- Petani di Desa Ujungjaya, Sumedang, merasakan penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen pada Selasa, 19 Agustus 2026.
- Penurunan harga pupuk tersebut berhasil membantu petani menekan biaya produksi di tengah kenaikan tarif tenaga kerja pertanian.
- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Sumedang memperkuat efisiensi pemupukan dan pengawasan distribusi untuk menjaga pendapatan petani.
SuaraJabar.id - Petani padi di Desa Ujungjaya, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, merasakan penurunan harga pupuk sekitar 20 persen dibandingkan musim tanam sebelumnya.
Kondisi tersebut dinilai membantu petani menekan biaya produksi di tengah kenaikan sejumlah kebutuhan usaha tani.
Salah seorang petani, Solihin, mengatakan harga pupuk bersubsidi saat ini lebih terjangkau dan ketersediaannya relatif mudah diperoleh.
"Harga pupuk turun sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk ketersediaannya juga relatif mudah didapatkan," kata Solihin di Sumedang, Selasa (19/8/2026).
Menurut dia, harga pupuk NPK Phonska dan Urea yang sebelumnya mencapai Rp230.000 per kuintal kini turun menjadi sekitar Rp189.000 per kuintal.
Penurunan tersebut sejalan dengan penetapan harga eceran tertinggi (HET) terbaru pupuk bersubsidi. Harga pupuk Urea ditetapkan Rp1.800 per kilogram dari sebelumnya Rp2.250, sedangkan NPK Phonska turun dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram.
Selain itu, HET NPK Kakao turun dari Rp3.300 menjadi Rp2.640 per kilogram dan pupuk organik dari Rp800 menjadi Rp640 per kilogram.
Meski harga pupuk turun, Solihin mengatakan biaya produksi padi masih berada di kisaran Rp12 juta hingga Rp15 juta per hektare. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan biaya tenaga kerja, khususnya untuk kegiatan tanam, dari sekitar Rp60.000-Rp70.000 menjadi Rp100.000.
Namun, kenaikan biaya tersebut masih dapat diimbangi dengan harga gabah yang meningkat. Saat ini, harga gabah basah di tingkat petani mencapai sekitar Rp7.600 per kilogram.
Baca Juga: Maling Spesialis Hantui Petani Pamarican: Hanya Butuh Sejam, Tiga Mesin Traktor Raib Digasak
“Dengan harga pupuk yang lebih terjangkau dan ketersediaannya cukup, tentu membantu petani dalam memenuhi kebutuhan produksi,” ujarnya.
Penggunaan alat dan mesin pertanian juga dinilai membantu mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual, sehingga dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi.
Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumedang menyatakan terus memperkuat efisiensi penggunaan pupuk melalui pemetaan kondisi lahan dan penerapan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan wilayah.
Selain itu, ketepatan sasaran pupuk bersubsidi dilakukan melalui pemutakhiran data kebutuhan petani dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan e-RDKK serta pengawasan distribusi. Langkah tersebut diharapkan membantu menjaga ketersediaan pupuk dan pendapatan petani di tengah kenaikan biaya produksi.
[ANTARA]
Berita Terkait
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Survei LKPI: Gerindra 17,3 Persen, PSI Sentuh 4,3 Persen
-
Yusril Belum Terima Laporan Pesta Sabu di Rutan Depok, Siapkan Penertiban Lapas
-
Geger! Pegawai Rutan Depok Pesta Sabu dengan Warga Binaan
-
Polres Cianjur Ungkap Kasus Perdagangan Tiga Siswi SMA, Dua Pelaku Ditangkap
-
Kritik Pernyataan Denny Indrayana Soal Pendidikan Gibran, Grace Natalie: Jangan Bodohi Publik!