Andi Ahmad S
Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:28 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. [Rahman/SuaraJabar]
Baca 10 detik
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi PHK 178 buruh PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi pada Rabu, 5 Agustus 2026.
  • Dedi Mulyadi menyatakan bahwa industri garmen padat karya kerap berpindah lokasi ke daerah dengan biaya produksi yang lebih kompetitif.
  • Para buruh terdampak diimbau agar siap bergeser ke kawasan industri baru di Indramayu, Garut, dan Majalengka.

SuaraJabar.id - Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang menimpa 178 buruh PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi memantik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Merespons fenomena tersebut, Dedi mengimbau para pekerja untuk bersikap fleksibel dan siap berpindah daerah mengikuti pergeseran peta kawasan industri padat karya di Jawa Barat.

Mantan Bupati Purwakarta ini menilai, industri garmen memiliki karakter unik yang sangat dinamis dan tidak bersifat permanen seperti industri padat modal.

Sektor ini cenderung berpindah lokasi saat biaya produksi serta Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di lokasi lama tak lagi kompetitif.

"Garmen itu selalu problem. Sektornya biasanya padat karya. Perusahaan-perusahaan padat karya memang secara umum begitu (mudah berpindah)," ujar Dedi dilansir dari Antara, Rabu (5/8/2026).

Dedi memaparkan, pergerakan pabrik padat karya yang telah mencapai titik impas (break-even point/BEP) ke wilayah dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah merupakan siklus alami yang jamak terjadi di sektor industri garmen.

"Kalau dia sudah break-even point, kemudian ada tempat lain yang tenaga kerjanya lebih murah, biasanya pindah. Itu sudah terjadi di mana-mana. Jadi, mereka tidak membuat perusahaan ini permanen seperti industri padat modal. Kalau memang ada industri padat karya sektor garmen, ya harus berhati-hati bahwa dalam siklus sekian puluh tahun, dia pasti menutup," kata Dedi.

Meski demikian, Dedi menegaskan bahwa ketersediaan lapangan kerja di sektor garmen dan alas kaki di Jawa Barat sejatinya masih sangat melimpah, namun posisinya kini telah bergeser dari kawasan industri lama seperti Bandung, Karawang, Purwakarta, dan Bandung Barat menuju daerah pertumbuhan baru.

Guna menyiasati kondisi tersebut, ia mendorong para pekerja yang ingin bertahan di industri tekstil dan alas kaki agar fleksibel serta berani bergeser ke kabupaten penerima investasi baru seperti Indramayu, Garut, dan Majalengka.

Baca Juga: Dugaan Tramadol Dilindungi Oknum LSM di Cimahi, Dedi Mulyadi: Sikat Saja!

"Lapangan kerja baru juga banyak hari ini. Banyak sekali lapangan kerja terbuka di Jawa Barat. Hari ini industri-industri mulai tumbuh, kawasan industri mulai tumbuh. Rekrutmen untuk sektor sepatu, seperti di Indramayu, itu sangat banyak. Di Garut banyak, di Majalengka banyak. Memang daerahnya bergeser," ujarnya.

Oleh karena itu, Dedi mengimbau para pekerja terdampak untuk memanfaatkan peluang kerja skala besar yang tengah dibuka di kawasan sentra anyar tersebut.

"Mau tidak mau, yang bekerja di sektor garmen, kalau mau tetap bekerja di sektor itu, harus bergeser tempat ke kabupaten lain. Banyak. Di Majalengka, Indramayu, itu banyak. Indramayu membutuhkan puluhan ribu tenaga kerja untuk sektor industri sepatu, alas kaki, dan garmen," ucap Dedi.

Pernyataan tersebut disampaikan Dedi Mulyadi merespons pertanyaan terkait unggahan viral di media sosial yang memperlihatkan duka serta tangis haru para pekerja usai menghentikan operasional pabrik. Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi, sebanyak 178 pekerja resmi terdampak penghentian produksi perusahaan garmen PT Namnam Fashion Industries tersebut.

Load More