Suasana sakral seketika berubah menjadi tegang ketika Sri memeragakan jurus dan pusaka yang baru saja diwarisinya. Ia bertarung melawan tiga pendekar laki-laki di Gua Pawon.
Dengan jurus dan pusaka itu, pendekar perempuan asal Lembang itupun bisa menumbangkan ketiga pendekar. Pertanda ia layak untuk menerima warisan budaya tersebut.
"Iya perasaan saya tentunya senang, bahagia. Apalagi baru kali ini menggunakan 4 senjata," ujar Sri.
Dunia pencak silat bukan hal baru baginya. Sri sudah mengenalnya sejak duduk di bangku sekolah dasar, hingga akhirnya digembleng orang tuanya yang memang sudah lama berkecimpung di dunia persilatan.
Baca Juga:Dear Mahasiswa ITB, Siap-Siap Ngampus Lagi Semester Ini
Sesepuh Sunda, Nanu Munajar Dahlan alias Abah Nanu mengatakan, dari sekian keratuan, yang bisa diaktualisasikan pada saat ini dalam gerakan pencak silat, baru sobrah, cucuk konde dan Karembong.
Penggagas gerak silat menggunakan pusaka tersebut almarhumah Hj. Enni, salah satu seniman Sunda. Pada suatu saat almarhumah Hj. Enni tampil di Negara Singapura dengan menggunakan perkakas itu.
Saat tampil, mendiang lupa gak membawa perlengkapan senjata seperti biasanya. Lantas, Hj. Enni pun menggunakan sobrah, tusuk konde dan selendang sebagai pengganti pusakanya.
"Saat mau ngibing, beliau lupa tidak bawa senjata seperti biasanya. Itu gak sekedar jurus, tapi harus ada spiritualnya," ucap Abah Nanu.
Baca Juga:Hajar Kepala Perwira Polisi Pakai Balok, Panglima XTC: Saya Mabuk Tramadol