Jerit Produsen Tempe Cimahi di Tengah Harga Kedelai yang Meroket: Naikkan Harga, Pembeli Kabur

"Omzet jelas berkurang, bisa sampai 30 persen. Jadi mau gak mau saya naikin harga," ucapnya.

Galih Prasetyo
Kamis, 29 September 2022 | 14:36 WIB
Jerit Produsen Tempe Cimahi di Tengah Harga Kedelai yang Meroket: Naikkan Harga, Pembeli Kabur
Perajin Tempe Asal Jalan Margaluyu, RT 07/02, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi (Suara.com/Ferry Bangkit)

SuaraJabar.id - Kenaikan harga kedelai dalam sebulan terakhir membuat para perajin tempe harus memutar otak agar tidak merugi. Termasuk di Kota Cimahi.

Jika harus menaikkan harga secara drastis, mereka khawatir produknya tak laku di pasaran. Namun jika tidak menaikkan harga, bisa dipastikan mereka akan merugi.

Kusnanto (54) salah seorang produsen tempe asal Jalan Margaluyu, RT 07/02, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi menuturkan, ia memilih untuk menaikan harga jual ke konsumennya agar tidak terlalu merugi.

"Kalau saya terpaksa naikin harga, meskipun hanya Rp 500. Misalnya yang semula saya jual Rp 7.000, naik jadi 7.500," tutur Kusnanto kepada Suara.com pada Kamis (29/9/2022).

Baca Juga:Tenang! Kedelai Lokal untuk Bahan Baku Tahu dan Tempe di Kudus Mulai Tersedia

Ia terpaksa menaikan harga jual tempe sebab jika tidak, omzet yang didapatnya akan terus menurun dan berujung pada kerugian. "Omzet jelas berkurang, bisa sampai 30 persen. Jadi mau gak mau saya naikin harga," ucapnya.

Ia sadar betul kenaikan harga tempe ini akan mendapat komplain dari pelanggannya. Namun menurutnya menaikan harga adalah pilihan terbaik saat ini dibandingkan harus memangkas ukuran tempe lebih kecil lagi.

"Pembeli udah tau harga naik, mereka memaklumi. Kalau saya kecilin ukurannya, nanti kualitasnya malah jelek. Kan pembeli malah kecewa nantinya," kata dia.

Kusnanto mengungkapkan, kenaikan harga kedelai saat ini membuat para produsen tempe dalam situasi yang sulit. Apalagi kenaikan harga kedelai ini menurutnya terus terjadi setiap tahun.

Saat ini harga kedelai mencapai Rp 12.700 per kilogram. Kondisi tersebut terjadi usai subsidi harga kedelai dicabut oleh pemerintah pusat.

Baca Juga:Untuk Menyiasati Kedelai Mahal, Pedagang Menaikkan Harga Tahu

"Awal September itu kedelai sudah mulai naik. Waktu pas ada subsidi itu harganya Rp 11.100 per kilogram. Jadi kondisi kita itu ibaratkan sulit bernafas, tapi harus terus dijalani," sebut Kusnanto.

Selain karena pelemahan rupiah terhadap dolar, ungkap dia, gejolak harga kedelai yang kerap terjadi dikarenakan ketiadaan stok nasional yang sebelumnya dipegang oleh Perum Bulog dan hampir 100 persen mengandalkan impor.

Untuk itu, dirinya meminta pemerintah mengutus Perum Bulog untuk memegang kembali ketersediaan kedelai di tanah air.

"Jadi Bulog harus turun lagi, kuasai lagi sembako termasuk kedelai ini seprti dulu," ujarnya.

Kontributor : Ferrye Bangkit Rizki

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak