Lebih lanjut Ganjar mengungkapkan, ketika monyet ekor panjang memasuki permukiman, warga diimbau agar tidak mengganggu, menyudutkan, atau memberi makan mereka.
Hal ini menurutnya dilakukan, agar gerombolan monyet ekor panjang tersebut tidak mengalami perubahan perilaku yang mengancam manusia.
"Jika diberi makanan, monyet bisa jadi tidak takut lagi kepada manusia. Bahkan sebaliknya meminta-minta makanan hingga pergeseran perilaku seperti 'mencuri'. Misalnya, ketika ada warga yang membawa tentengan, mereka mengejar karena mengira itu makanan," ujarnya.
"Meski mereka primata arboreal (primata yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas pepohonan), mereka pun bisa juga berpindah di atas tanah bahkan bisa juga berenang. Karena itu, jika diberi ruang seperti diberi makan, diganggu, dan disudutkan, khawatirnya akan mengubah perilakunya sehingga lebih mengancam manusia," tuturnya.
Baca Juga:Rekapitulasi di Jabar Sudah Lebih 50 Persen, Suara Komeng Masih Ungguli Ganjar-Mahfud
Ganjar menuturkan, ketika hewan tersebut tidak menemukan kondisi ideal untuk tinggal di perkotaan, maka mereka bakal kembali lagi ke tempat asalnya.
"Karena secara alami mereka tinggalnya di sana, tidak di sini (permukiman warga)," ungkapnya.
Terkait penyebab pastinya, Ganjar mengatakan perlu dilakukan pengecekan langsung. Selain itu, pihaknya sudah berdiskusi dengan pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.
"Jika terjadi situasi yang mengancam, diimbau warga agar melaporkan hal tersebut kepada pihak terkait, salah satunya BBKSDA Jabar, untuk dapat ditangani," tegasnya.
Kontributor : Rahman
Baca Juga:Tragis! Mau Lulus SMA, Revi Wafat Usai Jadi Petugas KPPS: Sempat Mandi Langsung ke Sekolah