- Karsono, seorang lansia di Kota Banjar, protes karena status desilnya naik dari dua menjadi sembilan.
- Perubahan data desil tersebut dinilai tidak sesuai kenyataan karena ia hidup seorang diri tanpa aset dan pekerjaan.
- Akibat perubahan data tersebut, Karsono mengkhawatirkan keberlanjutan penerimaan Bantuan Pangan Non Tunai yang biasa ia peroleh.
SuaraJabar.id - Perubahan data desil atau peringkat kesejahteraan yang menjadi salah satu dasar penyaluran bantuan sosial (bansos) membuat sejumlah warga di Kota Banjar, Jawa Barat, mempertanyakan kesesuaiannya dengan kondisi mereka di lapangan.
Perubahan tersebut dirasakan salah satunya oleh Karsono (67), warga Lingkungan Tanjungsukur RT 4/14, Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman.
Lansia tersebut mengaku terkejut setelah mengetahui status desilnya berubah dari sebelumnya desil 2 menjadi desil 9.
Karsono menilai perubahan tersebut tidak menggambarkan kondisi kehidupannya saat ini. Ia mengaku tinggal seorang diri, tidak memiliki rumah pribadi, serta sudah tidak bekerja karena faktor usia.
Menurut Karsono, terdapat sejumlah informasi dalam data terbaru yang juga dinilainya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Salah satunya terkait kepemilikan aset dan tempat tinggal.
Dalam data tersebut, ia disebut memiliki aset berupa sepeda dan tinggal di rumah dengan lantai keramik. Padahal, rumah yang ditempatinya merupakan milik adiknya yang sedang berada di luar daerah.
"Saya cuma nempatin saja. Untuk aset, saya juga nggak punya. Tapi di data desil jadi punya aset sepeda," kata Karsono
Ia juga mengatakan sepeda yang tercantum dalam data bukan merupakan miliknya. Kondisi tersebut membuat Karsono berharap adanya pengecekan kembali terhadap data kesejahteraan warga agar sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Karsono mengaku perubahan status desil turut membuatnya khawatir terhadap keberlanjutan bantuan sosial yang selama ini diterimanya.
Baca Juga: Bank Mandiri Tanggap Bencana, Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Jawa Barat dan Banten
Ia mengatakan bantuan yang pernah diterimanya adalah Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Bantuan tersebut terakhir diterima pada Juni 2026.
"Terakhir dapat bulan Juni masih dapat bantuan BPNT. Kalau bantuan lansia dan lainnya nggak ada, dari dulu juga nggak pernah dapat. Cuma yang BPNT saja," ungkap dia melansir Harapanrakyat--jaringan Suara.com, Selasa (25/8/2026).
Karsono berharap perubahan data tersebut tidak serta-merta membuat warga yang masih membutuhkan justru kehilangan akses terhadap bantuan. Menurut dia, kondisi ekonomi warga perlu dilihat kembali secara langsung agar data yang digunakan benar-benar menggambarkan keadaan masyarakat.
Perubahan desil sendiri menjadi perhatian karena data tersebut berkaitan dengan pemetaan tingkat kesejahteraan masyarakat dan menjadi salah satu dasar dalam penyaluran program bantuan. Karena itu, akurasi data menjadi penting agar bantuan dapat diberikan kepada warga yang memang membutuhkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Terkini
-
Jangan Lewatkan, TPJF 2026 di Bandung Bakal Tampilkan Deretan Kolaborasi Ekslusif
-
Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa
-
Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar
-
Eks TA DPR Adi Harnowo Bantah Terlibat Penjualan Pita Cukai Palsu
-
Bermodus COD, Polisi Sita 1.241 Butir Obat Keras Ilegal di Bekasi