Andi Ahmad S
Jum'at, 11 September 2026 | 19:50 WIB
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi-Peminatan Vaskular Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Emanoel Oepangat [SuaraJabar/HO/Siloam]
Baca 10 detik
  • Insufisiensi vena kronis adalah gangguan pembuluh darah yang menyebabkan kaki bengkak, nyeri, dan perubahan kulit akibat katup vena gagal mengalirkan darah secara optimal.
  • Dr. Emanoel Oepangat di Siloam Hospitals TB Simatupang menjelaskan bahwa diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan ultrasonografi dupleks.
  • Prosedur Endovenous Laser Ablation atau EVLA dan perubahan gaya hidup menjadi pilihan penanganan medis bagi pasien insufisiensi vena kronis yang memenuhi indikasi.

SuaraJabar.id - Kaki terasa berat, nyeri atau bengkak setelah terlalu lama berdiri maupun duduk sering kali dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan pada pembuluh darah balik atau vena yang dikenal sebagai chronic venous insufficiency (CVI) atau insufisiensi vena kronis.

Insufisiensi vena kronis merupakan gangguan ketika pembuluh darah vena pada tungkai tidak mampu mengalirkan darah kembali ke jantung secara optimal.

Kondisi ini umumnya berkaitan dengan gangguan fungsi katup vena yang seharusnya membantu menjaga aliran darah tetap bergerak ke arah jantung.

Ketika katup vena tidak bekerja dengan baik, darah dapat tertahan di tungkai sehingga tekanan di dalam vena meningkat.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari rasa tidak nyaman hingga perubahan pada kulit dan luka yang sulit sembuh.

Insufisiensi vena kronis dapat ditemukan pada sekitar 5–30 persen populasi dewasa dan kejadiannya cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi-Peminatan Vaskular Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Emanoel Oepangat, mengatakan varises memang dapat menjadi salah satu tanda awal gangguan vena, tetapi keberadaan varises tidak otomatis berarti seseorang mengalami CVI.

“Insufisiensi vena kronis termasuk penyakit vaskular yang pada sebagian penderita dapat menimbulkan gangguan dan ketidaknyamanan. Varises dapat menjadi tanda awal atau gejala fisik dari CVI. Namun, yang perlu dinilai bukan hanya tampilannya,” kata dr. Emanoel.

Menurutnya, pemeriksaan perlu melihat apakah terdapat gangguan aliran balik vena, apakah pasien mengalami keluhan, serta apakah sudah terjadi perubahan pada kulit.

Baca Juga: Waspada Abu Vulkanik! Pakar Paru UI Imbau Warga Lakukan Langkah Perlindungan Ini

“Tidak semua orang yang memiliki varises pasti mengalami CVI. Namun, jika varises dibiarkan dan kerusakan katup vena semakin parah, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi CVI, yang ditandai dengan kaki bengkak parah, nyeri kronis, perubahan warna kulit, hingga luka atau ulkus,” ujarnya.

Risiko insufisiensi vena kronis dapat meningkat pada sejumlah kondisi, antara lain pertambahan usia, riwayat keluarga, kehamilan, berat badan berlebih, serta kebiasaan duduk atau berdiri dalam waktu lama.

Keluhan yang muncul juga beragam. Selain vena yang tampak menonjol, penderita dapat mengalami kaki terasa berat atau nyeri, pembengkakan terutama setelah berdiri lama, hingga rasa gatal.

Pada kondisi yang lebih lanjut, dapat terjadi perubahan warna dan tekstur kulit, bahkan muncul luka vena yang umumnya berada di sekitar pergelangan kaki.

Meski demikian, bengkak pada tungkai tidak selalu disebabkan oleh gangguan vena. Penyakit jantung, ginjal, hati, gangguan sistem limfatik hingga trombosis vena juga dapat menyebabkan pembengkakan sehingga diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab yang tepat.

Karena itu, diagnosis tidak cukup hanya berdasarkan kondisi yang terlihat dari luar. Penilaian pasien dilakukan melalui gejala, pemeriksaan klinis, serta ultrasonografi dupleks untuk melihat aliran darah, mendeteksi refluks, sekaligus memetakan vena yang mengalami masalah.

Load More