahmadiyah merupakan contoh konkret bagaimana nilai-nilai kemanusiaan mampu menjadi jembatan pemersatu.

Baca Juga: Bye-bye Macet Limbangan! Target Tuntas Tol Cigatas Tembus Garut-Tasik 2027

“Gerakan seperti ini menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan bisa menyatukan siapa saja. Donor darah adalah aksi sederhana tetapi dampaknya sangat besar bagi keselamatan orang lain,” ungkap Zainda.

Ia melihat kolaborasi ini sebagai sebuah model ideal bagaimana seharusnya elemen masyarakat bergerak bersama untuk tujuan yang lebih besar, mengesampingkan perbedaan dan fokus pada titik temu, yaitu solidaritas.

Zainda berharap, langkah yang diinisiasi oleh Jemaah Ahmadiyah ini dapat menginspirasi lebih banyak kelompok dan komunitas di Tasikmalaya untuk terlibat aktif dalam gerakan kemanusiaan serupa. Program penyiagaan 5.000 relawan ini bukan hanya sekadar solusi praktis bagi PMI, tetapi juga menjadi simbol harapan bahwa persatuan dan kepedulian masih tumbuh subur di tengah masyarakat.

Load More