alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sopir Ambulans di Cimahi: Air Mata Menetes Saat Pasien COVID-19 yang Dibawa Meninggal

Budi Arista Romadhoni Minggu, 25 Juli 2021 | 13:05 WIB

Sopir Ambulans di Cimahi: Air Mata Menetes Saat Pasien COVID-19 yang Dibawa Meninggal
Asep Muhamad Rahman Soleh (39), Sopir Ambulan Pembawa Ratusan Pasien Covid-19 di Kota Cimahi. [Istimewa]

Kisah haru sopir Ambulan di Cimahi, air matanya menetes saat pasien Covid-19 yang ia bawa meninggal

Asep sendiri punya pengalaman aneh ketika membawa pasien, namun hatinya tak mendukukung. Kondisi itu dialaminya ketika awal menjadi sopir ambulan. Hatinya selalu berontak membawa pasien.

Selalu saja ada kejadian yang janggal. Seperti ban selalu bocor, terkadang lampu kendaraan menyala sendiri hingga mobil yang dibawanya terasa lebih berat dari  jasanya.

"Setelah kejadian itu, saya niat bawa pasien ini untuk ibadah. Makannya sekarang mau malam atau subuh juga saya Insya Alloh siap merujuk," sebut Asep.

Ia sendiri pertama kali menjadi sopir ambulan tahun 2011 ketika ada informasi lowongan di Dinas Kesehatan Kota Cimahi. Ia ditugasi menjadi sopir ambulan di Puskesmas Padasuka. Ia berstatus Tenaga Harian Lepas (THL).

Baca Juga: Kasus Positif Covid-19 di Sumut Bertambah 1.276 dalam Sehari

Asep pun harus beradaptasi dengan mobil ambulan, yang tentunya memiliki adrenalin berbeda dengan kendaraan biasa. Awalnya ia gugup, sebab nyawa pasien seolah berasa dibawah kendalinya saat pertama kali merujuk.

"Pertama merujuk, deg-degan serba bingung soalnya nyawa pasien ada di kendali saya. Begitu yang ada diingatan saya. Kalau saterusnya biasa aja seperti membawa mobil biasa," ungkap Asep.

Kemudian tahun 2012, Asep sempat ditarik ke Dinas Kesehatan yang merangkap menajdi sopir Sekretaris Dinas Kesehatan saat itu. Tahun 2020 ia ditugaskan lagi di Puskesmas Cipageran dan bertahan hingga saat ini.

Beberapa saat berada di Puskesmas Cipageran, ia pun langsung dihadapkan dengan pandemi COVID-19. Sudah ada ratusan pasien COVID-19 yang ia tujuk ke berbagai rumah sakit rujukan maupun pusat isolasi lainnya.

Berbagai kondisi pasien Asep temukan. Dari mulai yang ringan sampai terparah, seperti yang mengalir gejala sesak nafas hingga berjalan pun harus dibopong. Air matanya pun sempat menetes ketika ia menyaksikan pasien yang dibawanya meninggal dunia.

Baca Juga: Selama PPKM Darurat, 327 Nakes di Kota Tangerang Terpapar Covid-19

"Waktu itu, begitu sampai IGD sudah serah terima, pasien meninggal. Belum sempat mendapat tindakan dari rumah sakit, keburu meninggal," beber Asep.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait